Hanya Bisa Tertawa…

Awal perkenalan mereka dimulai saat mereka berada di kelas yang sama, waktu dulu masih kuliah.

Namun penuh sesaknya kelas dengan mahasiswa di kelas itu, menyebabkan mereka lebih sering memilih berada di kantin kampus saat kuliah berlangsung, daripada berada di dalam kelas yang terasa panas, walaupun dengan hembusan penyejuk udara. Perbincangan mereka hanya sebatas pada saat itu. Hanya saat mata kuliah itu. Selebihnya mereka hanya saling menegur sapa, jika berpapasan di luar kelas.

Mata kuliah itu pun berhasil mereka selesaikan, dan lulus, dan mereka pun berpisah.

Hingga akhirnya beberapa semester kemudian, mereka kembali bertemu. Kembali berada di kelas yang sama, bahkan kali ini mereka tergabung dalam sebuah kelompok yang sama untuk pengerjaan tugas-tugas mata kuliah tersebut, untuk satu semester. Banyak cerita yang terbagi di antara mereka, dari cerita kuliah sampai urusan di luar kuliah.

Sama seperti kelas yang dulu, setelah mereka lulus, mereka kembali jarang berinteraksi. Ditambah dengan semakin sedikitnya kuliah yang mereka ambil, mereka menjadi semakin jarang bertemu di kampus. Paling sesekali saat mereka kebetulan di kampus dan bertemu di ruang senat, mereka baru saling menyempatkan diri mengobrol.

Tak tahu mengapa mereka berdua semakin dekat dengan sendirinya. Perbincangan demi perbincangan pun akhirnya mereka lakukan, walau saat-saat itu lebih sering dilakukan di dunia maya. Melalui salah satu media jejaring sosial dan ruang mengobrol di salah satu situs ternama.

Beberapa waktu tak bertemu, akhirnya mereka beberapa kali bertemu secara fisik, saat Lintang meminta tolong Rianna dalam pengerjaan tugas akhirnya. Hanya beberapa kali. Dan mereka kemudian kembali berpisah. Dan bertemu lagi di dunia maya.

Tak tahu mengapa tiba-tiba Lintang bertanya pada temannya itu, saat mereka mengobrol…

“Ri, elo masih ngga siy sama pacar loe?”

“Kenapa emang? Ya bukan berarti kita berdua jarang banget bertemu terus bubar Tang. Kok elo bisa nanya gitu ama gue?”

“Ga, gue curiga aja ada yang ga beres sama elo. Elo gitu Ri, super ambisius, dan sekarang elo santai abis gitu kuliah.”

“Ga ada apa-apa kok, lagi pula gue juga udah ga ada kuliah gitu, ngapain juga ngampus.”

“Iye, tapi khan elo belom lulus juga.”

“Yah, ntar khan juga lulus.”

Dan beberapa bulan kemudian, ada sesuatu hal yang harus dilakukan oleh Riri. Mencari seseorang untuk…

“Tang, iya, gue dah ga sama pacar gue.”

“Tuh ‘kan, ga mungkin elo sesantai ini kalo ga ada apa-apa.”

“Sotoy loe, Nyet!”

“Tapi bener ‘kan perasaan gue!”

Tak tahu mengapa Riri akhirnya memutuskan untuk menceritakan hal itu pada Lintang. Semua karena intuisi Riri yang mengatakan demikian. Lintanglah yang bisa ia percaya untuk menumpahkan isi rasanya, yang tak lagi tahan ia simpan sendiri.

Hari pun berlalu setelah perbincangan mereka berdua. Lintang sudah berhasil menyelesaikan kuliahnya tak lama dari perbincangan mereka di telepon saat itu, sedangkan Riri masih berstatus mahasiswa.

Kembali mereka menghilang dari kehidupan nyata. Sama-sama hanya bertemu dalam kecanggihan dunia maya. Dan saat mereka mengobrol di sana…

“Ri, kenapa shout out loe gitu ya?”

“Yang mana?”

“Status loe yang sekarang?! Lagi kangen sama sapa loe?”

“Mau tau aja loe!”

“Elo dah punya pacar baru ya?”

“Belom. Tapi gitu lah. Ga tau gue. Bingung.”

“Haaa…elo lagi deket sama seseorang ‘kan?”

“Kucing loe emang. Ntar lah gue ceritain!”

Dan dalam perbincangan selanjutnya…

“Woi Ri, pasti dah punya pacar ‘kan loe?”

“Kesel deh gue sama elo. Tanya kayak teror!”

“Dah ngaku aja, Nyet!”

“Iya. Gue akhirnya mengiyakan ajakan untuk jadi pacarnya.”

“Siapa siy.”

“Ada deh. Susah jelasinnya, panjang. Percuma loe kagak kenal juga.”

“Dapet di mana, cepet amat?”

“Stok lama lah, alias temen lama gue. Hahahaha.”

“Tapi sama ‘kan?”

“Hmmm, sama-sama kesepian sepertinya, lagi sama-sama nenggak obat.”

“Terus sama ga?”

“Dibilangin iya itu sama-sama gilanya juga.”

“Agama sama ga?”

“Sama-sama 1 Tuhan kok.”

“Haaallaaagghhh, ya udah gue cuman bisa bilang, loe dulu dah pernah kayak gitu. Tau sakitnya kayak apa, tau resikonya pulakh.”

“Iya Tang, gue tau, tapi gimana dounks, otak sama hati ga bisa sinkron.”

Setelah perbincangan itu, mereka malahan tak lagi sering bertukar cerita. Keduanya sudah disibukkan dengan kegiatan masing-masing.

Namun tak tahu mengapa di tengah-tengah kesibukan Riri menyelesaikan tugas akhirnya, ia sempatkan diri melihat profil temannya yang satu itu, di situs jejaring sosial yang sangat ternama saat ini.

“Hmmm, dah punya pacar niy bocah.”

Heran mengapa pikiran itu tiba-tiba muncul di pikiran Riri. Padahal di dalam profil Lintang, tak tertera sedikit pun informasi atau gambar yang menunjukkan Lintang sudah mempunyai pacar.

Kembali intuisi itu bicara. Dan kemudian Riri pun meninggalkan pesan di profil temannya itu…

“Tang, Tang, Tang…pa kabar loe? Dah punya pacar ya? Cerita dong!”

Tak ada balasan selama berhari-hari dari Lintang. Dan ternyata kegiatan mereka semakin membuat mereka berdua hilang ditelan bumi.

Sampai hari itu, saat Riri sedang berlari terburu-buru, terdengar suara Lintang dari dalam senat, yang saat itu dilalui Riri…

“Ri…”

“Bentar, gue buru-buru, ntar gue ke situ, jangan kabur dulu loe.”

Beberapa jam kemudian, Riri pun menghampiri Lintang di depan senat.

“Aku merindumu. Pa kabar?”

“Dari mana siy loe? Skripsi dah beres ‘kan?”

“Udah, sidang dong gue bulan ini. Gue abis nyerahin syarat-syarat ijazah itu, Nyet.”

“Terus pacar pa kabar?”

“Baik, kemaren baru ketemuan.”

“Cie. Ntar sidang ditungguin dong.”

“Ngapain? Kagak usah, malah bikin gue stress. Lagi pula ga mungkin juga kale. Sibuk. Terus pacar loe? Kok elo ga jawab pertanyaan gue sih?”

“Engg..”

Riri tahu persis Lintang tak pernah bisa berbohong. Ia akan memilih diam, daripada berbohong.

“Sini-sini Ri. Duduk.”

Dan mereka berdua pun duduk berhadapan. Di kursi panjang itu.

“Iya, gue dah punya pacar juga.”

“Huaaa, bener juga ‘kan gue? Anak mana?”

“Dulu anak sini.”

“Ooooo.”

Dan mereka pun melanjutkan perbincangan mereka selama lebih dari satu jam. Dari perbincangan mereka berdua, timbullah sebuah pertanyaan di benak Riri…

“Eh, terus sama?”

“Sama apanya?”

“Sama-sama ke Masjid?”

“Sama-sama 1 Tuhan”

“Huaaaahhahahahahaha. Welcome to the club. Loe ‘kan dah dapet contoh dari gue. Kurang apa coba?”

“Ketawa aja lah gue.”

“Ya udah, sama-sama ketawa aja kita yak.”

—-

Dua perempuan dalam balutan persahabatan, yang dihiasi intuisi canggih, yang mampu membuat mereka mendapatkan jawaban atas rasa penasaran.

Dua perempuan yang sama-sama merelakan diri dalam rasa sakit.

Dua perempuan yang lebih mementingkan hati daripada logika.

Dua perempuan yang tertawa dalam perihnya sakit kelak, yang akan ditentukan oleh detik jam.

Tags:

Leave a Reply