1 Januari 2009…

Happy New Year Sweetie…

Mereka berdua kembali di sana. Menikmati kenikmatan sofa itu. Dan di depan televisi yang tak menyala. Lagi. Untuk kesekiankalinya.

Peluk yang sempat tertunda, ada di sana. Tak ada jarak antara pipi mereka berdua. Saat ia memetik dawai gitar dan dendangkan rentetan lirik, untuk ia yang duduk di sampingnya saat itu…

I give her all my love
That’s all I do
And if you saw my love
You’d love her too
I love her

She gives me ev’rything
And tenderly
The kiss my lover brings
She brings to me
And I love her

A love like ours
Could never die
As long as I
Have you near me

Bright are the stars that shine
Dark is the sky
I know this love of mine
Will never die
And I love her

Kebahagiaan dua orang introvert, yang bisa didapat di tengah sepi sekitar.

Kembali duduk di ruang makan itu. Lagi. Untuk kesekiankalinya.

Kali ini mereka terpisah dengan kesibukan yang asik mereka lakukan masing-masing. Satu bermodal gitar. Satu lagi bermodal laptop dan situs jejaring Facebook.

Dua orang introvert yang bisa bagai anak dengan autisma, walau di hadapannya ada makhluk lain.

Melihat jam di dinding, yang sudah menunjukkan pukul 19.30, dan percakapan ini pun terjadi…

“Ya mbok, nyanyi tuch lagunya yang gue kenal gitu.”

“Sengaja.”

“Laper. Nyari makan yuk. Gue dah mulai bosen. Bosen ngga loe?”

“Sama. Sapa suruh dari tadi sibuk ama Facebook.”

“Yang dari tadi sibuk ama gitar sapa?”

“Mau makan apa sayang? Gak usah makan nasi yuk. Biar ngga gendut.”

“Iya nih, niy celana biasanya masih kegedean di gue, sekarang pas. Gue tadi nimbang naik sekilo.”

“Kita makan roti bakar aja yuk. Ada tuch di depan kompleks.”

Mereka pun bersiap-siap untuk berangkat. Dari mulai mematikan lampu. Mengambil semua ponsel dan dimasukkan ke dalam tas. Hingga terakhir ia mengambil kunci mobil di tempat kunci mobil itu biasa tersimpan. Tak ada bedanya seperti tuan rumah yang sudah tahu persis seluk beluk rumahnya.

“Eh munyuk, kok gue siy yang ngambil kunci mobil. Elo tadi harusnya ngambil handphone sekalian ngambil kunci mobil donks.”

“Itu berarti udah kodratnya elo yang nyetir mobil.”

Kembali ia meletakkan kunci mobil di atas meja makan. Sembari ia menunggunya mematikan lampu kamar. Tapi…

“Huh, kok gue lagi yang ngambil kunci. Nih kamu aja yang nyetir.”

“Dibilangin emang udah kodrat kamu yang nyetir. Aku bawa kunci rumah aja ya.”

“Sial.”

Mobil itu pun tak lama kemudian melaju meninggalkan rumah, menuju warung roti bakar.

Mereka menikmati makanan yang mereka pesan. Satu menikmati pisang bakar. Dan satunya, yang pada akhirnya berubah pikiran, tak jadi memesan pisang bakar, yang seharusnya menikmati INTERNET KEJU dengan telur setengah matang, menjadi Indomie Telur (Matang) Keju, ditambah dengan sedikit kekesalan.

Tak lama kemudian, mereka pun kembali ke rumah. Kembali duduk di ruang makan itu. Lagi. Untuk kesekiankalinya.

“Kayaknya gue seneng banget ya duduk di sini. Pas di kursi ini juga khan?”

“Elo mah di mana pun di sini betah.”

“Emang.”

Tak bermodal apa pun. Tak ada gitar yang dipetik. Tak ada laptop yang terbuka. Mereka berbicara tentang apa pun yang mereka inginkan. Mereka cerita tentang banyak hal selama mereka terpisah, walau hanya 3 hari terakhir. Mereka berandai-andai, membayangkan apa yang akan terjadi, jika pertemuan mereka dipercepat oleh alam semesta dan penciptanya. Hingga ia melihat ke arah jam dinding.

“Dah jam 10 sayang. Mau pulang?”

“Nggak.”

Obrolan itu pun berlanjut. Tawa mereka pun menggelegar, tak kalah seru dengan tawa dari 4 orang yang duduk di sana, beberapa bulan yang lalu.

Hingga salah satu dari mereka menilik ke arah jam yang masih menempel di dinding, dan masih berdetak. Berdetak menunjukkan waktu pukul 22.30.

“Pulang yuk.”

“Yuk. Enak ya ngobrol-ngobrol gini.”

“Iya. Giliran gini aja, cepet banget berasanya.”

Dua orang introvert yang akhirnya bisa menjadi sedikit extrovert, yang semu.

Mereka kembali berada di mobil itu. Berusaha mengisi sepi perjalanan yang cukup panjang.

“You know what?”

“Apa?”

“Kalo misalnya kita ketemunya saat di tengah-tengah kamu sama dia, dan aku juga masih sama dia dulu. Kita bakal tetep kayak gini loh.”

Really? Maksud loe selengki gitu?”

“Yupe.”

“Boong banget lo. Gak mungkin. Kenapa bisa gitu?”

“Lah, dua-duanya sama-sama dua orang kesepian di tengah keramaian.”

Mereka berdua tertawa terbahak-bahak…

“Sekarang, elo ngerasa sepi ngga ama gue?”

“Gak.”

“Dulu, elo ngerasa sepi dari awal?”

“Gak. Di tengah-tengah, saat gue mulai tau semuanya ngga jelas.”

“Tapi khan elo juga dah ngerasa khan, mau elo paksain kayak apa juga, elo ngga bisa menaklukkan orang tuanya khan?”

“Iya, tapi setidaknya, gue mau ngomong ke mereka.”

Yeah, apa bedanya. Dulu, bukannya ngga mau tapi ngga bisa. Kalo sekarang, bukannya yang ngga mau, bukan juga ngga bisa, tapi ngga boleh ama alam semesta dan yang ngga terlihat.”

“Mau, bisa, boleh itu tinggal dibalik-balik aja ya, Hon.”

“Tinggal tuker-tukeran tempat aja mereka. Emang brengsek.”

“Emang takdir kita kayak gitu, Sayang.”

“Sekarang gue yakin, ntar saat gue pisah ama elo, gubrag dot com-nya makin parah.”

“Jangan donk.”

“Kecuali gue nyiapin yang baru dulu sebelumnya.”

“Siapin aja dulu!”

Which is bukan gue. Gue dah capekh bermimpi.”

*Lagu: And I Love Her, oleh: Beatles*

Tags:

Leave a Reply