Rawat Inap yang Menyenangkan…

Hah…Kamis malam lalu, rencanaku ingin menyelesaikan draft skripsi nyaris batal. Namun ternyata akal sehatku tak membiarkan itu terjadi. Draft itu akhirnya aku lanjutkan hingga Jumat siang, dan berhasil aku serahkan pada sore harinya. Meskipun menurutku sendiri, itu jauh dari apa yang aku sendiri harapkan, apalagi yang diharapkan oleh dosen pembimbing skripsiku.

Hari Jumat ini, aku juga sudah punya rencana akhir pekan. Reunian dengan pakar-pakar ahli jiwa yang juga mengalami gangguan jiwa semenjak mereka kecil, jauh, sekali lagi jaaaauuuhhh…sebelum aku lahir; Mas Wawan, Karin dan Yudha. Sudah tahunan sejak terakhir kami nongkrong-nongkrong tanpa tujuan yang jelas. Ya, walaupun satu “anggota lama” tidak lagi hadir di tengah-tengah kami, tapi sama sekali tak membawa suasana jadi hambar.

Jumat malam, Karin masih perlu ke dokter hingga malam hari. Jadi aku pikir lebih baik aku nebeng Mas Wawan ke arah Cibubur. Lagi pula mereka itu bertetangga. Kemacetan Jakarta yang menggila membuat Mas Wawan dan supirnya telat menjemputku di lobi Plaza Semanggi, hingga pukul 19.00.

My goodness, kamu kurus sekali!”

Komentar itulah yang pertama kali ia ucapkan sesaatku memasuki mobilnya. Dan itu adalah komentar yang sudah biasa aku dengar, saat bertemu teman yang sudah tahunan tidak bertemu denganku. Pertama kali kami berdua bertemu, kira-kira 6 tahun lalu, saat Karin mengenalkanku dengannya, saat aku dan beberapa teman kantorku pergi berlibur ke Anyer. Setelah itu, seingat kami berdua, kami tak pernah bertemu. Dan ternyata salah, setelah diingatkan Karin, kami sempat bertemu, saat aku, Karin datang ke kos-nya Mas Wawan di daerah Kuningan, tahun 2003 lalu. Namun tetap saja, itu sudah 5 tahun yang lalu.

Tak tahu berapa lama waktu yang ditempuh kami hingga sampai ke Citra Grand, setidaknya aku tak memperhatikannya. Sesampainya di sana, kami tak langsung pulang, tapi belanja makanan dan camilan untuk bekal kami kongkow-kongkow. Dan setelah itu, kami langsung pulang ke rumah (Mas Wawan) sambil menunggu Karin, yang masih antri di dokter.

Nice house Mas!”

Dua hal yang ada dipikiranku, saat aku masuk ke rumah Mas Wawan. Tenang, dan damai. Tak lama kemudian, Mas Wawan memanggil Rangga, putra ke-2nya yang tadi sempat tidur di dalam mobil sebelum supir Mas Wawan mengantarkan kunci rumah, saat aku dan Mas Wawan belanja, karena kunci rumahnya tertinggal.

“Rangga, turun ‘Dek, ada tamu.”

Dalam waktu kurang dari 5 menit Rangga sudah menuruni anak tangga dan bertemu aku.

“Kenalin nih tante Ocha. Iya, nanti tante Karin juga mau ke sini.”

Dalam hatiku “Sial niy Mas Wawan, bikin gue tambah tua.”

Padahal melihat Rangga, aku yakin umurnya tak terlalu jauh denganku. Dan yang lebih membuatku semakin terperangah dan kaget adalah saat ia mengucapkan “Malem, Tante” sembari mencium tanganku.

Aku akhirnya sempat mengobrol dengan Rangga, saat papanya sedang membersihkan diri. Aku yakin usiaku dengan Rangga tak terlalu jauh, jadi aku menyebut diriku dengan “gue” saat mengobrol di ruang makan. Aku rasa ia juga sedikit kaget, terlihat dari raut wajahnya yang sempat sedikit berubah.

Setelah Mas Wawan selesai, kami sempat duduk bertiga di meja makan, sebelum akhirnya Rangga membaca novel di sofa depan televisi dan kemudian sekitar 20 menit kemudian ia kembali naik ke kamarnya.

Tinggal aku berdua dengan Mas Wawan di ruang makan itu. Berbekal dengan laptop dan perangkat hard disk eksternal milik Mas Wawan yang penuh dengan lagu yang membuatku kalap ingin memindahkannya semua ke laptopku yang tak aku bawa saat itu.

Sebagai tuan rumah yang baik, Mas Wawan repot mengambilkan ini-itu untuk aku, terutama makanan, yang sebenarnya aku bisa ambil sendiri. Knowing his quality, aku tahu, aku tak perlu merasa terlalu risih untuk menganggap rumahnya seperti rumah sendiri.

Sembari aku melihat-lihat koleksi lagunya, dan ia sibuk mondar-mandir seperti setrikaan yang sedang dipergunakan, kami pun berbagi cerita, ngobrol banyak hal setelah 5 tahun kami tak pernah bertemu. Bahkan bisa dikatakan ini adalah pertama kalinya kami bisa cerita panjang lebar sebebas-bebasnya. Termasuk pertanyaanku tentang usia Rangga, dan ternyata benar, ia hanya terpaut 7 tahun lebih muda dari aku.

“Ahhh, Mas, Rangga ngga usah manggil aku ‘tante’ lah. Bikin gue tambah tua.”

Tak terasa jam dinding saat itu sudah menunjukkan 23.30 dan Karin menelepon.

“Nyet, di mana lu?”

“Di rumah.”

“Gue baru keluar dari dokter neh. Rencananya ntar mau nongkrong di rumah Mas Wawan atau di rumah gue?”

“Terserah elu lah. Gue khan juga mau pinjem baju rumah lu.”

“Kalo di rumah Mas Wawan, takut Cyrill tengah malem kebangun ntar.”

“Ya udah lah, elu ke sini dulu aja.”

“Deee.”

Aku dan Mas Wawan melanjutkan obrolan tadi, yang jujur sekarang aku lupa saat itu kami sedang membicarakan hal apa. Sampai Karin tiba sekitar pukul 00.15. Karin pun bergabung duduk di meja makan. Saat ia mulai ikut mengobrol mataku sudah tidak kuat untuk terbuka lagi, tapi karena pertemuan ini memang sudah aku nantikan dari beberapa waktu lalu, jadi sayang sekali kalau aku lewati sia-sia.

Pukul 01.30, akhirnya Karin dan aku menuju rumah Karin. Dan tepat sekali Cyrill terbangun dan langsung mencari mamanya yang belum ada di sampingnya saat itu. Anak itu tak takut sama sekali dengan orang baru. Dari Cyrill lahir 3.5 tahun lalu, aku baru 3 kali melihat & bertemu dengannya, yaitu saat ia baru saja lahir, kurang lebih 1 tahun lalu saat di Senayan City, dan akhir pekan ini.

Setelah berganti pakaian dan sedikit membersihkan diri, aku langsung tidur di tempat tidur yang biasa dipakai Cyrill tidur. Ternyata anak kecil itu marah tidak memperbolehkan tempat tidurnya diambil orang lain. Sempat aku juga ikut berusaha membujuknya, tapi tak kunjung berhasil. Hingga alihan perhatian dari sang mama tercinta kembali membuatnya kembali tersenyum. Saat aku tak tahan lagi menahan mata ini terbuka, Karin masih sibuk dengan Cyrill. Tak tahu mereka tidur jam berapa.

Pagi hari, 05.30 aku sudah terbangun, karena kebelet pipis. Lalu aku kembali tidur sebentar, dan pukul 06.00 aku bangun untuk berdoa Malaikat Tuhan, dan langsung bermain dengan Joey. Golden Retriever satu-satunya milik Karin & Yudha. Saat itu tuan rumah belum ada yang bangun tidur.

Yudha pukul 06.30 akhirnya terbangun, karena Sabtu itu ada kuliah. Ternyata dia sedang melanjutkan studi S2-nya, yang juga baru aku ketahui saat itu. Karin dan Cyrill pun tak lama kemudian bangun. Dan langsung Cyrill meminta mama-nya untuk menghidupkan Play Station.

Bermain dengan Cyrill sebentar, lalu aku dan Karin berjalan kaki menuju rumah Mas Wawan. Cyrill kami tinggal dulu di rumah, karena ia harus disuapi makan siangnya terlebih dulu. Sampai rumah Mas Wawan, ia baru saja selesai mandi. Sambil menunggu Cyrill selesai makan, dan menyusul ke rumah Mas Wawan, kami ngobrol bertiga. Lagi-lagi aku lupa apa yang kami bicarakan saat itu.

Setelah “pasukan” lengkap, dan perut sudah merasa keroncongan, karena kita bertiga belum sarapan, kami pun langsung bergegas keluar kompleks dan mencari makanan. Akhirnya kami memutuskan makan siang di Restoran Ny. Suharti, tak jauh dari kompleks. Sekitar pukul 14.30, kami sudah selesai makan, dan akhirnya memutuskan untuk menuntaskan rencana kami berkaraoke. Sebenarnya hal ini ingin kami lakukan beberapa minggu lalu, setidaknya ini yang aku bicarakan dengan Mas Wawan saat kami mengobrol di Yahoo Messanger. 3 jam kami karaoke, lengkap dengan Cyrill yang menyanyikan lagu Balonku, Cicak, Twinkle-twinkle Little Star.

Setelah puas berkaraoke, kami pulang. Kali ini kami mengantarkan Cyrill pulang terlebih dulu. Aku dan Mas Wawan mampir sebentar ke rumah Karin.

“Nanti elu berdua duluan aja pulang ke rumah Mas Wawan, ntar gue nyusul ama Yudha. Gue nidurin ini dulu.”

“Yoi.”

Begitu Karin bilang ke Abang Cyrill bahwa aku ingin pulang, dia mulai marah.

“Tidak, tidak boleh pulang.”

Sambil ia menghalangi pintu dengan kedua tangannya yang direntangkan hingga menyentuh ke dua sisi pintu garasi, yang tak terlalu lebar.

“Bang Cyrill, nanti tante balik lagi. Kemaren khan tante Ocha ngga boleh tidur di tempat tidur Abang.”

“Sekarang boleh.”

“Oh sekarang udah boleh? Ma aci ya. Kalo gitu, tante makan dulu di rumah Oom Wawan ya.”

“Makan di sini aja.”

“Nanti makannya Cyrill abis, terus tante tadi ‘dah beli makanan di rumah Oom Wawan.”

“Ada kok tante, banyak makanan Cyrill.”

“Tapi tante khan harus mandi.”

“Tante mandi sini lagi aja.”

“Baju tante ‘dah tante pindahin ke rumah Oom Wawan, Sayang. Tuch Oom Wawan ‘dah mau pulang.”

“Oom Wawan biar pulang aja sendiri. Hush, hush…”, yang ia lakukan sambil berlaga mengusir Mas Wawan pulang.

“Ya udah, nanti tante balik lagi ke sini ya Bang. Boleh ngga?”

“Ya udah deh.”

“Dagg, Abang.”

Aku dan Mas Wawan kembali di rumah. Pekerjaan utama kali ini adalah membuat duplikat koleksi lagu yang ia miliki. Hal itu aku kerjakan sambil menunggu Mas Wawan selesai mandi. Semua masih aku lakukan di meja makan. Setelah ia selesai mandi, kami kemudian kembali mengobrol. Sampai aku sendiri merasa gerah, dan akhirnya memutuskan untuk mandi. Air hangat, handuk bersih dan sikat gigi, semua sudah disediakan oleh tuan rumah yang baik, di dalam kamar mandi.

Segar betul aku rasa, setelah aku mandi. Sekeluarku dari kamar mandi, aku lihat Mas Wawan sedang menikmati koleksi CD-nya, sambil duduk di sofanya yang super empuk dan enak. Tanpa berpikir panjang aku bergabung di sofa panjang berbentuk L, sambil memeluk bantal-bantal yang semakin membuat orang malas beranjak dari sana.

Obrolan awal kami buka dengan pembicaraan seputar lagu yang kami dengar. Hingga aku sedikit merasa ada satu hal aneh di sana.

“Mas, ini kalo ada orang di belakang ngeliat kita gitu ya, dikiranya lagi nonton tivi. Tapi kok tivinya ngga nyala ya. Yang ada tivinya cuma ada di otak kita masing-masing gituh.”

Obrolan berlanjut. Dan akhirnya membicarakan seputar aku, seseorang, dan seputar aku dan orang tersebut. Yang tak tahu bagaimana awalnya hingga bisa sampai ke arah sana. Seru emang ngobrol tentang psikologi dan para psikologi, dengan manusia “sakit jiwa” yang satu ini. Tanggung jawabnya di kantor yang juga mengurusi orang-orang dengan sakit jiwa mereka masing-masing, ditambah dengan kemampuannya “membaca” orang, yang tak dimiliki oleh semua orang. Sebenarnya aku bingung manusia ini benar-benar manusia, dukun, gabungan keduanya atau bukan dua-duanya. Pada akhirnya dari semua obrolan kami berdua saat itu, aku cuma bisa bilang..

Damn, that’s so true, Mas!”

Di tengah obrolan kami saat itu, Karin sempat menelepon kami.

“Nyet, di mana lu?”

“Di rumah.”

“Hmm, Cyrill belom tidur nih. Elu pulang malem ini?”

“Rencananya sih gitu.”

“Kalo ngga elu pulang besok aja lah. Besok gue mau ke kota juga.”

“Elu mau ke tempat RV? Ntar bakal terjadi tragedi Balai Kartini lagi.”

“Ya, ngga lah. Ntar elu gue turunin di mana gituh.”

“Gampanglah, liat ntar.”

Setelah ia menutup telepon, kami berdua kembali melanjutkan obrolan. Hingga Karin dan Yudha sendirilah yang “memaksa” kami berdua pun beranjak dari sofa itu, dan menghentikan obrolan kami, karena mereka berdua datang. Saat itu sekitar pukul 20.30. Yang tadinya aku ingin pulang, tapi akhirnya aku urungkan.

Sepertinya titik favorit di rumah Mas Wawan adalah seputar ruang makan dan dapur. Maklumlah, posisinya dekat dengan lemari pendingin, dan arena penyimpanan bahan-bahan makanan dan minuman enak. Seperti biasa, dari dulu jika kami berkumpul, topik yang paling menarik perhatian adalah dunia seputar perdukunan dan klenik-klenik yang memang tak pernah tak seru. Obrolan itu tak lepas dari tawa lepas kami berempat, seperti tak peduli dengan tetangga di sebelah rumah, yang sudah kami yakini tak akan berani protes dengan kegaduhan 4 orang yang sudah seperti kegaduhan 10 orang ini.

“Shit, I miss this situation. I miss you all guys, where have i been, where have you been?”

Itu salah satu pikiranku saat itu. Aku pun kemudian mantap untuk membatalkan rencanaku pulang ke rumah malam minggu ini, dan memutuskan untuk menghabiskan satu malam lagi dengan mereka.

Kira-kira pukul 00.30, aku bilang ke tuan rumah.

“Mas, mana, keluarkeun kertunya? Main kertu aja kita.”

Ia pun langsung bergegas ke atas mengambil kartu remi. Dan dimulailah “pembunuhan berantai” yang dilakukan secara bergantian oleh kami berempat ini. Permainan 7 spade yang kami lakukan memang seru. Ditambah dengan “otak kriminal” kami berempat yang sepertinya tak mau kalah satu dengan yang lain. Intinya seru, dan jelas penuh tawa lepas. Dan ini kami lakukan kurang lebih selama 3.5 jam, yaitu kurang lebih pukul 04.00, bersamaan dengan para maling yang baru memulai aksinya. Dan seri “pembunuhan berantai” itu kami akhiri dengan tawa lepas kami berempat saat Mas Wawan menyarankan Yudha untuk menguruskan badan, dengan melakukan “mutih” selama 12-14 hari. Omongan Mas Wawan itu, langsung aku sahut dengan…

“Kalo gue yang ngelakuin itu, gimana Mas?”

Tiba-tiba malah si laki-laki batak yang menyaut…

“Kalo elu yang njalanin itu ‘Cha, terus kalo ada orang yang manggil elu, elu jawabnya bakal tinggal ‘pret’, alias kentut lu doank.”

“Siyal, lu ‘Dha.”

Anyway…it’s great weekend…with you all guys…Cyrill nanti tante main lagi ke rumah Cyrill ya…

Love you all guys…Now I’m more ready to wake up and smell my cappucino…

Tags:

Leave a Reply