Aku Sebut Sebagai Pesta Yang Menyenangkan…

28 Juni 2008 baru kemarin berlalu. Sahabatku, yang kebetulan juga satu sekolah denganku selama SMP-SMA, baru saja menikah. Muninggar Rahma Witin dan Marinus Wakil Witin. Dan, sebelumnya aku ucapkan selamat untuk mereka berdua, yang diiringin oleh peluk cium dariku. 

Akad nikah dimulai pada sore hari dan dilanjutkan dengan resepsi pernikahan mereka berdua. Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, saat resepsi aku akan memakai kebaya putih dan bubble skirt bermotif batik, yang baru sabtu pagi, hari yang sama, diantarkan oleh sepupuku ke rumah. Alasannya aku malas menjadi tak leluasa berjalan karena balutan kain. Apalagi siang harinya hal yang tidak mengenakkan itu sudah aku rasakan. Tak bisa berjalan dengan leluasa, karena terpaksa menggunakan kain batik motif pesisir, walau sudah dijahit menyerupai rok. Memakai baju seperti itu pada akad nikah bukan rencana awalku. Sack dress hitam berkerah kombinasi halter dan turtle neck yang akan aku kenakan ternyata sudah tak laik aku gunakan. Sayangnya karena sudah lama tak aku pakai, turtle neck sudah rusak, karetnya sudah mulai mengendur. Akhirnya aku memakai kebaya biru tua, yang biasanya aku kenakan dengan kain batik Jawa Tengah lengkap dengan wiru. Namun kali ini aku kombinasikan dengan kain lain.

Semua acara akad dan adat Jawa selesai dilaksanakan sekitar pukul 16.00. Ternyata perutku sudah keroncongan, karena aku baru ingat aku lupa makan siang. Akhirnya aku ke salah satu restoran pizza di dekat situ, sekalian menghabiskan waktu menunggu resepsi. Di restoran itu pula aku berganti baju untuk resepsi. Tak perlu pergi ke salon pikirku, rambut yang tak susah di atur ini, sudah aku blow sebelum acara akad, dan tata rias, aku hanya mengandalkan kemampuan dan perlengkapan yang aku punya. 

Sekembalinya ke tempat acara, belum banyak tamu yang datang. Sedangkan gandenganku malam itu, harus kembali ke mobil sebentar, karena telepon genggamnya tertinggal. Aku pun kemudian bertemu dengan salah satu teman lamaku, Pelangi Gunawan. Kami berdua sudah tak bertemu selama 8 tahun. Sempat kehilangan kontak satu sama lain, dan kembali bertemu di jaringan facebook. Kami kemudian mengobrol bahkan sempat foto-foto di salah satu bangku panjang di tempat resepsi Pendopo Kemang itu. Manusia kecil itu dari dulu tak pernah berubah. Sangat baik, lugu dan selalu mau menolong. Hmm..dari dulu aku perhatikan ada beberapa kesamaan antara aku dan dia. Kami berdua ini lebih senang memilih sebagai penonton atau penikmat dan penggembira di antara gelak tawa teman-teman kami yang lain. Bisa-bisa, kami malahan berada di luar kerumunan keramaian itu. Dan, hal ini masih aku lihat saat pesta malam ini. 

“Hmmm, Ngi…masih ngga berubah kamu ya. Masih baik, lugu. Jangan terlalu baik loh..nanti gampang ditipu orang. Hahahaha.”

Muning dan Josh, tidak terus menerus “dipajang” di pelaminan. Mereka berdua yang berkeliling menghampiri para tamu. Setelah aku dan “tttuuuutt…” (sensor, hahaha) menyalami mereka berdua, kami pun duduk di bangku di luar ke dua pendopo yang berbentuk joglo jawa itu. Mau mengambil makanan pun malas rasanya, karena perut ini masih kenyang, karena pizza enak yang kami santap sebelum resepsi. 

Aku hanya mengobservasi teman-teman lamaku, yang sebagian besar sudah aku sapa saat bertemu di akad tadi, walaupun memang banyak juga yang baru datang. Aku menunggu, jika jumlah mereka yang baru datang sudah banyak, baru aku menghampiri kerumunan teman-temanku, dan menyapa mereka sekaligus. Hmmm, walau aku pikir “Yeah, another basa-basi.”

Kain bukanlah satu-satunya penghancur untu dapat menikmati pesta. Ternyata high heels ini juga menyiksaku. Baru kali ini aku benar-benar merasa tersiksa menggunakan sepatu andalan para wanita itu. Ternyata pergelangan kaki yang sempat terkilir akibat aku terpeleset dari tangga itu belum benar-benar sembuh. Lebih parah daripada kejadian yang sama saat menimpaku di lapangan tenis, beberapa tahun yang lalu. 

Aku pun berencana ingin segera pulang, karena tak tahan merasakan pegalnya kaki ini. Niat untuk berpamitan, kami pun berdua sempat foto dengan kedua mempelai. Hanya kami berempat, maklum kami tamu kehormatan. Muning tahu persis aku manusia yang paling malas tampil di depan umum, jadi ia tak memintaku sama sekali untuk menjadi seksi sibuk di pestanya. Setelah foto, ternyata acara lebih menyenangkan. Para undangan orang tua kebanyakan sudah pulang. Sekarang tinggal acara gila-gilaan. Mana ada siy pengantin treak-treak nyanyi rock di atas panggung. Hah, manusia itu ternyata tak betah juga “mengurung” sifat aslinya walau hanya untuk satu hari.

Kedua mempelai itu berdansa, diikuti oleh kedua orang tua mereka, dan teman-temanku yang sudah berkeluarga. Tak lama kemudian Muning berdansa dengan ayah tercintanya, sedangkan Josh dengan ibu mertuanya. Mengharukan, tak terbayang beratnya seorang ayah melepas “kepergian” anak perempuannya dan “diserahkan” kepada seorang laki-laki lain, yang notabene mungkin hanya anaknya sendiri yang merasa yakin bahwa laki-laki itu adalah orang yang tepat untuk dia. Aku pun juga berdansa di pinggir, seperti biasa, bukan banci tampil. Sekelilingku teman-teman SMA-ku yang sudah lama sekali aku tak bertemu. Beberapa sudah membawa “buntut” mereka yang masih kecil-kecil ke pesta itu. Namun ada juga beberapa yang masih sedikit melupakan tugas perkembangan mereka di usia-usia kami ini. 

Tak lama, seorang temanku Jessica Kaunang (maaf ya Jes, aku lupa nama keluarga suamimu, jadi aku pakai nama keluarga ayahmu) menghampiriku. “Ocha apa kabar?”

“Baik-baik. Hei aku liat foto-foto bayimu di friendster, lucu banget. Kok ngga dibawa?”

“Oh, ya. Kemaren abis sakit siy.”

“Tapi ngga dua-duanya khan? Oh ya Jes, ini kenalin. JC ini temenku waktu SMA.”

“Iya Jes, sakitnya ngga dua-duanya?”

“Dua-duanya.”

“Ya ampun kok bisa?”

“Hah, dua-duanya?”

“Iya anaknya JC ini kembar Yi, sumpah lucu-lucu banget. Terus Jes, elu dah ngga kerja?”

“Gue translate doank, sama khan kita.”

“Gila lu badan langsung kecil aja, padahal langsung punya 2.”

“Justru Cha, karena dua itu, gue langsung cepet kurus.”

Kadang aku malas untuk menyapa teman lamaku terlebih dahulu. Takut mereka lupa denganku sehingga obrolan pun akan menjadi basi. Namun ternyata JC tak seperti itu, walau saat SMA, kami tak terlalu dekat.

Ada sedikit kisah tentang temanku yang satu ini. JC adalah mantan pacar, (yang sebenernya cuma 3 bulan juga gitu), suami teman dekatku dari SMP. Namun tak tahu mengapa teman dekatku ini, sumpah cemburunya minta ampun dengan JC. Ia tak menceritakannya padaku mengapa ia bisa secemburu itu dengan JC, padahal keduanya sudah sama-sama berkeluarga. Bahkan waktu itu aku dengar suaminya JC ini, meminta tolong suami temanku ini mencarikan rumah tinggal untuk mereka tempati di kompleks rumah temanku ini, dan kebetulan dapat lah rumah yang menurut mereka ideal, dan posisinya persis di belakang rumah temanku itu. Langsung temanku marah-marah. Untungnya JC dan suaminya ini urung pindah rumah dulu, setelah mengetahui anak pertama mereka kembar. Jadi mereka lebih memilih biaya untuk beli rumah, dialokasikan untuk biaya anak-anak mereka. 

Sedikit aneh siy teman dekatku itu, yang masih saja cemburu. Namun sekali lagi, aku tak bisa menghakimi, karena aku tak tahu persis kejadian yang sebenar-benarnya. Mudah-mudahan tidak marah-marah lagi ya.

Lalu tak berapa lama, aku mengobrol dengan Indri Rachdiani, yang dulu waktu SMA, dipanggil Bubun, karena ia bundar dan bulat. Ibu yang satu ini baru beberapa bulan lalu melahirkan Ruben, putra pertamanya. Namun saat ini perutnya sudah kembali membesar, karena adik Ruben akan segera hadir menemani abangnya. 

Setelah itu Pungky menghampiriku, kami pun sempat beberapa saat mengobrol, walaupun pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan adalah pertanyaaan andalan orang yang tak lama bertemu. Termasuk pernyataan dari aku “Abis Muning trima piala bergilir itu, berarti Irma ya?”

“Ngga Cha, Lintang dulu baru Irma. Lintang 27 Juli besok.”

“Terus tinggal tersisa elu sama Pingkan?”

“Gue siy ngalah biar Pingkan duluan, biar trophynya di gue terus.”

Muning dan teman-teman seperjuangannya selama kuliah di Bandung, memang punya piala bergilir pernikahan. Jadi piala yang diberikan kepada Muning malam ini, diserahkan oleh Tiwi, yang menikah beberapa bulan lalu.

Dan, tak lama setelah itu, karena kaki ini tak lagi tahan, aku memutuskan untuk pulang, tanpa pamit lagi dengan Muning.

Hmmm…hanya 4 jam. 4 jam yang sanggup memutar waktu kembali. Masa-masa di mana kami masih berada di setengah perjalanan hidup aku dan teman-temanku itu saat ini. Dan, aku sebut itu sesuatu yang menghidupkan kembali hidup yang kadang melemah.

Kenangan itu tak pernah lepas dari memori ini. Tak pernah tertinggal, dan selalu terbawa ke mana pun kami pergi. Dan, aku sebut itu sebagai suatu yang menyenangkan.


Nice to meet you all gurls…and till we meet again,…

Di lembar kehidupan kita yang lain. 

Hhmm…, dan pesta tadi malam aku sebut sebagai pesta yang menyenangkan.

Tags:

Leave a Reply