Masuk Dapur…

Urusan masak-memasak adalah hal yang paling tidak aku sukai. Dulu. Tidak dengan tiga tahun terakhir ini.

Urusan masuk dapur, tidak hanya sekedar lewat, atau membuka lemari pendingin, tapi untuk memasak, memang akhirnya menjadi hal yang menarik untukku. Aku ingat betul, menu pertama, aku memasak secara serius, yaitu udang goreng tepung panir saos mayonaise. Jujur aku lupa aku dapat resep itu dari mana, atau mungkin juga tiba-tiba muncul di otakku. Berhubung aku tahu persis bahwa keluargaku (termasuk diriku) itu terdiri dari manusia-manusia dengan gengsi yang super dahsyat, jadi aku tak menawarkan masakan hasil karyaku itu kepada mereka.

Aku tahu mereka beberapa kali mencicipi masakanku, dan pasti, aku sangat yakin menurut mereka selalu ada cacatnya. Ternyata dugaanku benar. Dan, seperti biasa pula, aku tak peduli. Namun anehnya lama-lama masakanku itu hampir habis, padahal sebenarnya saat itu aku masak bukan untuk mereka, tapi khusus untuk seseorang, yang aku tahu persis ia sangat suka dengan seafood. Jadi sebelum benar-benar habis, terpaksa masakanku itu aku pindahkan dari atas meja makan.

Motivasi yang aku miliki untuk mencoba “menjajah” dapur ternyata bagus juga, yaitu membuatkan masakan untuk seseorang spesial, yang bakal berkata jujur, dan memberikan apresiasi atau kritikan dengan cara yang memang seharusnya.

Menu-menu berikutnya pun bermunculan. Kembali tak tahu asalnya dari mana, atau hanya kreasiku sendiri. Kreativitas niatku, ternyata menginginkan sesuatu yang lebih heboh. Kamu tahu apa itu? Ingin mencoba mewarisi hasil masakan makanan khas Manado seperti enaknya masakan Almarhumah Oma dan juga masakan super enak dari Mama, “Masakh masakan Manado enak ala mereka ngga ada yang bisa ngikutin sih.”

Meskipun aku tahu persis, bumbu masakan Manado itu membuat yang masak menjadi menderita, dan “menangis”. Bagaimana tidak menitikkan air mata, isinya bawang merah bersiung-siung, bawang putih, cabai yang tak terkira jumlahnya, kunyit yang membuat tangan menjadi kuning. Tambah sengsara saat aku harus mengulek semua bumbu, karena Mama dan aku percaya, jika bumbu dihaluskan dengan food processor, rasanya tidak akan sama dengan hasil mengulek.

Masakan Manado pertama yang aku buat, adalah Ayam Rica-Rica. Lalu aku mulai mencoba mengganti daging ayam itu dengan daging tidak halal, dan jadilah Babi Rica-Rica. Maklumlah menu Manado sebenarnya jarang yang halal, namun karena tuntutan, mereka harus menyesuaikan, dan kalau hanya masalah daging, sangat mungkin untuk diganti dengan daging apapun. Masakan babi rica-rica khas Manado karyaku sendiri, aku buat karena pesanan dari temanku yang sedang hamil dan mengidam masakan ini.

“Gue masakin dech, gue masak enak lo.”

“Bener ya. Asik-asik.”

Akhirnya kami bertemu saat reuni. Sesuai dengan janjiku, aku membawakan masakan sesuai pesanannya. Dan kebetulan saat reuni itu, salah satu temanku, yang sudah belasan tahun menetap di Amerika, akhirnya kembali ke Indonesia, dan kebetulan ia juga berdarah Manado. Jadi tanpa diminta, aku juga membawakannya masakan karyaku. Dan hasilnya, mereka berdua suka sekali dengan apa yang aku masak.

Kebutuhan bisa memasak, tidak hanya untuk kepuasan batin saat aku bisa membuat orang lain senang, dan tentu membuat diriku sendiri juga senang. Namun untuk bisa survive, saat di rumah sedang tidak ada makanan, dan hanya ada bahan mentah. Urusan resep-resep, aku tak mencari secara khusus dari buku masakan. Kebanyakan aku tahu dari orang lain, atau lagi-lagi isengnya aku melemparkan bahan-bahan mentah dan bumbu kedalam wajan, dan bermodal indera pengecapku.

Salah satu menu yang aku dapat dari orang lain, dari tanteku sendiri, adalah Prime Sukiyaki Jamur Champignon. Aku hanya perlu melihatnya beberapa kali memasak masakan itu, dan tanpa catat mencatat, cukup mengandalkan photographic memory yang aku punya, aku mencobanya di rumah. Dan saatku ulang tahunku bulan lalu, aku memasakkannya untuk teman curhatku dan orang spesialku. Hasilnya si ibu hamil itu malah merasa porsinya yang aku bawakan kurang banyak. Menu ini, aku buatkan pula untuk Karin saat kami di Singapura, namun dagingnya aku ganti dengan daging ayam. Karin pun suka dengan masakanku.

Menu lain yang sedang aku eksplorasi lebih lanjut, dasarnya aku dapatkan dari salah satu acara memasak di televisi, yang tanpa disengaja aku tonton. Berhubung masakannya mudah, dan bahannya tidak terlalu sulit, maka aku mulai mencobanya. Namun berhubung aku tidak terlalu suka dengan daun parsley, yang termasuk di dalam bahan masakan itu, jadi aku mencoba untuk membuat variasinya. Sesuai dengan kreasi campur-campur ala diriku sendiri. Jadilah Prime Sukiyaki Brokoli Cream Cheese, enak banget, dan semua hasil masakanku, tanpa MSG. Bagiku bumbu-bumbu seperti bawang putih atau bawang merah dengan jumlah yang disesuaikan, cukup dapat menggurihkan makanan. Jadi tak perlu MSG ‘kan?

Mau ikut mencoba? Ini resepnya…

1. Bawang merah iris kecil-kecil (Jumlahnya sesuka hati, ikuti feeling)
2. Bawang putih iris kecil-kecil (Jumlahnya tentu sesuka hati, juga ikuti feeling)
3. Bawang bombay (Aku tadi memakainya setengah potong)
4. Knorr seasoning powder (Mudah-mudahan bisa ditemui di supermarket besar di Jakarta, ini satu-satunya bumbu masak yang aku bawa dari sisa masak-memasakku di Singapura, awal bulan ini. Dan setahuku merek Knorr sudah lama tidak masuk ke Indonesia)
5. Cream cheese
6. Lada hitam
7. Olive Oil Extra Light (Untuk memasak semua bahan)
8. Gula pasir
9. Sukiyaki prime
10. Brokoli

Masukkan minyak zaitun (olive oil) ke dalam wajan, tunggu hingga panas, lalu masukkan bawang merah, bawang putih, tunggu sampai harum. Kemudian masukkan bawang bombay setengah dari yang sudah di iris-iris. Tambahkan cream cheese, hingga leleh dan merata. Masukkan daging, dan tambahkan seasoning powder. Tunggu hingga daging matang. Masukkan bawang bombay sisanya lagi. Lalu masukkan sayurannya.

Mulailah mencicipinya, dan tambahkan bumbu-bumbu masakan yang ada. Berhubung di dapurku tadi ada Kikkoman, dan Saos Tiram, jadi itulah bumbu tambahannya. Coba rasakan kira-kira kurang apa, dan tambahkan, termasuk seasoning powder tadi. Gula pasir bisa diberikan, bisa tidak. Menurut Mama, gula pasir itu dapat membuat bumbu-bumbu yang digunakan jadi tambah meresap. Aku tidak menambahkan garam, karena bagiku cream cheese, Kikkoman, Saos Tiram, dan seasoning powder itu sudah cukup.

Jadi ingat perkataan Rachel Ray di acaranya, “I just throw everything in.”

“You’re right Rach.”

Di tulisanku sebelumnya aku mengajakmu untuk mencoba menulis, kalau sekarang…“Marrreeee masak!!!”

Tags: ,

Leave a Reply