Malaikat di Daily Bread?…

Satu bulan lebih aku tak menuliskan apa pun di blog ini. Bukan berarti tak ada cerita yang bisa aku tuliskan. Namun lebih karena aku tak ingin menuliskannya di sini. Biarkan sebagian besar roller coster hidupku satu bulan kemarin, hanya aku dan Tuhan yang mengetahuinya secara detil. Biar aku saja yang bisa menikmatinya, memaknainya hingga aku bisa melihat jelas, bahwa itu adalah blue print terindah yang dibuat langsung dan tak ada duanya, oleh Pemilik kunci hidup dan detak jantungku selama ini. 

“Ah, sok religius loe ‘Cha!”

Mungkin kamu masih ingat dengan tulisanku beberapa waktu lalu, saat aku menyatakan bahwa aku tak akan melangkah keluar dari Gereja Katolik sampai saat itu. Jujur, sempat terbersit aku akan meninggalkannya, baik dengan bersikap agnostik, atau secara harafiah, dan tak tahu melangkah ke mana. Namun saat ini, akanku nyatakan lagi bahwa aku tak akan melangkah keluar dari Gereja Katolik. 

Setelah cukup lama, aku merasa hebat dan kuat untuk berjalan sendiri, kali ini, aku kembali mencari lentera itu. Lentera yang kubiarkan redup, bahkan hampir mati. Ia sulit kutemukan, walaupun aku tahu, ia tak jauh. Yakin benar ia masih menyala untukku, walaupun sangat kecil.  

Namun perlahan aku kembali melihat cahayanya. Keraguan tak kalah hebatnya bersaing dengan keyakinanku, untuk mendekatinya, hingga ia tak lagi redup. Sulit memang, menggila aku dibuatnya. Seolah aku sedang berdialog dengan setan dan malaikat, di samping kiri dan kananku.

Sampai saat itu, 8 Agustus 2008, Jumat sore, dan berarti pulalah aku membagikan sedikit jungkir baliknya aku di satu bulan kemarin. Hari itu aku bertemu dengan seseorang yang kejam, mirip Nazi, di kantorku dulu. Yah, tapi memang dari dulu, aku sudah berpikir, kelakuannya itu memang beralasan. Otaknya yang cemerlang, seolah-olah melegalkan semua perbuatannya.

Terakhir kali aku bertemu dengannya akhir tahun 2006. Berarti hampir 2 tahun kami tidak bertemu. Kabar terakhir yang aku dengar tentang dia dari Rully, bahwa ia telah berubah menjadi orang yang lebih filosofis dan religius. 

Saatku sedang istirahat sejenak di Toko Roti Buana Sentra Mulia, sambil menunggu sakit kepalaku hilang, sehingga aku bisa melanjutkan perjalananku kembali, aku mengirim SMS untuk Rully “Yi, aku di buana ya, kalo kamu ngga sibuk n bisa turun, turun ya, kalo ngga juga ngga papa.”

Tak berapa lama Rully menghampiriku.

“Aduh kenapa Sayang?”

“Hehehe biasa migren kumat.”

“Yuk gabung ke Daily Bread, ada Cokie.”

Tanpa pikir panjang aku pun langsung beranjak, dari Buana pindah ke Daily Bread.  Ternyata di sana ada Karin juga. Semacam reuni kecil lah jadinya. Karin, Rully, dan aku (saat aku diberi kesempatan tak lagi menjadi sekretaris Kepala Divisi, di divisi Liabilities, Bancassurance and Investment), dulu sempat berada di bawah Sub Divisi yang dikepalai oleh Cokie ini, yang saat itu sudah memegang jabatan Assistant Vice President.

Apa yang aku dapatkan setelah beberapa menit aku duduk di sana? Mereka bertiga masih saja membahas urusan kantor. Tepatnya Karin sedang curhat tentang pekerjaannya. Huh, makin migren aku mendengar itu semua. 

Di sela-sela acara curhat si Karin, tiba-tiba Cokie bertanya padaku “Gimana masih kuliah kau?”

“Masih, lagi berusaha nyelesein skripsiku.”

“Lama juga kau kuliah ya. Terakhir ketemu kau bilang masih kuliah khan?”

“Khan 4 tahun, Bang.”

“Ngambil apa si kau?”

“Psikologi.”

“Weits.”

Tiba-tiba si Karin menimpali, “Terinspirasi gue, dianya.”

Maklumlah si ibu itu, yang juga salah satu teman terdekatku di kantor, selain Rully, memang bergelar S.Psi di belakang namanya.

Terus kembali Cokie, bertanya padaku “Trus apa yang kau dapat selama 4 tahun di sana?”

Dalam hatiku “Anjrit ya niy orang, masih aja, kalo nanya kayak gitu.”

“Duh, susah juga ya gue jawabnya. Banyak banget yang gue dapetin.”

Sambil mataku menatap mata Rully, seolah-olah aku meminta bantuan. Ternyata ia menyadari hal itu, dan kemudian menimpali “Ya, jawab aja kali, susah amat.”

Kembali Cokie menanyaiku “Sesuai dengan target lu atau ngga?”

“Lebih dari yang gue harapkan sih, jauh dari perkiraan gue, Bang.”

“Good, berarti emang ada gunanya elo sekolah lagi.”

Mengobrol panjang lebar, seputar pekerjaan, dan seperti biasa, gosip seputar orang kantor, sampai akhirnya Karin harus pindah ke meja sebelah untuk rapat. Kami pun bertiga terdiam seketika, tak punya bahan pembicaraan, karena sebelumnya kami hanya menimpali, mendengarkan Karin bercurhat ria. 

Aku masih menunggu bukti bahwa Cokie ini telah menjadi seorang yang filosofis. Sampai ada satu omongan yang cukup membuatku tertarik. Sangat logis, tapi sayangnya aku tak menuliskan lengkap ucapannya, dan hanya dua hal terakhir yang aku ingat, dari hubungan sebab akibat yang ia jelaskan saat itu, “Bagaimana elo bisa punya Godly kindness, kalo elu ngga punya brotherly kindness.”

Beberapa hari kemudian, tak tahu mengapa aku mengirimkan SMS untuknya “Cok, omongan lu lumayan nancep di gue.”

Lalu ia mengirim SMS kembali padaku “Makannya baca tuh Yakobus, James, jangan cuma dianggurin Alkitab lu, btw it’s the greatest book ever.”

Waduh, sama sekali aku tak mengira, manusia seperti Cokie, seorang Sub Division Head ala Nazi dan dengan kualitas seperti dulu yang aku tahu, sekarang baca Injil.

Aku pun membalasnya, dengan keraguan yang luar biasa besarnya, “Yupe. Iya niy dah lama juga gue tutup tuch buku. Ntar dech mulai gue buka-buka lagi.”

Ada satu perbedaan mencolok antara orang Katholik dengan orang Kristiani lainnya, kalau pada hari Minggu kami ke gereja. Orang Katholik sangat jarang membawa Injil saat hendak perayaan Ekaristi ke gereja, sedangkan umat Kristen lainnya, Alkitab tak lepas dari tentengan mereka. Maklumlah, kami, umat Katholik, semua sudah disediakan di lembar gereja mingguan, mulai dari doa-doanya, pilihan lagu, bacaan-bacaan Kitab Suci, sampai ke Injil utama minggu itu. Jadi bagi kami, ke gereja cukup membawa Puji Syukur, atau bahkan hanya berlenggang, tak membawa buku apa pun.

Beberapa hari kemudian Cokie kembali mengirimiku SMS, “Ocha, kamu tertarik untuk bible study ngga, biar makin mantab ilmu Psikologimu?”

Dalam hatiku “What, gue, bible study? Yang buener.”

Dan sampai Cokie mengirimiku SMS itu, aku bahkan belum kembali melirik Injil yang tertata rapi di rak buku kamarku.

Aku pun membalas SMS itu “Hmm, kapan, di mana? Sama sapa?”

“Terserah elu di mana, kapan pun elu bisa.”

Wah canggih juga niy, jadwalnya bisa semauku, “Kok bisa kayak gitu?”

“Metodenya one on one. Disesuaikan sama jadwalmu” 

Aku pun mencoba untuk berkelit, dengan harapan Cokie menyerah, dan tak menanyaiku lagi “Pengen siy, tapi abis tanggal 10 September ya, gue mau ngejar skripsi dulu.”

Terus terang aku lupa isi lengkap SMS balasan darinya setelah itu tapi yang membuatku tertarik adalah kalimat yang satu ini, “Tapi gue yakin siy, kalo pun elu mulai besok, skripsi loe makin bagus.”

Tak masuk akal. Apa hubungannya Injil, Alkitab, Kitab Suci dengan skripsiku? 

Lalu Cokie kembali mengirimiku SMS “Biar makin mantap, yang ngajar artis, yang udah bertobat. Cewek, seumurmu.”

“Siapa?”

“Salah satu penyanyi Warna.”

“Hah, Ary? Kalo Ary gue ngga mau, dia temen sekelas gue waktu SMA kelas 3.”

“Bukan, cewek kok.”

“Iya, Ary juga cewek kali. SMA gue khan cewek semua.”

“Ria.”

“Oh, ok.”

Berakhirlah balas-balasan SMS kami berdua, tapi hanya untuk beberapa saat, sampai ia kembali mengirimiku SMS, “Aku dah hubungi Ria, semangat sekali dia ketemu kau. Dia besok bisa dari jam 3.30-6.00.

Dalam hatiku saat itu, “Wadddduuuhh…beneran ya, niat kali dia.”

“Ya udah, besok di Puri Indah Mall bisa?”

Sedikit mencoba tricky, mencari tempat yang tak banyak orang tahu, walaupun aku tahu kantor Cokie yang baru itu di Arjuna Selatan, tak jauh dari Puri Indah. 

Balas-balasan SMS pun berlanjut hingga kami sepakat untuk bertemu di Senayan City, jam 15.00 pada hari Jumat, 15 Agustus 2008.

Dialogku dengan setan dan malaikat, di sebelah kiri dan kananku, belum juga berhenti, mungkin sampai sekarang. Namun tak tahu mengapa, akhirnya aku berpikir “Tak ada salahnya lah liat dulu. Secara Cokie gitu yang ngajak. Ngga mungkin tanpa alasan, dan kalo ngga ada hasil yang memuaskan.”

Satu pertanyaan yang sempat pop up di benakku, “Cokie, malaikat?”

Jawabku “Naaaaa.”

“Jadi elo siapa Cok?”

Tags: ,

Leave a Reply