Sahabat Setiaku…







*Urutan foto dari paling atas: Cricket, Goldie, Molly, Moeng, O’Neil, Rambo, Kino.*

Kino

My eldest son…dibawa oleh Papa ke rumah pada bulan Oktober 1998. Papa beli Kino dari Jl. Latuharhari. Kata penjualnya, Kino saat itu sudah berumur 9 bulan. Kino ini pengganti Cello, anjing dachschund ku yang hilang. Si hitam ini, pernah menjalani operasi tumor di perut, pada Februari 2007. Paling suka makan, apalagi makan kue. Ia hafal betul dengan bunyi plastik kue, bentuk kardus kue/makanan, tusuk sate, dan theme song dari bunyi tukang jualan Susu Murni Nasional yang lewat di depan rumah. Ia akan mengomando adik-adiknya yang lain, untuk melolong, jika tukang susu ini lewat. Tentu mereka minta dibelikan Susu Nasional itu. Begitu kami selesai bertransaksi membeli susu, dan masuk ke dalam, Kino sudah dengan cerianya menyambut kami sambil melihat ke arah plastik yang berisi susu yang kami beli. Tentu dengan goyangan bahenol ekornya. Kino ini juga mempunyai satu hobi lucu, yaitu menarik dan memindahkan keset atau karpet tidurnya, ke tempat yang ia inginkan, jadi sering kali kami tidak menemukan keset yang seharusnya berada di depan pintu kamar atau kamar mandi.

Sekarang Kino sudah menemaniku hampir 11 tahun, dan semoga kamu sehat-sehat terus ya, Ndut.

Rambo

Campuran German Shepherd dan Chow-Chow. Hasilnya ya, beginilah tampangnya. Berbulu, bertelinga, dan bermata khas German Shepherd, berbadan dan berlidah biru khas Chow-Chow. Rambo ini benar-benar anjing rumahan. Dari dulu ia tidak pernah mau keluar rumah walau pintu pagar dibuka. Padahal kami tak pernah mengajarkannya untuk berperilaku seperti itu. Hanya sekali ia pernah keluar dari rumah, dan sempat hilang beberapa jam. Saat itu kami sekeluarga pergi ke gereja, dan pintu pagar memang sengaja kami buka, karena si “perempuan jagoan” kami sedang berjalan-jalan, tak di rumah. Jadi kami sengaja membuka pagar agar si “jagoan” itu bisa masuk jika hujan. Namun sekembalinya kami dari gereja, kami tak menemukan Rambo di dalam rumah, hanya ada perempuan satu ekor itu. Akhirnya kami bingung. Kami panggil-panggil tapi ia tak merespon. Kami berputar-putar sekitar rumah kami, sambil memanggil-manggil namanya, dan kami mendengar gonggongannya, tetapi hanya satu kali. Kakakku sudah pasrah, dan ia kembali ke rumah, tapi tidak denganku. Aku kembali ke daerah belakang rumah yang masih kebun, tanah penuh dengan ilalang, dan waktu itu ada pemukiman pemulung di daerah sana. Aku kemudian bertanya pada salah satu pemulung di situ, “Pak, lihat ada anjing coklat lewat sini ga? Matanya belokh, bulunya agak panjang, kupingnya diri?”

“Iya, Neng, tadi saya lihat. Saya juga heran, kok anjing Neng, biasanya di rumah, kok sampe sini. Coba deh, tadi ke arah sini.”

Aku membantu pemulung itu mencari Rambo di antara semak-semak, sambil membawa lampu sorot. Dan ternyata kami menemukan Rambo, sedang duduk manis, dan bingung, di bawah pohon pisang, yang tumbuh tepat di belakang tembok belakang rumah kami. Asumsi kami, ia mencium bahwa itu adalah rumahnya, tapi salah arah. “Aduuhhh, Nak, kamu kok bodo, tapi lucu siy.”

Lalu aku menelepon ke rumah, meminta kakakku untuk menghampiri. Akhirnya, Rambo digendong oleh kakakku, karena kalau ia dirantai, ia tak akan mau bergerak, karena ia sebenarnya sangat takut keluar rumah. Semenjak kejadian itu, ia semakin takut keluar rumah. Mei tahun ini Rambo sudah berumur 11 tahun.

O’Neil

Lahir tepat di hari Natal, 25 Desember 1998. Ia sangat manja dan sering sekali minta digendong. O’Neil dulu anjing milik Ingrid, yang sekarang adalah kakak iparku. Sejak April 2000, O’Neil dipindahkan ke rumahku. Satu-satunya anjingku yang paling mudah dibawa pergi dengan mobil. Tanpa basa-basi, sesaat setelah ia memasuki mobil, O’Neil langsung tertidur di pangkuanku, sekalipun aku yang harus mengendarai mobil. Ia tak akan merepotkanku saat mengendarai mobil, karena ia baru akan terbangun dari tidurnya setibanya kami di tempat tujuan.

O’Neil mempunyai warna mata yang berbeda, tapi kata dokter yang biasa menanganinya, ini karena bawaan lahir. Titik lemah O’Neil adalah di sistim pencernaannya, sepertinya ia sering sekali cacingan. Jadi obat cacing harus ia konsumsi setiap 4 bulan sekali, dengan dosis kecil. Tahun lalu, ia divonis dokter mengalami pengapuran tulang punggung, dan harus menjalani akupuntur. Akhirnya dengan akupuntur itu, ia bisa kembali sehat. “Terus sehat ya, Sayang.”

Moeng

Anjing dengan karakter pencemburu, terutama jika tuannya mendekati kakak atau adiknya yang lain. Ia tak bisa berkumpul dengan Kino dan adiknya yang mirip dengan “anak gadjah”, juga si “perempuan jagoan”. Moeng adalah pemberian dari temanku, sebelum natal 1999. Saat itu aku tidak tahu persis usianya, tapi kira-kira ia berusia 1 bulan, karena saat ia aku bawa pulang, berdiri saja ia masih belum bisa tegak, masih sering terpeleset, dan ia masih sering diare. Asumsiku, ini semua karena ia kurang mendapatkan ASI induknya. Dari pertama kali ia datang, aku membawanya tidur di kamar kakakku, yang letaknya di bagian belakang rumah kami. Alhasil, sampai sekarang ia cinta sekali dengan kamar kakakku ini, kalau sudah berada di dalam kamar itu, ia malas sekali diminta untuk keluar, bahkan menjadi “penjajah” tempat tidur.

Selain menjadi penjajah kamar tidur, Moeng ini anjing paling sopan saat diberi makan. Ia pasti dengan sabar menunggu seluruh makanan untuknya siap diberikan padanya. Ia akan duduk manis, memberi salam dengan “tangan kanannya”, dan bahkan menunggu perintah dari kami, apakah makanan itu boleh ia makan atau tidak.

Molly

Ini dia yang aku maksud dengan perempuan jagoan kami. Molly aku temukan di ujung jalan jalanan menuju rumahku. Waktu itu kalau tidak salah tahun 2002. Saat aku pulang kantor, aku melihat ada anjing baru yang aku lihat sedang bermain-main dengan anjing tetanggaku, yang bernama Culai (Alm), yang saat itu sudah akrab denganku.

Molly numpang tidur di rumah tetanggaku, yang letak rumahnya bersebelahan dengan rumah pemilik Culai. Kebetulan rumah tumpangan Molly itu bentuk pagarnya memungkinkan Molly untuk keluar masuk rumah sesuka hati. Sehari-hari ia diberi makan makanan sisa oleh tetangga-tetangga sekitar.

Saat aku bertemu dengannya pertama kali, ia masih curiga denganku, bahkan makanan yang aku berikan tak disentuhnya sama sekali. Namun itu hanya terjadi 2-3 kali. Kira-kira pertemuan kami yang ke-4, Molly sudah mau mendekatiku, dan mulai dari itu ia aku beri makan dari dalam rumah. Namun ia tetap hidup berkeliaran di jalan. Berhubung anjing liar, jadi ia tak terurus, termasuk urusan berkembangbiak. Sempat anaknya ada 9, aku dan mama menjadi sukarelawan mencarikan rumah adopsi untuk anak-anaknya yang selamat.

Sayangnya, tetanggaku yang rumahnya ditumpangi Molly ini, mempunyai pembantu rumah tangga yang tidak suka dengan anjing, jadi pagar rumahnya diberi kawat, agar Molly tak bisa lagi masuk. Saat itu aku ingat betul, mulai musim hujan. Molly yang kehujanan, akhirnya aku bukakan pagar, agar ia bisa berteduh, bahkan jika ia tak mendengar siulanku, aku akan berkeliling di sekitar rumah dengan memakai payung untuk memanggilnya masuk. Awal-awalnya, ia hanya di dalam rumah, saat hujan datang. Jadi kehidupannya masih lebih banyak berada di jalanan, dan tiba-tiba aku melihat perutnya sudah membesar lagi, “Haaayyaaa, kamu hamil lagi ya?”

Namun ia tahu sekali bahwa ia disayang, dan tiba saatnya ia untuk melahirkan. Pagi-pagi sekali, ia sudah menangis-nangis dari luar pagar minta dibukakan pintu. Ternyata ia akan melahirkan, dan rumahku menjadi rumah bersalin untuknya. Semenjak itu, ia tinggal di rumahku. Meskipun ia masih sering keluar rumah berjalan-jalan, karena pintu pagar kami memungkinkannya untuk dapat keluar rumah, tapi tidak untuk masuk ke dalam rumah. Nama Molly adalah pemberian dari kakakku.

Berhubung anjingku yang lain berkelamin jantan, dan aku tahu Molly sudah tiga kali mempunyai anak, jadi tahun 2005, aku putuskan Molly disteril, agar ia tak bisa punya anak lagi. Kasihan memang, tapi apa boleh buat, daripada ia dibuang seperti yang diminta Papa, jadi aku rela mengeluarkan uang untuk mengoperasinya.

Sekarang si “perempuan jagoan” ini benar-benar jadi jagoan. Sangat pintar. Ia sering diajak Papa jalan-jalan naik sepeda atau jalan kaki, sampai berkilo-kilo meter, bahkan hingga ke jalan raya. Tak jarang ia sampai masuk ke ruang pengambilan ATM, saat diajak Papa mengambil ATM, atau ikut bersepeda ke rumah kakakku, yang jaraknya sekitar 2 kilometer dari rumah.

Lucunya Molly pernah mengikuti mobil kami sampai ke jalan raya, saat Papa dan Mama pergi. Untung Mama lihat dari kaca spion, akhirnya Papa berhenti, dan Mama membawa masuk Molly ke dalam mobil, memulangkannya, dan ia akhirnya di rantai di teras rumah kami. “Nakal siy kamu, Nak.”

Belakangan ini aku baru tahu, bahwa Molly tadinya anjing dari toko bangunan yang ada di jalan raya. Ia kabur dari sana, karena ditendang oleh salah satu karyawannya. Kebetulan karyawan toko bangunan yang menendang Molly itu lewat depan rumah kami, dan meminta kami untuk membawanya kembali ke toko bangunan itu. Lalu Papaku menjawab, “Wah, itu sudah dirawat anak saya, kalo bisa coba aja bawa sendiri.”

Dan si perempuan jagoan, meneruskan goggongannya ke arah orang itu semakin kencang, sambil menyeringai, “Bagus, Sayang, terusin! Dia ‘kan jahat sama kamu.”

Goldie

Aku menyebutnya dengan bayi gadjah, berhidung sapi, bersuara ayam (karena suaranya sama sekali tidak menampakkan bahwa ia anjing ras besar), dan berkelauan bayi 6 minggu. Golden Retriever-ku yang super lucu ini, memang tingkahnya seperti anak kecil. Padahal Mei nanti usianya sudah 6 tahun. Lahir 23 Mei 2003. Aku mendapatkan Goldie dari tanteku, saat Goldie masih berusia 10 bulan. Lucu sekali tingkah anak ini. Dari hobi menumpahkan tempat minum di teras milik Kak Moeng, sampai mengejar kodok, yang mungkin ia pikir akan diajaknya bermain, karena berlompat-lompatan.

Goldie sering sekali lupa ukuran badannya yang besar itu. Dengan berat 35 kilogram, ia tak peduli ukuran saat berlompat-lompat, melonjak kegirangan saat bertemu kami. Tak jarang kami terjatuh karenanya. Goldie terbiasa di kamarnya sendiri sejak kecil (aku menyebut kandang sebagai kamar). Jadi saat ia dipindahkan ke rumah, kamar yang cukup besar (mirip bangunan rumah kecil) untuknya sudah kami siapkan. Kasihan memang melihat Goldie menjadi satu-satunya anakku yang lebih sering di kamar, tapi apa boleh buat, dari pada ia bertengkar dengan kakaknya, dan semakin banyak bangkai kodok di halaman belakang rumah.

Awalnya ia bertengkar dengan Moeng karena ketidaksengajaan. Saat itu Goldie yang sedang bermain-main di halaman belakang, tiba-tiba membuka pintu kamar kakakku, yang di dalamnya ada Moeng sedang tidur dengan kakakku. Goldie meloncat girang. Ia pikir, ia ingin ikut bergabung di atas tempat tidur itu, dan mungkin juga ingin mengajak Moeng bermain. Namun Moeng kaget, dan merasa terserang, akhirnya mereka bertengkar, hingga Goldie harus dibawa ke dokter, karena kakinya tergigit Moeng, bolong di satu titik, dan mengakibatkannya agak pincang. Dan sampai sekarang mereka berdua tidak bisa disatukan.

Cricket

Bulan Juni atau Juli 2005, saat rumah kami mati lampu, tiba-tiba aku mendengar suara anjing kecil berteriak-teriak kesakitan. Seketika aku turun dari kamarku, dan aku lihat saat itu ada Papa di ruang keluarga.

“Hmmm, emang kita punya anjing kecil lagi, Pa?”

“Iya, kok ada suara kirik ya? Anjing sapa ya.”

Papa kemudian melihat ke halaman depan, namun karena gelap, ia tak menemukan apa-apa di sana, kecuali Molly dan Rambo, yang bertugas jaga depan. Aku masih penasaran. Aku kemudian mengambil lampu sorot, dan mencoba memeriksa halaman depan. Aku lihat Molly mulai mengendus sesuatu di bawah mobil, aku pun kemudian melihat ke bawah mobil, dan apa yang aku temukan? Seekor anak anjing. Langsung aku ambil, dan aku gendong. Waktu itu besarnya masih seukuran telapak tanganku. Saat diangkat, ia berteriak-teriak kesakitan, aku pun mengambil kardus bekas sepatu, aku lapisi dengan kain bekas, aku letakkan ia dalam sana, dan aku selimuti, agar ia hangat. Malam itu, aku pun menjadi perawatnya. Setiap jam aku memberikannya air minum atau susu dengan suntikan kecil tanpa jarum, yang memang selalu aku sediakan di rumah, dan aku gunakan jika aku perlu meminumkan obat cair untuk anjingku.

Anjing kecil ini ternyata memang sengaja dibuang di halaman rumahku oleh seseorang. Orang itu pasti tahu, keluarga kami pencinta anjing.

Lebaran 2005, aku kembali dibuat panik oleh Cricket ini. Ia terkena parvo virus, yang baru benar-benar kami ketahui saat malam takbiran pukul 02.00 dini hari. Padahal saat ia mulai tak mau makan, aku sudah membawanya ke dokter beberapa kali, dan dokter belum mendeteksi bahwa itu adalah parvo virus, bahkan saat itu kami harus membawanya pulang dengan cairan infus. Kondisi Cricket yang sedang sakit, membuat kami memutuskan agar ia tidur di dalam rumah, dengan “kamar” kecilnya (karena ia harus di infus), sedangkan Kino dan O’Neil sementara tidur di luar, agar tidak tertular. Namun saat aku hendak mengeluarkan Cricket dari kamarnya, pukul 02.00 dini hari itu, untuk memberi kesempatan untuk ia buang air di halaman depan, malahan ia buang air besar darah cair, yang tidak sedikit, dan berbau amis, tepat di ruang tamu, saat perjalanan kami menuju pintu keluar.

Seketika aku membangunkan mama.

“Ada yang mau nemenin atau ngga, aku berangkat ke Sunter sekarang. Opname Cricket.”

Akhirnya aku membawanya ke Sunter, klinik 24 jam Drh. Cucu Kartini. Dan setiap hari ia aku tengok, dan aku beri semangat, selama 1 minggu. Akhirnya ia pun dapat pulang ke rumah dalam keadaan sehat.

Sekarang Cricket sudah hampir 4 tahun, dan super nakal.

Tags: ,

One Response to “Sahabat Setiaku…”

  1. […] *Masih belum bisa upload gambar…Damn!!! Jadi kalo mau liat fotonya Molly bisa klik di sini […]

Leave a Reply