Hilangnya Si Bintang Kecil…

Mempunyai keponakan yang berusia 6 tahun sering membuatku takjub. Takjub dengan segala tingkah laku yang dihasilkan oleh gadis cilik, yang rasanya baru kemarin aku timang-timang, agar membuatnya tertidur nyenyak.

Tak dipungkiri, ia anak yang pandai. Mulai dari pandai menyerap apa yang diajarkan oleh guru-gurunya, teman-teman sebaya, orang tua, dan anggota keluarga lainnya, hingga pandai berkelit.

Guru pianonya tak perlu waktu lama mengajarinya satu lagu, untuk bisa ia mainkan di atas tuts-tuts piano, dengan jemarinya yang kecil. Tak perlu banyak bicara, untuk membuatnya tidak merengek minta dimandikan. Teriakan lantang “Jalan ke rumah Nouhan bukan yang ini tante, tapi belok di sana”, saat aku ingin mengantarkan ia ke rumah temannya, yang aku ingat saat itu adalah kali kedua kami bertandang ke rumah temannya itu. Tak butuh usaha keras untuk dapat membuatnya hafal sebuah lagu, yang kali ini bisa ia nyanyikan.

Kau begitu sempurna. Segalanya kau begitu indah..

Itu adalah cuplikan lagu berjudul Sempurna, yang pertama kali dipopulerkan oleh Andra and The Back Bone. Kemudian juga dinyanyikan dengan versi yang berbeda oleh Gita Gautawa.

Sedikit terkejut saat aku mendengar keponakanku satu-satunya, menyanyikan lagu itu. Bahkan ia menyanyikan dengan sempurna pada bagian refrennya. Kontan aku bertanya padanya “Siapa yang ngajarin, dek?”

“Denger di tivi.”

Aku pun langsung berpikir “Memang tivi media yang sangat ampuh untuk mempengaruhi orang, bahkan anak kecil.”

Saat aku seumurnya, lagu-lagu yang aku ingat adalah lagu anak-anak, yang biasanya diciptakan oleh (Alm) Pak dan (Alm) Bu Kasur, atau Pak AT. Mahmud. Seperti Bintang Kecil, Balonku, Kulihat Awan, Lihat Kebunku, dan sebagainya. Lagu-lagu itu, dulu, lagu paling trendi dan bergengsi di kalangan anak-anak. Ditambah saat itu kelompok-kelompok musik belum sebanyak saat ini, yang tumbuh bagaikan jamur di musim hujan.

Kecintaanku akan dunia musik, terutama tarik suara, semakin tertanam semenjak aku mengikuti kursus olah vokal di Bina Vokalia, yang dilatih sendiri oleh Sang Maestro Pranadjaja. Aku ingat betul, lagu-lagu yang diajarkan beliau kepada anak didiknya sangat disesuaikan dengan usia perkembangan kami. Otomatis, karena usiaku baru 7 tahun, saat aku terdaftar sebagai salah satu anak didik beliau, maka lagu-lagu yang diajarkan adalah lagu anak-anak. Jangan salah, aransemen lagu anak-anak itu pun bisa menjadi sangat indah. Sampai saat ini, aku masih ingat nada-nada hasil aransemen lagu Pada Hari Minggu, menurut kelompok suaraku, yaitu sopran. Kesan ceria, gelak tawa dan canda seorang anak yang diajak berkeliling kota menaiki delman, serasa benar-benar sedang aku alami, saat menyanyikan lagu itu.

Kembali ke keponakanku. Jelas lagu yang ia nyanyikan adalah lagu untuk orang dewasa, atau setidaknya lagu remaja. Tak sesuai jika dinyanyikan oleh anak seusianya.

Televisi pun seolah menyetujui hal itu, bahwa tak masalah jika anak-anak menyanyikan lagu orang dewasa. Terbukti dengan ajang kontes tarik suara khusus anak-anak yang memperbolehkan para pesertanya menyanyikan lagu bertemakan kehidupan orang dewasa. Tak lagi mengingat usia. Tak lagi mengindahkan apa yang pantas dan apa yang tidak pantas dilakukan oleh seseorang, oleh anak-anak.

Satu pertanyaanku tentang hal ini semua, yaitu: Apakah ini bisa disebut dengan kemajuan zaman, atau malah sebuah dekadensi?

Tags:

Leave a Reply