2 Jam Saja…

Akhirnya aku putuskan kaki ini melangkah menghadiri reuni itu. Reuni teman-teman satu divisi-ku dulu. Bertemu dua atasan-ku, dan teman-teman yang sangat menyenangkan, tempat berbagi cerita, keluh kesah tentang segala pekerjaan, hingga curahan hati pribadi. Dulu. Dan lagi, kali ini harus aku lewati tanpa kehadiran Karin.

Keraguan sempat ada. Keraguan untuk hadir di sana, karena aku tahu bahwa aku tidak akan menikmati pertemuan itu. Namun aku tahu apa sebab dari itu semua. Hanya karena 1 orang. Dan itu tak boleh dijadikan alasan untuk mengorbankan yang lain. Lagi pula, pertemuan ini bisa dijadikan sebagai acara “killing time” sambil menunggu seseorang yang masih harus menyelesaikan urusan di kantornya.

Pacific Place memang tempat yang menyenangkan, bahkan salah satu tempat favoritku. Tepat pukul 18.00, aku sudah sampai di sana, dan bisa dipastikan aku datang paling awal. Rencananya, kami janji bertemu di Canteen Aksara, namun apa daya tempat itu penuh. Dan aku baru tahu bahwa “ibu E.O” ternyata tidak memesan tempat terlebih dahulu. Alhasil, aku-lah yang berputar-putar mencari tempat pertemuan pengganti, dan aku putuskan (dengan persetujuan “ibu E.O”) bahwa reuni akan diadakan di Urban Kitchen. Sial, di tempat ini, pemesanan tempat harus ditunggui, tidak bisa ditinggal, dan orang itu harus-lah aku, karena tidak ada orang lain.

Waktu pun terus berjalan. 30 menit pertama, aku masih bisa bertahan dengan seluruh fitur BlackBerry yang ada di tanganku. Bosan mulai melanda, dan pikiran bahwa aku masih harus berlari ke mesin ATM terdekat untuk mengambil uang, ditambah dengan rasa lapar yang sudah tidak tertahankan, dan disempurnakan dengan rasa kesal karena tak bisa beranjak dari tempat duduk untuk memesan makanan.

Berkali-kali telepon dan SMS aku kirimkan ke “ibu E.O” dan peserta reuni yang lain. Dan knowing their qualities, saat menjawab “Iya, on the way, bentar, bentar lagi, ‘dah mau deket”, yang berarti “Duh, gue masih jauh”, membuatku tambah kesal, tak sabar. Hampir saja aku beranjak dari kursi itu, membiarkan kursi-kursi itu dipakai orang lain. Hanya karena aku ingin memesan makanan. Aku sudah lapar.

Sekitar pukul 19.30, mereka mulai berdatangan, tepat di saat semua rasa yang tadi aku alami, sudah berada di titik anti klimaks. Termasuk hilangnya rasa lapar. Hal pertama yang aku lakukan adalah berlari ke arah mesin ATM berada. Kemudian aku kembali dan barulah bersalam-salaman dengan mereka. Tak lama kemudian aku langsung berlari ke arah kios Sushi Groove. Buntut goreng, bebek goreng, berbagai macam makanan yang dijual di Sambel Desa, sudah tidak membuatku bergairah. Aku hanya ingin makanan ringan, yang tidak terlalu kenyang, yaitu sushi. Itu pun pada akhirnya 2 gulung salmon mayonaise, aku berikan pada Rully.

Tidak banyak cerita yang keluar dari mulutku. Aku hanya menjawab seperlunya pertanyaan-pertanyaan dari teman-temanku, dan mencoba untuk ikut tertawa, yang lagi-lagi hanya di mulutku, tidak membuat hati ini juga tertawa.

Kembali melihat ke arah dua ponsel yang aku letakkan di atas meja, melihat ke arah jam yang tertera di sana, berharap ponsel itu berbunyi, baik dering telepon ataupun dering BBM. Dan akhirnya sekitar pukul 20.25, telepon selulerku berbunyi. Namun dengan berita yang belum membuatku terlalu gembira “Aku baru keluar dari Mega Kuningan niy.”

Dan percakapan berikutnya pun…

“Sekarang sampai mana?”

“Menuju Sudirman, masih macet.”

“Di mananya?”

“Casablanca. Kamu di mana?”

“Masih di PP.”

“Aku jemput kamu ke situ.”

“Iya lah. Jemput ya. Ntar kalo ‘dah deket telepon.”

“Ok.”

Mendengar pembicaraan teman-teman di sekitarku, mulai membuatku semakin merasa “I don’t belong there anymore.”

Disempurnakan dengan “tersuguhnya” wajah 7 tahun itu. Membuat seluruh rekaman kejadian selama 7 tahun itu “terputar” secara otomatis, bagai sebuah film. Film yang benar-benar tidak ingin aku tonton, tetapi tidak ada daya untuk aku memberhentikannya. Benar-benar aku berharap bisa terbang, pergi dari sana seketika.

Tak sabar rasanya, hingga aku memutuskan untuk menghubungi “sang juruselamat”…

“Dah sampai mana?”

“Masih di Sudirman.”

“Dah sampai Anggana belum?”

“Udah.”

“Nanti kalo ‘dah sampai depan Atma, bilang-bilang ya.”

“Ok.”

Mencoba kembali membawa diri menjejakkan kaki ke bumi. Setidaknya mencoba mendengarkan pembicaraan mereka. Namun aku tetap “terbang”. Hanya fisikku yang di sana. Dan kembali aku angkat telepon…

“Dah sampe depan Atma belum?”

“Udah nih.”

“Ya udah ya, aku bayar sekarang, aku turun.”

Tanpa basa-basi panjang lebar, dan langsung menjinjing tas…

“Hmmm guys, gue duluan ya.”

“Buru-buru banget, mau kemana?”

“Mau pulang. Kemaren ‘kan gue dah bilang, gak bisa lama-lama.”

Aku pun berlari keluar dari Urban Kitchen. Berlari ke arah elevator yang ternyata penuh. Lalu berlari ke arah eskalator dan menuruninya. Dan akhirnya sampai juga di lobi.

Tapi….

Melihat kiri-kanan, aku belum mendapati mobilnya. Kembali aku pun mengangkat ponselku dan menghubunginya. Dan langsung mendapati jawaban..

“Di depan-di depan.”

Dan tak berapa lama aku pun melihat mobilnya yang berwarna perak metalik itu. Ternyata ia masih bersama supir yang membantu mengendarai mobilnya.

Aku buka pintu belakang, dan akhirnya aku duduk di sebelahnya.

“Haaaaaiiii, ‘pa kabar? Capekh banget ya.”

“Capekh banget aku.”

Dan aku pun…lega…

Now, i know, i belong here

*Terkadang seseorang harus meminum obat yang sifatnya hanya untuk membunuh rasa sakit. Sekalipun ia tahu bahwa obat itu tidak baik untuk jangka panjang. Namun ia tak punya pilihan, ia harus minum obat itu. Lagi. Sekalipun ia harus berjalan kembali di tandusnya sebuah Savana.*

Tags:

Leave a Reply