Saat Aku Mendengar Vonis Itu…

Selasa, 24 Juni 2008 aku membawa O’neil anjing dachsundku ke Klinik Dokter Hewan yang biasanya. Hari ini aku hendak memeriksakan darahnya untuk persiapan pembersihan karang giginya yang sudah lama aku rencanakan, namun baru sekarang aku ada waktu longgar. 

Setelah ambil darah, kami pun pulang ke rumah. Namun sesampainya di rumah, aku melihat keanehan dan perubahan tingkah laku anakku yang satu itu. Dia jadi malas bergerak, dan gerak kaki belakangnya tidak seimbang, bahkan doyong. Hal itu aku sebenarnya akur rasakan sejak kami di klinik tadi. Ia enggan menaiki anak tangga yang hanya berjumlah 3 buah saat akan memasuki pintu klinik, sampai akhirnya ia harus aku gendong. Biasanya dia senang sekali berlompatan. Ia juga tidak menaiki sofa kesukaannya di rumah untuk tidur, dan sebagai gantinya ia tidur di atas keset di depan pintu masuk rumah. Mama juga melihat keanehan itu.

Tanpa basa-basi, keesokan harinya, Rabu, 25 Juni 2008, aku kembali membawanya ke klinik. Kali ini ia di X-Ray. Hasilnya, menurut dokter tidak terlalu buruk. Menurut dokter hewannya, drh. Nyoman ada pengapuran sedikit di tulang punggung di ruas ke sepuluh dari belakang, dan hal itu sepertinya tidak akan mempengaruhi gerak kaki-kaki belakangnya. Selain itu, hasil X-Ray itu juga menunjukkan tidak ada tulang-tulang yang berpindah lokasi. Ia pun di beri suntikan dan obat, yang menurutnya seharusnya ada perubahan dalam 3 hari. Sesampainya di rumah O’neil sudah bisa berlari, dan mulai melompat-lompat.

Namun hal itu hanya satu hari itu saja. Esoknya gerakannya tidak selincah hari Rabu. Kamis, 26 Juni 2008, walau keadaannya membaik, tapi belum kembali ke seperti semula. Hal itu terus begitu, hingga hari Selasa, 1 Juli 2008.

Selasa kemarin aku membawanya kembali ke klinik. Semula ia akan mendapat perawatan gigi, yang termasuk operasi, karena harus bius total. Namun syukur, dokternya membatalkan operasi tersebut, mengingat harus melihat perkembangan kondisi kakinya, walaupun hasil pemeriksaan darahnya memungkinkan untuk dilakukan anestesi. Untuk anjing seusianya 9.5 tahun, perlu dilakukan pemeriksaan darah lengkap seperti manusia, sebelum dilakukan operasi. Hasil kreatinin dan ureum yang menunjukkan kadar urin dan fungsi ginjalnya masih bagus. SGOT dan SGPT yang menunjukkan fungsi liver dan ototnya juga masih baik. Hemoglobin, kekentalan darah untuk fungsi pembekuan darah jika terjadi pendarahan juga menunjukkan angka yang baik. 

Dokter yang memeriksanya kali ini berbeda dengan dokter yang memeriksa minggu lalu, yaitu drh. Cucu Kartini. Hasil X-Ray minggu lalu aku tunjukkan kepada dokter tersebut, yang kebetulan dokter kepala, yang biasanya memang menangani O’neil. Hasil diagnosisnya memberikan aku kabar buruk tentang O’Neil. Pengapuran tulang juga ada di ruas tulang bagian belakang, yang mendekati ekor. Hal ini akan mempengaruhi syaraf-syaraf penghubung hingga kaki belakang, dan hal terburuk yang mungkin akan terjadi adalah kelumpuhan kaki belakang. Hal ini merupakan salah satu degenerasi organ-organ tubuh, sama seperti manusia. Usia mempengaruhi elastisitas dan kerja seluruh organ tubuh. 

Rabu, 2 Juli 2008, pukul 8.30 pagi, setelah ia bangun tidur, yang sudah seminggu ini, ia kembali tidur bersamaku di kamar, seperti biasa aku menyuruhnya untuk house breaking. Sekembalinya ia dari ritual paginya, ia meminta masuk ke rumah lagi, dan saat itu aku sangat kaget. Seluruh badannya kejang, perutnya kaku, dan kaki-kaki belakangnya gemetar. Ia menghampiriku dan mengerang kesakitan. Otomatis aku langsung panik. Permintaanya untuk digendong aku, langsung aku turuti seketika. Ia pun masih mengerang kesakitan. 

Aku tanya mama, papaku di mana. Ternyata papa lagi jogging pagi, dan syukur ia sudah tiba ke rumah saat itu. Langsung aku bilang padanya “Pa, anterin aku ke rumah sakit.”

Papa sudah tahu, bahwa O’Neil sakit, karena saat aku memintanya mengantarku, aku sambil menggendongnya. Baru kali ini pula aku meminta orang rumah untuk mengantarku, selain saat membawa Cricket yang terkena Parvo, saat malam Lebaran 2005 dan jam 2 pagi harus ke Klinik Hewan 24 jam di Sunter. 

Aku pun sudah tak pedulikan lagi untuk mandi dan berganti baju. Langsung aku nyalakan mesin mobil, tentu sambil menggendongnya. Papa langsung berganti baju dan membawa roti juga obatnya ke mobil, untuk mengantar kami berdua. O’Neil akhirnya bisa tidur di pangkuanku, setelah ia mengerang kesakitan beberapa lama. Mungkin saat di mobil, sinar matahari pagi membantunya untuk mengurangi rasa sakit itu. 

Sesampainya di Klinik, dokter yang bertugas praktek hari ini drh. Nyoman, belum datang, dan dokter yang satu lagi sedang sibuk memeriksa para pasien rawat inap satu per satu. Aku terpaksa menunggu. Syukur keadaan O’neil tak separah tadi. Saat ia aku turunkan ke lantai, ia sudah tak kejang dan gemetaran, bisa duduk dan berjalan. 

Sembari menunggu dokter, aku menggendongnya di sekitar klinik, sambil memandikannya dengan sinar matahari pagi. Serasa sedang menjemur bayi yang baru lahir. 

Saat ditangani dokter, ia di suntik Neurobion, dan ia menanyakan gimana pendapat drh. Cucu tentang hasil X-Ray. Aku mengatakan pada drh. Nyoman apa yang dikatakan drh. Cucu. Kemudian drh. Nyoman kembali memeriksa hasil X-Ray, dan ia baru menemukan hal yang sama menurut pendapat drh. Cucu. Ia memintaku untuk kembali menunda rencana pembersihan karang gigi, mengingat perlu untuk dilakukan anestesi total. Pemberian obat untuk O’neil pun perlu diperpanjang, dan rasanya perlu untuk dilakukan akupuntur. 

Sedih rasanya mendengar vonis tersebut. Sedih dan menyesal karena aku telat membawanya untuk pembersihan karang gigi. Sedih karena pengapuran itu tidak bisa disembuhkan total, hanya dilakukan pengobatan untuk memperlambat pengapuran lebih lanjut. Lebih sedih lagi, kalau aku mengingat kemungkinan terburuk yang bisa terjadi menimpa O’neil. Ditambah ilmu kedokteran hewan di dalam negeri, belum secanggih ilmu kedokteran hewan di luar negeri, yang sudah bisa menyediakan semacam roda penyangga kaki belakang untuk anjing (terutama dachsund) yang anatomi punggungnya memang rentan untuk penyakit-penyakit tulang punggung. Kedokteran hewan di luar negeri juga sudah ada spesialisasinya. Ada dermatologist vet, ada ortopedic, ada dental surgeon (bahkan ada khusus ahli ortodontist)

Sedih, karena ia tak selincah dulu. Sedih karena aku tak tahu sampai kapan aku masih bisa bersamanya. Semoga kami berdua bisa melewati ini semua dengan kuat dan tabah. 

Saat ini yang ada di benakku adalah, aku tak ingin memelihara anjing lagi, setelah mereka semua kembali ke Sang Penciptanya. Rasanya tak kuat aku melihat mereka menanggung rasa sakit.

Mommy loves you ‘Neil, always


Ps
: foto tersebut, diambil beberapa bulan yang lalu, saat O’neil masih lincah, bahkan bisa naik ke kamarku sendiri, dan minta untuk dibukakan pintu. 

Tags: ,

One Response to “Saat Aku Mendengar Vonis Itu…”

  1. Nonie says:

    Hi … turut sedih membaca cerita nya … Yah semoga Neil sekarang sudah sehat walafiat ya :-) Salam

Leave a Reply