Malang Oh…Malang…

Hmm…baru kali ini lebaran aku keluar kota. Maklum aku bukan salah satu dari mereka yang merayakan hari raya tersebut. Biasanya hanya aku habiskan di rumah, dengan acara-acara yang tidak jelas. 

Namun lebaran kali ini sedikit berbeda. Aku diajak tanteku untuk ke Malang, tempat mertuanya. Ini adalah liburan kali ke dua bersama dengan tanteku pada tahun ini, setelah kami sempat ke Bali berdua akhir Agustus 2008 lalu. 

Keberangkatanku kali ini nyaris batal, karena aku terserang flu yang menurutku paling parah dari flu yang pernah aku alami sebelumnya. Hidung tiada henti pilek, suara serak, bahkan sampai hilang sehingga aku tak bisa berbicara; dan pertimbangan lainnya adalah di Malang ada Oma dan Mbah Buyut, yang kesehatannya sedikit rentan. Namun akhirnya aku jadi juga berangkat, setelah sepupuku menelepon tanteku dan memintaku untuk tetap berangkat.

Tanggal 1 Oktober 2008, akhirnya aku berangkat juga. Biasanya kalau aku ke luar kota dengan pesawat, aku lebih suka ke dan dari bandara menggunakan “taksi biru” itu. Namun sayangnya saat aku menelepon ke mereka, taksi sedang keluar semua “Oh, no, just remember ini pas lebaran ya.”

Akhirnya aku minta diantar papa ke Cengkareng. Aku hanya berangkat berdua dengan sepupuku, karena tanteku dan suaminya, juga sepupuku yang lain sudah berangkat dari hari Minggu. Pesawat dalam kondisi penuh, tak satu pun ada kursi kosong, banyak sekali bayi dan anak kecil, belum lagi satu bayi yang tak berhenti menangis dari saat pesawat akan lepas landas sampai kira-kira setengah perjalanan. 

Sampai sana, pertama kali, ya biasa “absen” ke seluruh keluarga. Terutama Mbah buyut (she’s already 91 years old) yang turut merayakan idul fitri. Setelah itu, berhubung di sana ada piano, karena aku juga diminta membawa buku-buku piano sebelum berangkat, langsung aku didaulat untuk menyanyi, dan bermain piano seadanya.

Hmmm…sudah bisa ditebak, setelah itu, suaraku yang tadinya masih bisa bicara sedikit, jadi benar-benar hilang. Dahsyat pokoknya. Benar-benar iri saat melihat sepupuku yang lain bersama-sama main piano dan bernyanyi. Ini benar-benar penyiksaan bagiku. Belum pernah aku lewati satu hari pun tanpa bernyanyi, tapi kali ini, harus aku lewati tanpa melakukan hal itu sedikit pun. Tersiksaaaaa….

Hari ke-2, suaraku tak membaik, bahkan memburuk. Namun ya sudahlah, aku coba lewati liburanku kali ini dengan senang. Setelah makan pagi, kami sebentar mengobrol di ruang tengah sambil melihat DVD konser Andrew Lloyd Webber saat mereka konser di Beijing, China. Setelah itu, kami semua memutuskan untuk pergi ke Klub Bunga, Batu. Daerah ini seperti daerah Puncak.

Sherly, sepupuku yang masih 10 tahun, dan Alvin yang masih 9 tahun, ingin berkeliling Klub Bunga, dengan ATV. Berhubung mereka masih kecil, jadi mereka tidak diizinkan untuk mengendarainya sendiri. Akhirnya kami berlima, aku yang memboncengi Sherly, Birowo yang memboncengi Alvin dan Yudis tanpa memboncengi siapa pun, menaiki ATV keliling Klub Bunga, sampai ke atas bukit, dan bisa melihat kota Malang dari atas. Ternyata seru mengendarai ATV yang cukup berat, dan puas bisa melihat Malang dari atas bukit. 

Belum puas hanya dengan berjalan-jalan di Klub Bunga, akhirnya kami sekeluarga pada malam harinya bermain futsal di lapangan yang kami sewa, yang masih berada di lingkungan kompleks rumah. Berhubung tidak ada yang bisa bermain, kecuali Yudis yang sempat sekolah bola di Klub Blackburn, Inggris, jadi semua tampak seperti srimulat, karena lebih banyak tertawanya daripada menendang bola. Apalagi saat aku dan Birowo memutuskan untuk tetap di pinggir lapangan, kami mendengar ada satu tim yang sedang berbincang-bincang dengan bahasa Jawa “Eh, ojo muleh sekh, ono dagelan neng kene.”

Yang artinya adalah “Eh, jangan pulang dulu, ada lelucon di sini.”

Aku dan Birowo pun langsung ikut tertawa karena malu. “Sial mungkin mereka pikir kami berdua tidak mengerti obrolan mereka yang dalam bahasa Jawa itu. “

Setelah puas tertawa di lapangan futsal, kami pun pulang, untuk makan malam. Kali ini kami makan di rumah saja. Hmm…makan memang jadwal tetap dan sangat teratur, selama aku di sana. Alhasil beratku naik 1 kilo sepulang dari Malang. 

Santapan khas lebaran sudah tersedia di meja makan, begitu kami sampai rumah. Opor ayam dan ketupat siap untuk kami santap. Enak euy..sudah lama aku tidak memakan opor ayam. 

Setelah makan malam, kami sekeluarga, lengkap, kecuali Mbah Buyut, doa Rosario bersama. Tangan kami sibuk mengitari butiran-butiran Rosario sambil mendaraskan doa Salam Maria. Suatu hal yang aku rindukan ternyata, doa Rosario bersama-sama, walau sudah sebulan ini, aku kembali sering melakukan itu sendirian di kamarku, sesaat sebelum tidur.

Selesai doa, kami pun tak langsung tidur, tapi aku, Birowo, Oom Yoseph, dan Tante Ari, bersama-sama menonton DVD di ruang tengah. Film yang diputar kali ini berjudul Goal. Oh ya, seringnya kami nonton DVD, karen Yudis memang sengaja membawa koleksi DVDnya dari Jakarta. 

3 Oktober 2008, yaaa…tiba waktuku untuk pulang ke Jakarta, kembali ke kenyataan. Pesawat Malang-Jakarta hanya ada 1 kali dalam 1 hari, dan jadwalnya adalah pukul 08.55 pagi. Jadi pagi-pagi aku sudah mandi, makan pagi, dan pamitan untuk pulang ke kota yang akan semakin penuh sesak, karena bertambahnya kaum urban baru yang biasanya mendatangi kota Jakarta, setelah hari raya Lebaran.

Tags: ,

Leave a Reply