Siang Seru Bersama Dengan Ayah…

Siang ini, kira-kira sekitar pukul 14.00, aku hendak mengeluarkan dua ekor dachsund milikku, Kino dan O’Neil dari “kamar” mereka (kandangnya, yang aku sebut sebagai kamar mereka). Mereka sejak pagi di situ, karena aku perlu melakukan sesuatu hal, dan jika O’Neil tetap di dalam, di ruang tengah, ia terus-menerus meminta untuk digendong, jadi aku masukkan mereka di kamar.

Sebelum aku hendak mengeluarkan mereka berdua, aku terlebih dahulu mampir ke kamar Goldie, si Golden Retriever-ku yang memiliki berat badan 32 kg, untuk memberinya makan siang. Tiba-tiba di belakangku aku dengar suara gemerusuk, di antara dedaunan kering yang berjatuhan di kebun belakang. 

Tak tahu mengapa aku langsung berpikiran “Jangan-jangan ada ular.”

Aku pun langsung melompat ke arah teras, karena aku yakin tak mungkin suara itu berasal dari gerak anjing-anjingku, karena saat itu mereka semua lagi di dalam “kamar” masing-masing. Kerumunan burung gereja yang juga biasa bertandang ke kebun belakang, tidak akan membuat suara segaduh itu. 

Setelah aku yakin posisiku aman berada di teras, dengan lantai yang cukup terang, aku pun mulai jongkok dan melihat dengan seksama ke arah kebun belakang. Rasa penasaran itu pun akhirnya terjawab, begitu aku melihat seekor ular meliak-liuk di tanah, di antara dedaunan yang berjatuhan. Ia berwarna coklat tua, dan bergaris hitam yang membujur dari kepala hingga ke bagian ekor. Diameter ular itu sekitar 2.5-3 cm. Ia meliak-liuk menuju ke arah “kamar” O’Neil dan Kino. Langsung aku berteriak memanggil papa.

“Pa, there is a snake.”

Papaku langsung keluar ke kebun belakang, “Mana.”

“Di sana, ke arah sana.”

“Yang dongak itu.”

“Bukan, kalo itu dahan, yang mepet tembok belakang itu.”

Maklumlah mata papa sudah tidak setajam mataku. Setelah ular itu mendekat ke arah kami barulah papa melihatnya. Ular itu diusir papa, tapi ia cuma meliukkan badannya, dan kepalanya kembali ke arah kami. Ular itu kemudian sedikit di ajak berbicara oleh papa “Kamu mau ke mana sih?”

Ia kembali meliukkan badannya, dan menjauh dari kami. Kami melihatnya dari jauh, dan ternyata ia pergi ke arah “kamar” Goldie. Aku pun sedikit panik dan pergi ke dapur untuk mencari garam. Setelah mengambil garam dapur, aku kembali ke kebun belakang, untuk menaburi garam itu di sekitar “kamar” Goldie. Ular itu kemudian mengarah ke teras belakang, tempat aku dan papa berdiri saat itu, kepalanya sudah menegak dan seolah-olah melihat ke arah papa. Papa sudah mengambil pacul.

“Gimana dibunuh aja apa?”

Aku terdiam, tak berani menjawab.

“Gimana ya, caranya dia keluar dari rumah ini, tapi ngga dibunuh?”

“Aku ngga tega bunuhnya.”

Papa berkata demikian sembari menghentikan ayunan paculnya yang diarahkan kepada ular itu untuk ke sekian kalinya.

Akhirnya papa hanya menghentakkan pacul itu ke lantai di dekat ular itu. Si ular malahan semakin meliuk-liuk ke arah teras. Kali ini ia melipir ke tembok kamar abangku, yang memang berada di luar rumah induk. Di pinggiran tembok kamarnya itu ada sedikit lahan sekitar 30 cm x 150 cm, yang ditanami tanaman yang langsung ditanam di tanah maupun tanaman pot. 

Ular itu bersembunyi di antara pot dan tanaman. Untuk memancingnya keluar, papa terpaksa memotong batang-batang tanaman di sana, yang menghalangi kami. Kebetulan di sana tergeletak pot kosong dari tanah liat. Agar memudahkan kami melihat posisi ular itu berada, pot itu sedikit kami gulingkan, mendekat ke arah kami. Kami masih fokus mencari ular itu di antara tanaman lahan kecil itu. Tak ada lubang sama sekali di lahan itu, tapi kami tak menemukan ular itu.

“Loh, kok ngga ada? Kemana dia?”

“He eh Pa, lari kemana ya dia ya? Kesini juga ngga ada tuch.”

Aku sembari kembali melihat ke arah berlawanan. Kami pun bingung mencarinya. Tak lama kemudian papa melihat ke arah pot kosong tadi yang terguling di dekat kami itu.

“Lah di sini nih malah ularnya. Piye yo? Potnya didiriin aja terus di krukup pake karung kali ya?”

“Tapi ntar ularnya keluar, gara-gara gerak-gerak.”

Papa akhirnya mengambil seperti skop kecil yang biasanya digunakan mama untuk berkebun, untuk menegakkan pot itu, dengan hati-hati.

Sekh, pa ta goleki karung sekh.”

Yang artinya adalah “Bentar Pa, aku cari karung dulu.”

Setelah mendapati karung bekas beras, aku kembali ke belakang.

“Ularnya masih di diem di situ?”

“Masih.”

“Eh tapi karungnya diameternya cukup ngga ya?”

“Digunting dikit pinggirnya, biar bisa masuk.”

Aku pun kembali ke dalam, dan menggunting bagian-bagian pinggir mulut karung itu. Setelah digunting aku kembali ke kebun. Aku berikan karung itu pada papa.

“Eh pa, jangan dari arah situ, itu di pinggir potnya ada lubang-lubangnya, nanti tau-tau dia keluar dari situ lagi. Dari arah sana ajah yang ketutup semuanya.”

“Tapi aku ngga bisa liat, arah pandangku kacau kalau dari sana.”

“Gini-gini papa pegang karungnya dari arah sana, aku dari sini.”

Akhirnya pot itu berhasil tertutupi dengan karung beras.

“Sebentar, aku ambil tali rafia ya.”

“Ho-oh ho-oh.”

Kami pun berdua mengikat pot yang sudah tertutup dengan karung itu dengan tali rafia dengan erat. 

Setelah terikat rapi, papa bilang padaku, sembari sedikit memiringkan pot itu “Liat bawah potnya, bolong atau ngga.”

“Bolong sih ngga pa, retak-retak iya.”

“Lah terus piye yo.”

“Aku ambil karung lagi aja, kita iket lagi dari bawah.”

Kali ini aku merobek sisi samping dan bawah karung bekas beras sehingga karung itu cukup lebar untuk membungkus pot. Kemudian kami mengangkat pot itu ke atas karung yang sudah dilebarkan, dan kami mengikatnya. 

“Gimana, dibuang ke belakang aja?”

“Lewat tangga belakang? Jangan, nanti malah nyari perkara lagi, tiba-tiba potnya pecah malah ularnya jatuh di atas kamarnya Goldie.”

“Terus dibuang kemana?”

“Lewat depan aja.”

“Terus lewat tengah rumah gitu?”

“Iya.”

“Kalo nanti ucul neng jero omah piye?”

Maksudnya adalah “Kalo nanti lepas di dalem rumah gimana?”

Akhirnya si papa punya akal “Oh, pake gerobak aja, lewat samping. Kamu tungguin ularnya ya, aku keluarin mobil dulu biar bisa dari garasi samping.”

Setelah mobil keluar dan garasi samping sudah terbuka, papa mendorong gerobak kecil yang kami punya ke kebun belakang.

“Ini ngga bakal pecah khan kalo diangkat?”

“Semoga.”

“Ya udah, kita cepet aja ngangkatnya ya.”

“Papa pegang atasnya ya, aku pegang bawah,  one-two-three.”

Akhirnya pot itu berhasil kami naikkan di atas gerobk itu, dan kami berdua mendorong ke luar rumah. 

“Pa, kalo dia di sini terus sama aja kita mbunuh dia.”

“Nggak kok dia masih bisa napas, karungnya masih ada lubang udara.”

“Tapi khan dia ngga bisa cari makan.”

“Iya juga ya.”

Masalah berikutnya adalah tempat membuang ular itu. Kami kemudian mendorong ular itu ke arah lahan ilalang di daerah area belakang kompleks rumah, dan membuangnya di sana.

Aku lupa membawa gunting untuk membuka ikatan karungnya, karena kami tetap ingin seperti rencana semula, tak ingin membunuh ular itu. Aku pun kembali ke rumah untuk mengambil gunting. Ikatan tali rafia itu kemudian aku buka, dan papa kemudian melepaskan karung penutup itu. Si ular tetap tidak mau keluar dari pot itu. Kemudian papa menggulingkan pot tersebut. Ular itu seolah-olah hanya mengintip situasi di luar pot. 

“Anjrit di mana nih gue, kok ngga kenal ya tempatnya.”

Mungkin seperti itu pikiran si ular tersebut.

Kemudian aku sedikit mengajak bicara si ular “Hei, i am not going to kill you, jangan balik ke rumah gue ya.”

Tak tahu mengapa si ular malah kembali masuk ke dalam pot. Aku dan papa sempat menunggu sekitar 5 menit di sana, dan si ular tak kunjung keluar dari dalam pot. Aku pun kemudian mengintip ke arah dalam pot. Dia sudah melingkar dengan kepala di sela-sela tubuhnya. 

“Ye, malah tidur lagi lu.”

“Dah Pa, tinggal aja. Masih ketakutan kali dia.”

“Stress juga kali ya dia. Masih shock sepertinya.”

Tambahan:

Tak perlu membunuh ular, jika memang hal itu bisa dihindari. Mereka tetap makhluk hidup yang mempunyai hak hidup. Mereka hanyalah berusaha bertahan hidup dan melindungi diri. Perlakuan yang tepat dapat melindungi keselamatan diri kita sendiri, juga si ular.

Apakah di antara kalian ada yang mengetahui persis bagaimana cara menangkap dan menghadapi ular tanpa harus membunuhnya? Jika ya, bisa diceritakan juga di sini. Terima kasih.

Tags: ,

Leave a Reply