Jadi Ini Cuma…

“Duuuhh, kasian amat mukanya kucel gitu.”

Ia tak berhenti memandang wajah kekasihnya yang berjalan mendekati, dan yang sudah lama pula tak ia jumpai.

“Udah selese?”

“Bentar lagi, Mas. Aku tinggal tunggu Ice Caramel Macchiato.”

“Aku tunggu di mobil ya.”

“Okay.”

Tak berapa lama kemudian…

“Masih belom juga?”

“Belom, tau niy lama.”

Ia tersadar seketika, mereka mengenakan pakaian dengan warna yang sama. Kemeja putih dan celana abu-abu tua.

“Eh, baju kita sama.”

“Cie, yang udah kerja, gimana kantor?”

“Ribet seperti biasa.”

Ia tak lagi pedulikan bahwa itu tempat umum, yang sudah mulai sepi pengunjung. Ia pun kemudian hamburkan peluknya. Memeluk mas-nya dari belakang, dan mereka pun tertawa bercanda seperti biasanya, sambil berbincang, walau wajah mereka tak berpandang-pandangan.

“Kamu ke mana aja sih. Capekh ya?”

“Gak kemana-kemana, cuma di kantor.”

“Jangan-jangan dah selingkuh nih, dah sama perempuan banyak lagi.”

“Kok. Menurutmu gitu ya? Kalo aku sama perempuan lain, ngapain aku balik ke kamu.”

“Sial. Hahahaha.”

Ia pun memeluknya lebih erat, dan membisikkan sesuatu tepat di sebelah telinga kirinya.

“I love you, Baby”, yang membuatnya tak dapat membalas perkataannya itu.

“Mbak, Macchiato saya sudah selese?”

“Belom. Shakernya rusak nih tiba-tiba.”

“Batalin aja dech.”

“Yuk, Mas, kita pulang aja. Nanti aku pijetin ya di mobil.”

Tak lama kemudian, ia pun bersenandung sebuah lagu indah…

When she wakes me, she takes me back home…

—–

“Anjrit, cuma mimpi lagi, ‘Cha.”

“Mang enak, Nyong!”

Tags:

Leave a Reply