Satu Di Antara Seribu…

Hari ini 23 Juni 2008, aku ke kampus. Dua orang temanku sidang skripsi akhir mereka. Paulina Dessy Wulandari, S.Psi, dan Rosalia Dwita, S.Psi.

Ya, ya gelar itu sudah resmi ada di belakang nama mereka, dan sebelumnya aku ucapkan selamat ya.

Seperti biasa perubahan rencana ke mana pun aku pergi bisa tiba-tiba berubah karena orang rumah. Seperti biasa pula, aku tak tega menolak, atau tepatnya aku malas menolak, malas menerima ocehan setelah penolakan itu. Akhirnya aku ke kampus baru bisa siang, yang tentunya rencana awalku akan berangkat pagi, tapi ada satu yang spesial dari berangkatnya aku ke kampus kali ini. Aku membawa keponakanku Jelita, yang kebetulan sedang liburan sekolah. Kasihan kalau di tinggal di rumah dengan Mbak-nya yang baru (lagi). Oh ya lengkap dengan oma opanya, yang tak lain adalah bapak ibuku. Mereka kebetulan orang yang cukup bisa mencari kesibukan sendiri, sementara aku tentu sibuk dengan diriku sendiri. Si kecil, Jelita, seperti biasa aku tanya dulu “Mau sama tante, atau sama oma opa?”

“Sama tante.”

Sudah bisa aku tebak. Mungkin aku adalah tante yang cukup galak, judes, tapi tak tahu mengapa ia cukup lengket denganku, karena biasanya galak, judes, dan ketegasan dariku, selalu aku ikuti dengan pengertian yang perlu ia tahu.

Akhirnya kami melakukan aktivitas bersama-sama selama di kampusku. Pertama, kami mencari makan siang. Pilihanku adalah di kantin, murah meriah, kenyang dan rasanya lumayan lah. Menu pilihanku tergantung dengan pilihan si kecil, karena kami akan berbagi. Tanyalah aku padanya “Mau makan apa Dek? Sate atau ayam goreng?”

“Sate.”

Akhirnya kami berdua memesan sate. Yang berikutnya adalah “Mau minum susu ultra yang kamu pegang itu, atau mau teh botol?”

Aku tahu, pertanyaan itu adalah pertanyaan retoris, karena teh botol salah satu minuman favoritnya.

“Teh Botol.”

“Tapi minumnya setelah makan satenya ya.”

Begitu sate datang aku langsung melepasi potongan daging dari tusukan, agar Jelita bisa makan dengan enak. Saat aku hendak menyuapinya, ia menolak.

“Ah, mau makan sendiri.”

“Oh, ya udah.”

Suapan yang ia lakukan hanya berhasil sampai dua atau tiga kali, selebihnya aku yang akhirnya menyuapinya, sambil ia sibuk sendiri di bangku panjang itu. Banyak yang mengira ia adalah anakku sendiri “Aduh ‘cha lucu banget. Anak lo?”

“Ho oh.”

“Boong. Putih amat.”

Setelah ia merasa kenyang, walau jika aku hitung, mungkin itu baru 6 suap, ia katakan padaku “Udah ngga mau lagi.”

“Kenyang?”

“Iya.”

“Ya udah, tante abisin ya.”

“Iya.”

Ini juga yang salah satu nilai plus aku di mata Jelita. Tidak memaksakan apa yang aku rasa baik untuknya. Mungkin bagi orang lain 6 suap itu baru sedikit. Namun tidak bagiku. Untuk anak usia 6 tahun, aku membayangkan perutnya masih kecil dan belum bisa menampung banyak makanan. Lagi pula selama di mobil tadi ia sudah mengemil lemper dan minum susu ultra.

Aku sudah terbiasa bepergian hanya berdua dengannya. Sedikit merasa parno, jika kami sedang berjalan di tengah keramaian, tangannya tak lepas dari genggaman tanganku. Ia pun sudah terbiasa menggandeng aku, jika kedua tanganku sedang penuh memegang barang. Namun hal ini tentunya akan menarik perhatian banyak orang. Pandangan mata yang penuh dengan tanda tanya itu mengikuti gerak langkah kami berdua selama di kampus, kalau tak salah terka, mata mereka seolah berbicara “Gila, si Ocha udah punya anak.”

Sedikit tertipu, tapi juga ada benarnya. Jelita sudah aku anggap anak sendiri. Ia termasuk dalam deretan atas dari daftar prioritasku. Aku sedikit beruntung, karena Abang dan Kakak iparku, mengizinkan aku untuk turut mengasuh Jelita, sejak ia masih bayi.

Setelah selesai makan aku ke lantai 5 gedung C, karena ingin bertemu dengan Dessy. Sesampainya kami di sana, akhirnya aku, Jelita, dan Dessy mengobrol bersama. Beruntung temanku yang satu ini, berpengalaman mengobrol dengan anak kecil, karena adiknya yang paling kecil masih seusia Jelita.

Setelah Jelita merasa bosan di lantai 5, ia pun memintaku untuk pulang kembali ke oma opanya yang sedang makan di Banaran. Akhirnya kami berdua turun.

Perjalanan selanjutnya adalah kami mengantarkan Jelita ke kantor Mamanya. Saat mamanya meneleponku dan bilang “Jeje di bawa ke kantorku aja, biar pulang sama aku.”

“Oh, ya udah, nanti aku tanyain sama anaknya dulu.”

Tak lama setelah mamanya menutup telepon aku bertanya pada Jelita “Dek, mau ke kantor Mama, atau pulang sama Tante? Kalo ke kantor Mama, pulangnya sore banget ya. Resikonya di situ, kalo pulang sama tante ngga sampe malem.”

“Mau pulang sama Mama.”

Itulah yang aku senang dari Jelita. Sesenang-senangnya ia pergi denganku, tapi ia masih lebih memilih dengan mamanya sendiri.

“Tapi nanti jangan bosen ya di sana, ngga boleh gangguin mama kerja ya. Konsekuensinya kayak gitu ya Dek.”

“Iya, ngerti tante. Paling nanti aku main sendiri di ruangannya. Aku pernah kayak gitu kok.”

“Oh ya udah, tapi ganti baju dulu, kalo pake tank top gitu takut kedinginan di sana.”

“Oke.”

Dari Jl. Sudirman ke Jl. H.R. Rasuna Said yang kebetulan tidak macet, hanya memakan waktu 15 menit. Ingrid, mamanya Jelita, sudah ada di lobi saat kami tiba. Jelita pun langsung turun menghampiri mamanya.

“Daggg tante, oma, opa. Ma kasih ya.”

Satu tugas selesai.

Dari Menara Imperium, kami pun langsung pulang. Melewati jalan belakang yang langsung tembus ke Landmark, Sudirman.

Berjalan hanya dengan kecepatan tak lebih dari 60km/jam, karena kami tak sedang terburu-buru. Berjarak tak jauh dari lampu merah, di sekitar depan Hotel Shangri-La, tiba-tiba ada satu taksi yang berhenti mendadak, karena ada penumpang yang memberhentikannya. Otomatis semua kendaraan di belakangnya juga berhenti mendadak, termasuk mobil di depanku, dan aku sendiri. Kami semua berhasil berhenti dengan sempurna, dan karena kebiasaan kalau aku berhenti mendadak, aku pasti melihat kaca spion dalam, untuk melihat keadaan di belakangku. Dan, aman. Hanya ada beberapa motor yang masih jauh. Motor-motor itu pun kemudian satu per satu menyelip dari kiri. Aku kemudian melihat ke arah depan kembali, dan tak tahu mengapa aku refleks kembali melihat spion dalam. Tiba-tiba terdengar suara “Ciiiiiitttt…..gubrak.”

“Brengsek, ditabrak lagi ya gue.”

Papa pun menimpali “Ngga kok, ngga berasa.”

Itu adalah bunyi motor yang berasal dari arah tengah, yang menyelip diantara deretan mobil di kiri dan kanan. Melihat ada jalan yang sedikit terhambat di depannya, ia langsung banting ke kiri dan ingin menyelip dari bagian kiri. Namun barisan motor yang menyelip di sebelah kiri, tak ada yang mau berhenti dan memberi jalan. Akhirnya motor itu berhenti mendadak.

Namun satu yang mengherankan, ia berhenti mendadak dengan “mematahkan” stir-nya, dan rela menjatuhkan diri ke aspal, demi menghindari tabrakan dengan mobil di depannya, yaitu aku. Pengemudinya aku lihat dapat langsung berdiri setelah terjatuh, walau sedikit terpincang-pincang.

Langsung saat itu yang ada di pikiranku adalah “Tumben ada yang rela begitu. Ma kasih ya.”

Dua kali satu di antara seribu…

Membawa keponakanku ke kampus, dan motor rela menghindari menabrak mobil, yang notabene mungkin adalah “musuh” mereka juga.

Tags:

Leave a Reply