Perjalanan # 1

A & B sama-sama memakai pakaian atasan bewarna hitam. Sama-sama berlengan panjang. Mereka bertemu di Starbucks Oakwood. Tentu setelah jam kantor usai.

Saat itu, kalau tidak salah hari Selasa. Semua sesuai dengan apa yang direncanakan hanya dengan teknologi pesan singkat, kecuali masalah waktu bertemu. Awalnya mereka berencana bertemu tepat pukul 17.00, akhirnya mulur hingga pukul 18.00, karena perjalanan yang harus ditempuh oleh B dari daerah Bunderan HI sedikit tersendat.

Sesampainya B di Oakwood ia berbelanja sebentar di Ranch Market, dan akhirnya memesan minuman favoritnya di Starbucks. Ia cuma duduk diam di tempatnya. Menunggu A. Menunggu dengan penuh keraguan. Penuh dengan tanda tanya besar di kepalanya, apakah semuanya ini tepat atau tidak, ataukah dirinya siap untuk menantang bahaya yang jauh lebih besar lagi atau tidak.

Saat A tiba dan menghampiri, tak ada cium pipi kiri dan kanan seperti biasa saat B bertemu dengan hampir semua teman-temannya. Pandangan mata yang dingin, dan gaya bicara yang ketus, semua ditampilkan untuk menutupi semua keraguannya.

Setelah A & B menghabiskan seluruh makanan dan minuman, atau setidaknya sudah merasa kenyang, mereka berdua menuju salah satu gedung di dekat tempat pertemuan mereka itu. Menuju ke parkiran, tempat salah satu dari mereka memakirkan mobilnya. Dan akhirnya mereka melaju ke pusat perbelanjaan, di bilangan SCBD, yang sebenarnya pusat belanja favorit salah satu di antara mereka. Dan setahun ini, sering ia habiskan waktunya di tempat itu dengan seseorang. Namun itu dulu, yang berarti tak lagi.

Sesampainya di pusat perbelanjaan itu, tempat yang langsung dituju adalah lantai 6. Bioskop besar dan ternama ada di sana.

“Sial, sebel banget aku tempat ini.”

Memori pahit membuat salah satu mereka sedikit nestapa. Ya, walaupun obat itu pahit, tetap harus diminum bukan?

Akhirnya mereka berdua membeli tiket Quantum of Solace. Film yang memang belum sempat ditonton oleh mereka berdua. Jam pertunjukkan yang mereka pilih, adalah pukul 21.30. Bisa dipastikan mereka akan pulang malam, larut malam, yang sebenarnya dulu sulit sekali dilakukan oleh salah satu dari mereka.

Menunggu waktu hingga jam pertunjukkan tiba, mereka berkeliling pusat perbelanjaan itu. Seperti tak ada tujuan hendak ke mana. Setelah mereka berdua lelah berputar-putar, akhirnya mereka memutuskan untuk duduk di sebuah kedai kopi. Hanya untuk melepas dahaga dan menghisap rokok sebatang, dua batang.

Saat duduk di sana, mereka berdua lebih sering sama-sama diam. Tak ada cerita istimewa yang mereka bagi. Yang satu hanya duduk membaca sebuah majalah, yang satu sibuk dengan sebuah blackberry di tangan, yang diutak-atiknya, untuk mengintip tulisan-tulisan seseorang di situs miliknya. Yang pada akhirnya ia mencoba untuk mendukung orang itu memberanikan diri menjadi seorang penulis. Menurutnya, bakat menulis orang tersebut tinggal perlu sedikit saja diasah.

Hingga hampir mendekati pukul 21.30, mereka berjalan menuju gedung pertunjukkan film yang akan mereka tonton. Dan hanya ada 3 pasang manusia yang menonton film itu, termasuk mereka berdua.

“Brrrrr, dingin.”

“Mau aku peluk?”

Tawaran itu ditolak hanya dengan sebuah gelengan kepala. Dan itu hingga akhir film.

Mereka pun akhirnya pulang. Ada seseorang yang memang harus diantar terlebih dulu, sebelum yang satunya pulang ke rumah. Jauh sebenarnya, namun lengangnya jalanan Jakarta malam hari membuat jarak yang di tempuh hanya membutuhkan waktu 20 menit. Hingga keduanya bisa istirahat dengan nyaman di rumah masing-masing.

Tags:

Leave a Reply