Jalan Bebas Hambatan (MOTOR)

Hah…setelah lima belas tahun aku bisa mengendarai mobil dan sepuluh tahun memiliki Surat Izin Mengemudi, 14 Mei 2008, adalah kecelakaan terparah yang pernah aku alami. Sebelumnya, kerusakan mobil yang diakibatkan kelalaian aku dan/atau orang lain, paling hanya sebatas pecahnya kaca spion, lecet-lecet ringan, dan bumper yang tergores atau penyok. Namun kecelakaan 14 Mei ini mengakibatkan kerusakan mobil paling parah yang pernah aku alami. Bagian belakang, setelah pintu kedua kiri penyok sukses. Belum lagi terkelupasnya cat dari bagian belakang ke arah depan, karena gesekan motornya dengan si biru Stream itu. Bahkan antara kaca atas dan lampu belakang mobil pun juga penyok terkena pelindung kepala pengemudi.

Kali ini perhitunganku amat sekali tidak tepat. Sangat salah. Motor dari arah berlawanan itu tak mengerem dengan baik. Hal itu pun diakui si pengendara yang tak sengaja mengatakan bahwa remnya tidak berfungsi dengan baik. Saat aku belokkan stir ke arah kanan, yang tentu disertai dengan nyala lampu tanda berbelok, yang saat kejadian itu sudah mati kembali, karena 3/4 bagian mobil sudah berbelok sempurna, masuk ke jalan yang aku tuju. Tinggal si bagian belakang yang masih berada di jalan raya. Bunyi dentuman keras pun kemudian aku dengar hanya dalam hitungan detik.

Jalanan itu juga merupakan pangkalan angkot, yang sedang dipenuhi oleh para pengemudinya. Langsung aku pun panik. Ketakutan akan massa yang aku asumsikan tentu akan membela si pengendara motor itu pun telah mewarnai benakku. Aku pun langsung berpikir keras apa yang harus aku lakukan. Tak disangka, saat aku melihat sekelilingku, aku kenal salah satu supir angkot di situ. Ia adalah tetanggaku, Mas Hanung. Dan bagusnya lagi ia langsung mengenaliku saat jendela mobil aku buka “Rosa ya. Rosa, minggirin mobil. Jangan-jangan turun aja ‘Sa, biar aku pinggirin, kamu kejar tuch temuin tuh supir motornya, dia yang salah kok.”

Bagusnya si supir motor tidak langsung kabur seperti biasanya. Namun mungkin karena ia pun merasa kesakitan, karena tangannya terbentur badan mobil, terkilir, sehingga tak mungkin melanjutkan perjalanan.

Ia pun kemudian turun dari motornya, menuju warung kecil di sana, dan minum. Aku tunggu ia hingga selesai minum, baru aku mulai bicara dengannya. Melihat kira-kira siapa orang itu atau kira-kira pekerjaannya, parahnya kerusakan mobil, ditambah aku pun tenang, karena mobil diasuransikan, sebenarnya aku tak berharap banyak. Aku malah ingin memastikan bahwa ia baik-baik saja.

Namun kondisi demikian bukanlah yang ingin ia ciptakan. Selama perbincangan ia terus menyalahkanku, dan menuntut ganti rugi padaku. Aku malas berhadapan dengan orang-orang bermental seperti itu. Lagi-lagi untung ada Mas Hanung dan satu bapak yang menurutku ia adalah supir pribadi sebuah keluarga, yang mengatakan “Ya, udah, mobilnya diasuransi khan, jadi mas ini bayar biaya proses klaimnya aja, paling cuma 100 ribu.”

Omongan si bapak tadi ditanggapi sengit oleh si pengendara motor “Ya, motor saya juga rusak, dan ngga ada asuransinya, saya rugi, mbaknya ganti saya juga dounks.”

Dalam hatiku, ya bukannya sama aja ya, kalau aku memberikannya uang dan ia berikan aku uang juga.

Malas berlama-lama di tempat kejadian, akhirnya Mas Hanung bilang “Ya udah mas-nya kasih KTP aslinya ke mbak ini, nanti malem mas dateng ke rumah mbak ini dan diomongin lagi, enaknya gimana.”

“Kalo saya kasih KTP asli, mbak ini kasih juga dounks.”

Mas Hanung pun menanggapi “Loh, khan kamu yang salah, ngapain kamu minta KTP aslinya.”

Aku pun malah menjadi emosi mendengar omongan orang itu “Saya ngga mau, pergi-pergi tanpa KTP, enak aja! Lagi pula ini bukan salah saya khan.”

Sebenernya aku enggan saling menyalahkan seperti itu, karena bagiku yang tahu persis siapa yang salah, hanya Tuhan.

Akhirnya ia setuju KTP aslinya ditahan olehku, dan ini akan kami selesaikan di rumah.

Setelah orang itu pergi, aku mengucapkan terima kasih pada semua yang telah membantuku, aku pun kembali masuk mobil. Derai air mata tak lagi kuat aku bendung. Tak peduli mereka di luar melihatku, aku hanya bisa tertunduk dan tidak menatap ke arah mereka.

Setelah kejadian itu aku pun menjadi enggan untuk kerja. Lalu memutuskan kembali ke rumah kakakku yang pertama, karena aku tahu mama sedang berada di sana, mengurus cucunya yang akan berangkat pergi sekolah.

Sebenarnya aku gengsi untuk mengadu ke siapa pun, apalagi ke mama. Namun kalau aku pulang ke rumah, akan bertambah parah, karena papa sedang di rumah. Aku khawatir kejadian ini akan membuatnya panik, naik pitam, marah, dan berpengaruh pada penyakit jantung yang ia derita. Jadi, aku memutuskan untuk pulang ke rumah kakakku. Sesampainya di sana, aku pun langsung membunyikan klakson. Mama langsung keluar mendengar suara itu, karena ia sudah hafal benar bunyinya. Ini kali pertama, kali pertama, sekali lagi kali pertama, aku menangis, penuh derai air mata di depan mama, setelah aku dewasa. Hal ini bahkan gengsi aku lakukan saat dulu papa sakit. Aku lebih memilih menangis dipelukkan tanteku, saat aku di rumah bersamanya, dan mama sedang di rumah sakit.

Biasanya dalam keadaan seperti ini, ada satu orang yang bisa menenangkan aku. Namun aku tahu persis, jam-jam segitu pasti dia sibuk sekali di kantor, bahkan telepon dariku tak diangkat olehnya, walau tak lama kemudian ia kembali meneleponku dan hasilnya cuma mengatakan “Halagh, biasanya kamu juga kuat, hal sepele kayak gitu kok. Udah lah kamu khan masih banyak kerjaan, mendingan fokus ke kerjaan dulu. Tinggal urus asuransinya aja kok ya. Terus orangnya yang nabrak gimana?”

“Nanti malem mau dateng ke rumah.”

“Ya udah minta tolong bokap nemenin ngomong nanti ya. Kita juga ngga bisa berharap banyak dari dia khan, jadi nanti minta dia bikin berita acara kejadiannya buat ngurus klaimnya.”

Sedikit merasa tenang setelah mendengar suaranya. Namun tidak dengan kepalaku. Serangan migran yang sudah lama tak aku rasakan, kembali aku rasakan, tak tertahankan sakitnya.

Malam hari, sekitar jam 19.30, orang itu datang ke rumahku. Mama dan aku yang keluar, dan mempersilakannya duduk di teras. Lalu dia bilang “Kita selesaikan secara kekeluargaan aja mbak.”

“Oh, iya. Saya cuma mau minta Mas buat ngasih pernyataan kronologis kejadian tadi kok.”

“Tapi tangan saya ngga bisa buat nulis mbak.”

“Ya, sudah, saya ketikin di atas, nanti Mas tinggal tanda tangan. Masih bisa khan?”

“Masih kok, pelan-pelan.”

Aku pun masuk menuju ke kamarku, untuk mengetik berita acara kronologis kejadian tadi berikut menduplikasi KTPnya, dengan pemindai dan pencetak yang aku punya.

Tak berapa lama, dokumen itu sudah siap. Aku pun kembali menemuinya di teras.

“Ini Mas, tinggal Mas tanda tangani aja.”

Ia pun menandatanganinya dengan sangat pelan-pelan. Setelah surat tadi aku pegang kembali dan aku mengembalikan KTP aslinya, aku sudah mencoba mengeluarkan indikasi bahwa ini semua sudah selesai.

Namun lagi-lagi, belum selesai menurutnya.

“Setelah ini apalagi Mbak?”

“Apalagi apa ya Mas, maksudnya Mas gimana?”

“Ngga ada apa-apa lagi?”

“Ngga. Udah selese kok. Cuma ini aja, saya cuma minta tanda tangan Mas.”

“Ya, saya meminta kebijaksanaan dari Mbak aja.”

“Kebijaksanaan apa ya?”

“Ya, khan mbak ada asuransinya, motor saya khan ngga punya asuransi.”

Oooowwwhhh, ternyata arahnya masih ke sana, menuntut ganti rugi.

“Loh, Mas, punya asuransi bukan berarti gratis lo. Saya juga ngeluarin duit buat claim. Buat urus asuransinya.”

“Saya khan rugi Mbak.”

“Sama Mas, saya rugi juga.”

“Saya juga ngga bisa kerja Mbak, tangan saya sakit.”

“Sama. Saya juga susah kerja, ditambah harus mondar-mandir ke asuransi dan bengkel.”

“Ya, mbak khan biayanya paling 100 ribu.”

“Hmm, ya memang biaya claim biasanya segitu, tapi kalo saya harus pergi-pergi pake kendaraan umum biaya plus waktu tersita juga Mas.”

“Saya betulin motor sama urut tangan saya yang sakit bisa lebih dari 100 ribu.”

“Kok bisa tahu dari mana? Kalo saya memang ada ketentuan asuransi bilang segitu. Tapi kalo ongkos urut, biasanya siy kurang dari 100 ribu ya.”

“Mbak khan tadi liat motor saya rusak.”

“Gak, saya khan ngga menuju sampai kamu parkir motor. Kamu parkir motornya juga jauh dari mobil.”

“Lebih lah Mbak dari 100.”

“Tau dari mana? Gini aja deh. Kita berdua sama-sama ngga mau kecelakaan khan?”

“Bener Mbak, sapa juga yang mau.”

“Kamu rugi, saya juga rugi. Biarpun tadi kamu akui rem kamu ngga berfungsi, udah jelas kamu yang salah, motor ngga punya rem. Berarti kamu dah berani tanggung resikonya, plus saya yakin kamu tadi ngebut, kalo dilihat dari parahnya penyok mobil.”

“Khan di jalan raya Mbak, wajar khan kalo ngebut. Lagi pula tadi saya kaget liat mobil Mbak, jadi bingung mau ngapain.”

“Kamu rugi, saya rugi. Kamu nanggung resiko, saya juga nanggung resiko. Berarti kalo kamu minta kebijaksanaan dari saya, saya juga minta kebijaksanaan dari kamu.”

“Ya, kebijaksanaan dari mbak apa?”

“Kalo kamu minta saya tanggung jawab dengan sejumlah uang terhadap kamu, saya juga minta kayak gitu juga dari kamu.”

“Ya, Mbak, dimana-mana kalo ada kejadian mobil ama motor tabrakkan, yang salah pasti mobil Mbak.”

Semakin aku naik pitam.

“Aduh kok bisa dipastiin gitu ya. Kamu emang sering nyetir pake mata, liat kiri kanan kalo mau keluar ke jalan raya. Pake sen kalo mau belok. Bagus kamu tadi pake helem.”

Tahu apa jawabannya dia?

“Abis Mbak, kalo motor sama sepeda, yang disalahin motornya. Karena motor lebih gede. Jadi kalo mobil ama motor yang disalahin mobilnya, karena mobil lebih gede.”

Pembelajaran dari mentorku, guruku, mendingan menjawab dengan nada datar, tapi menusuk perasaan, dan kita hanya perlu menunggu apa yang ia katakan, dan manfaatkan itu.

Aku pun mencoba seperti itu.

“Ya udah kalo kamu nuntut saya bertanggung jawab ke kamu, ya saya juga menuntut yang sama. Lagi pula kalo kamu minta duit ke saya sekarang, ya paling saya tinggal ngerampok tetangga, karena saya ngga ada duit, tadi abis ngurus-ngurus semuanya. Kamu mau saya ngerampok tetangga?”

“Ya, jangan Mbak, nanti saya yang dimarahin.”

“Makannya gimana, lagi pula sama aja kok, kamu minta sesuatu dari saya, saya juga minta sesuatu dari kamu. Setidaknya biaya claim, atau mau bayarin preminya tahun ini?”

Ia terdiam seribu kata, seribu bahasa. Malas berlama-lama berhadapan dengan manusia seperti itu, aku pun langsung menutup percakapan kami dengan

“Ya, udah, tinggalin aja ya nomor teleponnya Mas, nanti KALO saya berubah pikiran, saya akan telepon Mas. Kalo saya berubah pikiran lo Mas.”

Perbincangan itu pun kemudian berakhir, dan aku berhasil juga mengatasi rasa kasian dan rasa tak tegaku terhadapnya, dengan tetap tidak memberikannya uang. Lagi pula uangku di dompet tinggal 5 ribu kalau tak salah.

Setelah kejadian ini, ada sedikit post traumatic yang aku alami. Begitu memasuki kabin mobil, dentuman itu seakan masih bisa dengan jelas teringat dan terdengar di telingaku.

Jalanan penuh motor memang tak aku sukai dari dulu. Itu juga sebabnya aku tak mengizinkan papa membeli motor, kecuali dulu, saat ia memutuskan membeli Harley Davidson, aku mengizinkannya.

Motor sama dengan bajaj. Hanya Tuhan yang tahu mereka mau melakukan apa, berbelok ke arah mana. Bahkan si pengemudi tak tahu hal itu.

Jalan tol, yang katanya jalan bebas hambatan, termasuk bebas macet, yang ternyata itu hanya isapan jempol belaka, tetap menjadi pilihanku. Kemacetan yang menjadi hiasan utama jalan tol-jalan tol di ibukota tak lagi aku hiraukan. Bagiku, setidaknya jalan tol bebas dari motor yang ugal-ugalan,…

Dan aku rasa, karena di jalan tol motor dilarang masuk, dan menurut definisi jalan tol adalah jalan bebas hambatan, berarti MOTOR itu juga merupakan HAMBATAN? Kalau memang begitu adanya, AKU PUN SETUJU!!!!

Tags:

Leave a Reply