Maaf…

Terinspirasi oleh salah satu profil temanku di situs jejaring Facebook yang mengubah pengaturan profilnya, maka aku pun merasakan hal itu sebagai suatu ide yang bagus. Tentu pengaturan itu aku sesuaikan dengan kebutuhanku, termasuk urusan privasi pribadiku. Sebenarnya hal ini sudah aku pikirkan lama, sebelum aku lakukan beberapa hari lalu.

Dengan bertambahnya jumlah teman yang terdaftar dalam daftar teman di profilku itu, dan juga atas pertimbangan bahwa sepertinya aku sudah terlalu jauh melangkah, membiarkan banyak manusia di luar sana mengetahui keberadaan dan duniaku, maka mulai dua hari lalu aku memutuskan untuk kembali mengadakan pemeriksaan dan pengaturan ulang untuk semua profilku yang bertebaran di dunia maya.

Dimulai dengan profil Facebook. Situs yang aku jajaki sejak September 2007 ini memang membuatku memiliki banyak cerita.

Mengutip omongan temannya temanku, bahwa situs ini akan mempertemukan kembali mereka yang sudah bertahun-tahun tak ketahuan rimbanya, termasuk teman lama dan mantan-(mantan) pacar. Dan aku tambahkan, bisa mempertemukanmu dengan teman lamamu yang bisa dijadikan pacar. Semuanya itu benar. Facebook membuatmu berbunga, membuatmu menangis, membuatmu bisa mengais-ngais aspal (“Semuanya sudah pernah aku rasakan. Trust me!”).

Dari segala rasa yang pernah aku alami, maka beberapa bulan lalu, aku mengadakan sedikit perubahan terhadap profilku ini, yaitu dengan memasukkan beberapa nama temanku ke dalam daftar orang-orang yang aku tidak ingin tahu informasi terbaru tentang mereka. Biarlah mereka hanya ada di daftarku, namun aku tak perlu mengetahui apa yang terbaru tentang mereka. Malas dan sekali lagi biarlah!

Semenjak profil Facebook-ku ini di buat, hingga kira-kira bulan Januari lalu, aku masih membiarkan profilku itu bisa dilihat oleh mereka yang berada di level ke-2, yaitu teman-temannya teman-temanku. Namun, aku menjadi terganggu dengan banyaknya permintaan dari mereka yang tidak aku kenal, bahkan sama sekali tidak meninggalkan pesan apapun atas permintaan mereka itu. Dilematik antara terima atau tidak, tergantung apakah malaikat atau setan yang sedang mendatangi Ocha. Ada tiga pilihan yang bisa aku pilih, menerima, menolak atau aku biarkan saja permintaan itu tak aku gubris.

Merasa terganggu secara berlebihan, akhirnya pengaturan profil itu benar-benar aku ubah. Semua profilku hanya bisa dilihat oleh teman-temanku.

Namun langkahku memang sudah terlalu jauh untuk keluar dari “dunia”ku sendiri. Cukup, aku biarkan mereka terlalu banyak mengenalku atau membiarkanku lebih dikenal dunia lain.

Jadi akhirnya beberapa hari lalu, tampilan profilku itu banyak yang aku ubah. Beberapa aplikasi dan informasi ada yang aku hilangkan, ada yang aku sembunyikan. Penulisan wall yang aku lakukan kepada teman-temanku dan perubahan-perubahan yang aku lakukan terhadap informasi apapun di profilku, apalagi perubahan status relasi, tidak akan diinformasikan ke dalam news feed teman-temanku. Ada beberapa informasi yang aku atur agar tak bisa diketahui oleh siapa pun termasuk teman-temanku sendiri. Album foto yang aku buat, juga hanya untuk konsumsi mereka yang masuk dalam daftar teman-temanku. Dan mulai 2 hari lalu, tidak ada seorang pun yang bisa menuliskan apapun di wall-ku. Mengingat tak setiap saat aku bisa terhubung dengan situs ini, dan untuk menghindari informasi-informasi yang tak seharusnya tertulis di sana. Jadi mulai sekarang, jika ingin menuliskan sesuatu untukku, silakan tinggalkan pesan di kotak surat masuk milikku (“Masih bisa kok.”)

Pengaturan berikutnya, adalah terhadap si Introverto ini. Merasa sedikit beruntung, karena pengaturan terhadap semua blog yang aku kelola sudah aku pertimbangkan semenjak aku membuatnya. Apalagi untuk moderasi komentar dari mereka yang membacanya. Aku tak ingin lebih menyakiti orang-orang di luar sana, orang-orang yang aku sayangi, yang aku cintai. Biarlah aku yang pertama kali mengetahui komentar-komentar yang dituliskan para pembaca. Biarlah aku yang pertama kali tersakiti, karena aku adalah penulisnya.

Anonimitas ataupun penggunaan nama aseli dalam blog ini, tentu sudah aku pertimbangkan masak-masak saat aku menulis. Memang ada beberapa tulisan yang aku tulis dengan nama aseli mereka. Alasan pertama, karena menurutku cerita tersebut tidak ada yang perlu dirahasiakan, atau memang orang lain memerlukan informasi yang aku tulis, dan terutama (menurutku) tidak akan ada yang tersakiti, karena begitulah adanya, sesuai kenyataan. Apabila memang cerita tersebut perlu kerahasiaan, atau aku tak mendapatkan izin menuliskan nama aseli, atau aku rasa ada yang akan tersakiti, ya jelas nama aseli, bahkan detil ceritanya, tidak aku tuliskan secara eksplisit di dalam tulisanku. Manusia dari kalangan introversi, cukup hebat menuliskan apapun dalam bentuk implisit, ditambah sedikit banyak aku cukup terdidik untuk melakukan reverse psychology. Tak percuma lah, bergaul dengan mentor-mentor ajaibku, dari 8 tahun yang lalu.

“Hei, kalian manusia-manusia ajaib nan “brengsek” yang menjadi mentor-mentorku, ma kasih ya. Kalian mengagumkan tak terbantahkan, tak tertandingi. Love you all, unconditional! Cinta mati.” (“Ini jelas perlu anonimitas. Ntar ada sakit hati, cemburu, marah? Repot ah! Hahahaha”)

Terakhir (mungkin), adalah profil di Friendster, yang sudah jarang aku buka. Profilku ini sudah lama memang tertutup untuk mereka yang bukan teman-temanku di Friendster, dan juga tentang pengaturan moderasi komentar untuk blog yang aku miliki di sana. Dan sekarang, aku sudah malas, benar-benar malas untuk menyetujui permohonan permintaan menjadi teman di Friendster. Apalagi mereka yang TIDAK aku kenal, dan tidak meninggalkan pesan apapun. Jangan harap aku setujui.

Jadi wahai teman-temanku yang termasuk di dalam daftar temanku di profil Facebook yang aku miliki, pada kesempatan kali ini (“Kayak lagi pidato ya?”), aku ingin meminta maaf. Aku tak lagi mengizinkan kalian menulis apapun di wall profil Facebook-ku. Aku tak ingin menyakiti siapa pun, orang-orang yang aku kenal, aku sayangi, yang aku cintai.

Kemungkinan besar aku juga tak akan menyetujui permohonan kalian yang belum aku kenal di dunia nyata untuk menjadi bagian teman-temanku di dunia maya ini, jika tanpa pesan apapun di dalam permohonan itu. Mungkin aku akan menyetujui permintaan kalian, jika kalian meninggalkan pesan untukku.

Untuk mereka yang sudah dan/atau akan membaca tulisan di blog-blog yang aku kelola dan merasa (akan) tersakiti, aku benar-benar minta maaf. Tak ada maksudku untuk menyakiti kalian. Mungkin usahaku tak seratus persen berhasil. Mungkin aku sudah merusak pikiran orang lain (atau mungkin mereka merusak pikirannya sendiri setelah membaca tulisanku). Dan jika ada kesamaan penggunaan nama dalam tulisanku, yang jelas-jelas jika dilihat dari kategori tulisan ada kecenderungan bahwa itu adalah bukan nama, kejadian atau cerita aseli, atau memang cerita perlu dirahasiakan, semuanya itu adalah kebetulan belaka.

Dan bagi mereka yang sudah menyempatkan diri untuk menuliskan komentar, aku ucapkan terima kasih, tapi sekali lagi aku juga minta maaf, karena tidak semua komentar kalian aku setujui untuk ditampilkan di dalam blogku itu. Menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Sekali lagi, maaf dan terima kasih ya. Aku terus akan coba untuk menjadi penulis yang baik untuk semuanya. Walaupun tentu tetap ada resikonya.

—-

“Elo dah kayak artis ‘Cha, bikin konferensi pers.”

“Ga papa, penulis sama ribetnya sama artis kalo urusan beginian, hahahaha.”

“Dasar loe narsis.”

Tags:

Leave a Reply