Lelahmu Jadi Lelahku Juga…

Minggu malam, 7 Desember 2008, tepatnya pukul 23.12, aku mendapatkan pesan singkat dari Mas Wawan.

“Karin dirawat di MMC td pagi. Aku br dgr dari shanty via fb.”

Pesan singkat itu baru aku baca sekitar pukul 01.30 Senin dini hari, karena aku ketiduran saat meninabobokan keponakanku tercinta, yang aku ‘culik’ ke Malang, tentu tanpa kedua orang tuanya. Senin pagi ini pula, kami sekeluarga akan terbang kembali ke Jakarta. Senang sebenarnya. Sudah terbayang kembali berada di depan laptop tercintaku, dan kembali “hidup” di dunia maya selama berjam-jam.

Selama menunggu di bandara, aku pun sibuk berbalas pesan singkat dengan Mas Wawan tentang rencana hari ini. Dan akhirnya kami sepakat bertemu di Plaza Semanggi pukul 16.00, setelah urusanku membayar tagihan telepon seluler selesai. Dari Plaza Semanggi, kami langsung menuju Rumah Sakit MMC. Niat kami untuk pergi ke Pacific Place, akhirnya kami urungkan.

“Yakin nih Mas, kita boleh masuk, ga jam bezoek?”

“Kalo ga boleh, gue buat boleh ntar.”

“Ok.”

Kami berdua langsung menuju lantai 3, tempat sahabat kami dirawat. Jam di tanganku menunjukkan pukul 16.30. Sesaatku membuka pintu. Aku tak percaya sama sekali apa yang aku lihat. Sahabatku terbaring lemah, dengan tatapan mata kosong, berpeluh keringat tanpa henti, dan tangan kanan yang mengalami tremor. Suaminya, Yudha tampak panik tak terhingga, apalagi sebelum kami berdua datang, ia sedang menunggui Karin seorang diri. Kami bertiga pun sibuk memanggil-manggil Karin, ia pun merespon dengan sangat lemah. Suaraku pun tak dikenalinya. Yudha seketika memanggil perawat melalui bel yang berada di samping tempat tidur. Dokter jaga pun kemudian datang, dan memeriksa kondisi Karin.

Kami biarkan dokter itu memeriksa, ditemani oleh Yudha dan dua perawat. Aku dan Mas Wawan duduk manis di sofa yang berada di sana. Tirai yang dibuka, membatasi pandangan dan pendengaran kami terhadap hasil pemeriksaan tersebut. Hingga akhirnya dokter menarik Yudha menjauh dari Karin.

Aku sudah mencium ada suatu ketidakberesan di sana. Aku biarkan mereka berdua berbicara, hingga penilaianku bahwa dokter sudah hampir selesai berbicara dengan Yudha, dan rasa penasaranku yang sudah tidak terbendung, baru aku kemudian mendekati mereka berdua. Mas Wawan yang tadinya masih duduk di sofa, kemudian menyusulku mendekati dokter dan Yudha. Tak lama kami berempat berdiri di depan pintu kamar, hingga perawat memanggil, “Dok, sudah merespon, sudah kembali.”

Kepanikan kami yang berada di ruangan itu, terganti dengan rasa lega. Yudha tak tahan menahan air mata dan memeluk istri tercintanya. Tatapan mata itu sudah kembali menggapai segala sesuatu di sekitarnya. Dan begitu ia melihatku berdiri di sampingnya…

“Eh, ada anak monyet.”

“Kurang ajar. So you didn’t know that I’m here?”

No.”

“Apa siy ‘Rin rasanya?”

All white. Terang.”

Tanganku memijat telapak tangan sahabatku itu. Mas Wawan pun melakukan hal yang sama pada telapak kakinya.

Karin tak berhenti menatapku. Hingga aku pun berkata padanya.

“Kenape lu, takjub liatin gue? Jangan buat kita panik lagi ya, Non.”

“Ga, gue belum iseng aja. Liat elu jadi inget gue. Gue belum aja tuch ngasih tau temen gue yang satu lagi kalo gue opname.”

“Rully ‘dah gue sms kok ‘Rin, tapi belum reply aja. Begitu tadi malem gue baca sms dari Mas Wawan, langsung gue forward.”

“Gue sangat beruntung dikelilingi teman-teman yang pinter memijat. Dari panti pijat tunanetra mana Mas?”

Ah, senangnya Karin sudah bisa kembali bercanda di tengah-tengah kami. Senang, akhirnya kami bisa melihat tawanya kembali setelah ia sempat membuat kami panik selama kurang lebih 15 menit tadi. Mas Wawan pun kemudian menanggapi canda Karin tadi.

“Hmmm, saya dari panti pijat Rindu Order, Bu.”

Makan malam untuk sang pasien pun tak lama terhidang. Aku kemudian menyuapi Karin. Baru suapan yang ke-2, dokter spesialis syaraf pun datang. Meminta Karin bercerita tentang apa yang dirasakan. Termasuk semua keluhannya. Aku dan Mas Wawan kembali menjauh, kembali duduk manis di sofa. Dari tempat duduk kami, aku tahu Karin bercerita dengan sangat jelas, baik dari suaranya maupun dari jalan ceritanya. Tak terlihat ia sedang sakit saat bercerita pada dokter.

Setelah dokter meninggalkan ruangan aku pun kembali berdiri di samping tempat Karin terbaring, untuk meneruskan menyuapinya. Suapan ke-3 berhasil ia telan. Namun aku kembali melihat tanda-tanda ketidakberesan lagi. Suapan ke-4 aku masukkan ke dalam mulutnya, belum selesai ia mengunyah, ia kembali lemas dan tremor.

Seketika itu juga aku letakkan piring yang aku pegang, di atas meja. Kemudian berlari ke luar ruangan kamar, menuju meja perawat. Dokter yang tadi memeriksa Karin, ternyata masih ada di sana. “Dok, Karin ‘kayak tadi lagi.”

Kami akhirnya sibuk memanggil-manggil Karin lagi, berusaha untuk menyadarkan ia. Namun dokter bertindak lain.

“Sus, kasih valium aja.”

“Berapa Dok?”

“Yang 5 mg aja.”

Seketika tremor di tangannya hilang. Dan ia pun kembali tertidur. Peluh kembali keluar dari sekujur tubuhnya. Akhirnya dokter memutuskan untuk mengambil tindakan c.t scan terhadapnya. Aku lihat walaupun Karin tertidur, tapi otaknya masih bekerja dengan baik. Tangannya masih berusaha menyeka wajahnya yang penuh keringat. Aku pun kemudian mengambil handuk kecil yang tadi dipakai Yudha untuk menyeka wajahnya. Perawat pun kemudian menyiapkannya untuk diambil tindakan c.t scan. Yudha yang terlihat kembali panik menghampiriku..

“Temenin gue c.t scan donk.”

“Ya, iya lah ‘Dha, masakh kita berdua ninggalin elu.”

Kami bertiga pun menemani Karin untuk menjalani pemeriksaan c.t scan. Selama Karin di dalam, kami bertiga menyempatkan diri menghirup udara di luar rumah sakit. Beristirahat sejenak, terutama untuk Yudha. Ia sempatkan sedikit mencurahkan segala rasa yang ada di hatinya saat itu. Aku yakin, perasaannya kali itu tak karuan. Menyebabkan air mata tak kuat lagi ia bendung saat ia merangkul Mas Wawan.

Istirahat kami saat itu, ditemani dengan sebatang hingga 2 batang rokok. Dan tak lama kemudian aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul 18.30. Sebentar lagi waktunya makan malam. Melihat kondisi Yudha, yang sepertinya sudah tidak memikirkan dirinya sendiri lagi, aku dan Mas Wawan kemudian pergi ke Pasar Festival untuk mencari makan malam, baik untuk kami berdua, juga untuk Yudha, dan mamanya yang rencana datang malam ini.

Setelah kami berdua selesai makan, kami berdua segera kembali ke Rumah Sakit. Saat kami di dalam elevator, dan pintu elevator itu sedang terbuka di lantai sebelum yang kami tuju, kami melihat perawat yang tadi membawa Karin ke ruang c.t scan sedang berdiri di depan pintu elevator. Langsung saja aku tanya padanya.

“Sus, Karin ‘dah selesai c.t scan?”

“Sudah, sekarang dipindahin di ICU. Di lantai sini.”

Sekeluarnya kami dari pintu elevator itu, kami langsung melihat Yudha, yang sudah ditemani oleh mama tercinta. Wajahnya kembali panik, kacau, bingung tak karuan. Tanpa perlu bertanya bagaimana hasil c.t scan Karin, ia pun sudah mengatakannya padaku dan Mas Wawan.

ICU, Intensive Care Unit, tempat yang meninggalkan memori pahit, kembali aku lihat, walau berbeda rumah sakit. Perjuanganku ikut membantu mengupayakan papa bisa bertarung dari sakit jantungnya tahun lalu masih tersimpan dengan rapi, cantik dan tak bercacat di bagian memori otakku. Kali ini sahabatku yang harus merasakan tinggal dan dirawat secara intensif, tanpa lepas dari pengawasan dokter, di ruangan itu.

Satu yang aku minta,…

Aku ingin Karin kembali sehat, bisa berkumpul dan tertawa lagi di tengah-tengah keluarga dan teman-temannya. Dan semoga semua kenalannya, dan bahkan semua yang mampir dan membaca tulisanku ini, berkenan dan tidak lepas mendaraskan doa untuknya…

Wahai Tuhan, Jangan Bilang Lagi, Itu Terlalu….Tinggi….

We all love you ‘Yin, please be tough honey, our prayers always for you…

Tags: ,

Leave a Reply