Writing Is My Passion…

Menjadi seorang introvert adalah hasil dari bentukan lingkungan sekitarku. Mengapa aku berkata demikian, karena sebenarnya tidak sulit untuk membuatku berbicara tentang apa yang aku rasa, tentang apa yang aku pikirkan. Dengan sedikit pancingan saja, aku bisa menceritakan banyak sekali hal. Namun semuanya itu juga tergantung dengan siapa aku bicara, bagaimana orang tersebut melakukan pendekatan agar aku dapat mencurahkan, membeberkan apa yang ada di benakku, di hatiku. Dan terakhir tentu hasil proses “editing” yang aku lakukan sendiri atas perlu atau tidaknya hal itu dibicarakan dengan orang lain.

Selain hal tersebut di atas, salah satu faktor yang menjadikanku seorang introvert, mungkin karena keluargaku sendiri. Nasib menjadi anak paling kecil yang berada di dalam keluarga Jawa, di mana komunikasi antara anak dengan orang tua banyak terhambat karena hal-hal yang menurutku sangat aneh dan tidak relevan lagi untuk zaman sekarang (dan sangat aku sayangkan darah Manadoku sama sekali tidak terlihat dalam urusan berkomunikasi ini). Sebagai contoh, sering kali jika seorang anak (“hmmm…aku?”) ingin mengungkapkan pendapat, sering kali pula itu dianggap sebagai bantahan terhadap orang tua, dan alhasil dapat mengakibatkan terjadinya situasi tegang antara anak dan orang tua.

Situasi-situasi seperti itulah yang mengakibatkan aku lebih senang untuk memilih diam. Namun ada batas kesabaranku untuk tetap tinggal diam. Aku perlu untuk ungkapkan apa yang ada di dalamku, itu setidaknya. Tidak terlalu berharap aku untuk didengar, apalagi untuk dipahami orang lain. Aku ingin hamburkan penatku, rasaku, pikirku, sampai terkadang aku tak pedulikan apa kata orang lagi.

Jadi teringat ungkapan seseorang yang saat ini sangat berarti bagiku “Kamu itu naturenya sebenernya ekstrovert ‘Cha, tapi nurturenya introvert.”

“Sepertinya ia benar. Ya, selama ini apa yang ia katakan selalu benar. Deja vu ‘Cha?”

Kecintaanku dalam menulis semakin bertambah besar dari hari ke hari. Dan sepertinya akhir-akhir ini semakin aku sadari, writing is my passion.

Sedih rasanya, saat aku terkejar tenggat waktu menyelesaikan skripsi beberapa bulan lalu. Waktu yang aku miliki untuk menulis sangat terbatas. Akhirnya kebutuhanku untuk menuliskan sesuatu, aku kompensasikan dalam tulisan ilmiah, tulisan yang ada di dalam skripsiku itu.

Manusia sepertiku yang juga termasuk deadliners sejati, tentu mempunyai kebiasaan buruk (bagi sebagian orang, dan jelas bukan aku) untuk menyelesaikan pekerjaanku di detik-detik terakhir sebelum tenggat waktu yang diberikan, termasuk dalam menyelesaikan skripsi.

Kira-kira seperti ini pikiranku sesaat setelah perayaan tahun baru 2009 lalu, “Anjrit…bulan depan dah Februari ya, skripsi kagak kelar lagi, bayar kuliah lagi gue. Damn!!!”

Seketika seluruh tenaga, jiwa, raga, waktuku, aku curahkan untuk menyelesaikan tugas akhirku untuk mendapatkan gelar Sarjana Psikologi. Tak pedulikan sekitar, tak pedulikan waktu, tak pedulikan “setan belang” mana yang mau menggangguku, yang penting Februari aku harus sidang.

Dengan tangisku (arti harafiah), dengan ditemani adzan subuh sebagai lonceng pertanda aku harus sempatkan diri untuk tidur, dengan suara detik jam dinding yang ingin sekali aku buat diam, sehingga satu hari mempunyai waktu lebih dari 24 jam, dengan entah omelan, suara kepasrahan atau motivasi dari sang pembimbing skripsiku, dan dengan mata yang tak sama sekali terpejam selama lebih dari 24 jam terakhir sebelum 2 Februari 2009, akhirnya aku berhasil menyelesaikan skripsiku. Aku ingat sekali, tanggal 2 Februari 2009, pukul 09.45 pagi, semua skripsi sudah rapi aku cetak, dan siap untuk dijilid dan diserahkan ke Sekretariat Fakultas Psikologi.

Lagi-lagi aku ingat omongan dirinya, “Cha, kalo aku jadi bos-mu, aku akan selalu memosisikan kamu di saat-saat kritis, karena kerja kamu akan optimal.”

“Iya siy, tapi abis itu aku tepar dan menggila.”

“Tapi you can handle it for sure.”

“Iya dounk, gue gituh, hahahhaha.”

Seminggu setelah skripsi dikumpulkan, skripsi itu belum aku sentuh lagi. Masih malas, masih muak melihatnya. Skripsi baru kembali aku baca dengan seksama 3 hari sebelum sidang. Sebelumnya hanya aku baca sekilas, untuk mempersiapkan presentasi sidang. Dan apa yang aku dapati saat aku membaca skripsiku sendiri?

“Damn, did I write it? Kok, bagus. Kok enak dibacanya. Jago juga ya gue nulis. Padahal gue sambil nangis-nangis, or jangan-jangan sambil tidur pulakh gue nulisnya.”

Sedikit narsistik memang aku saat itu. Namun ada rasa lain, yaitu senang. Ternyata ada bakat lain yang terasah dalam diriku, selain bakat-bakat lain yang sudah aku sadari sejak lama.

Rasa senang yang aku rasakan, tidak berhenti sampai di sana. Ada hal lain yang membuatku semakin melayang, senang, tak terbendung, tak terkira.

Kamis, 26 Februari 2009, hari aku harus menjalani sidang, untuk ditentukan laik atau tidaknya aku menjadi seorang Sarjana Psikologi. Setelah 4.5 tahun aku kuliah, hari inilah akhir dari seluruh “cerita” kuliahku.

Sidang diawali dengan presentasi, tentang keseluruhan hasil penelitian yang aku lakukan. Seselesainya aku presentasi dan dipersilakan duduk, aku mendapatkan kabar gembira itu. Sesi tanya jawab yang selama ini menjadi momok dalam benakku, ternyata berbeda seratus delapan puluh derajat, dengan pembukaan yang menyenangkan dan membuatku terbebas dari rasa takut.

Mereka yang mengujiku hari itu, kurang lebih mengatakan ini: “Cha, uji keterbacaan skripsi kamu, sangat okay. Apa yang kamu maksudkan, tertulis dengan jelas, bahkan tanpa ada revisi yang kamu tadi sebutkan di awal presentasi, Saya sudah tahu maksud kamu apa.”

“Saya juga setuju. Bahkan di Bab II, yang biasanya paling males untuk dibaca detil, jadi menyenangkan. Oleh sebab itu, Saya berterima kasih pada pembimbing kamu, yang bisa membuat kamu menulis seperti ini.”

Terus terang aku tak tahu harus berkata apa, kecuali…

“Terima kasih, Mbak, Bu.”

Bahkan saat itu keinginanku untuk mengucapkan “Itu khan karena pembimbing Saya”, tak juga dapat terlontar dari mulutku.

Malah akhirnya pembimbing skripsiku sendiri yang merespon pernyataan para penguji…

“Ya, yang dibimbing Saya ‘kan ngga cuma satu. Itu juga karena mahasiswanya.”

Senang, bangga, terharu, campur aduk perasaanku saat itu. Dan itulah pengalamanku saat menulis sebuah tulisan ilmiah.

Lain pula cerita pengalamanku dalam menulis cerita-cerita lainnya, yang biasanya tertumpah di dalam blog-blog yang aku kelola, termasuk di dalam blog Tulisan Seorang Introvert ini.

Sekali lagi, awal aku mempunyai kecintaan dalam menulis, karena aku ingin hamburkan rasaku, tidak muluk menjadi hal lain. Pujian, pernyataan kagum, komentar dari hasil tulisanku adalah nilai tambah yang tak terkira harganya.

Seperti komentar seseorang, saat kami berdua duduk di sebuah kedai kopi, di Pacific Place, Desember lalu.

“Cha, aku encourage kamu to write a novel. Aku jadi editornya deh.”

“Belom PD, lagi pula di Indo novel-novel dibajak, ntar aku rugi.”

atau komentar dari seseorang lainnya, saat aku mengobrol dengannya di ruang obrolan di internet…

“Eh, ada tulisan baru tuh di blogku. Mampir ya. Sapa tau aku bisa jadi penulis kayak Dee.”

“Kalo jadi penulis siy udah bukan? Tinggal dikomersilin aja, bahkan kalo bisa lebih bagus dari Dee.”

atau teman-teman kantorku dulu…

“Baca tulisan loe, kayak liat filmnya langsung Cha.”

“Untuk tulisanmu, emang dari dulu khan udah jempolan Mbak, aku dan suami diam-diam salah dua pengagum tulisanmu.”

atau dari salah satu kenalanku…

“Wah, ngga nyangka Ocha jago nulis. Ditunggu chapter berikutnya ya Cha.”

atau komentar dari temen-temen kuliahku…

“Ocha, seneng deh baca blognya, kayak e-book, ditunggu kelanjutannya ya.”

“Gue seneng baca blog lu, mirip-mirip ama kisah kehidupan gue.”

atau komentar salah seorang yang dulu pernah menjadi klien kantorku…

“Tulisan loe banyak gue jadiin inspirasi, ‘Cha.”

Walaupun juga ada beberapa orang yang sempat “protes” bahwa tulisan di dalam blogku, sulit dimengerti, sulit ditebak. Untuk hal ini, aku hanya bisa berkata…

“Selamat menebak, dan itu ciri-ciri real introvert, sulit bisa mengungkapkan apa yang sesungguhnya ada di dalam. Oh, ya satu lagi, kalo susah menebak maksudku apa, jangan baca yang di kategori Persepsimu, tambah pusing nanti.”

Komentar-komentar dari semua orang yang membaca tulisanku adalah hal luar biasa dan pasti di luar dugaanku selama ini. Tak terbayangkan sebelumnya, ada yang berminat, mau menyempatkan diri membaca atau bahkan mengikuti tulisanku. Aku hanya bisa menyampaikan penghargaanku kepada semuanya; Adietya Benyamin, Mas Anung Setiawan, Mas Danny Yatim, Mas Riza Karim, Diah Ajeng, Albi Ariza, Farid Darwis, Stella Margriet, Agatha Novi, Rully Hariwinata, Bebby Atria, Dei Limanow, Raymond Tarigan, Teddy Tedjo, Djoko Suryo, dan semuanya yang tidak bisa aku sebutkan, atau aku tidak tahu, dan juga mereka para anonim yang memberikan komentar di tulisanku, dengan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya, dan semoga dorongan-dorongan kalian untuk menerbitkan novel dapat aku wujudkan nanti.

Dan aku menuliskan ini bukan menjadi ajang untuk menyombongkan diri. Namun untuk berbagi satu hal yaitu…

“Just enjoy every little thing in your life, karena terkadang hasilnya melebihi apa yang diprediksikan oleh kita, lebih dari ekspektasi kita sebelumnya. Dan itu adalah nilai tersendiri untuk hidup.”

Jadi, ada yang ingin ikut mencoba menulis?

Tags: ,

One Response to “Writing Is My Passion…”

  1. eLLa says:

    eh, ada nama gue jg,Ca… hehehe… :D

Leave a Reply