Aku dan Ajaran Itu…

Terlahir di tengah keluarga Katholik, maka aku pun menyandang sebuah nama baptis, yang konon dulu juga dipakai oleh seseorang, yang telah masuk daftar orang suci menurut Gereja Katholik. Nama itu Anastasia. Nama yang sangat indah. Nama yang sangat aku sukai. Bahkan nama ini merupakan salah satu nama yang melegenda di Rusia. Ingat sebuah film dengan judul Anastasia?

Lebih dari itu, dengan menyandang nama itu, berarti pula orang tuaku, mempercayakan aku kepada perlindungan Santa Anastasia, atau mungkin apa yang nanti aku lakukan di dunia ini, diharapkan sedikit mirip dengan perbuatan Santa yang satu itu. Menurut sejarah, Santa Anastasia ini adalah seorang martir, yaitu seseorang yang rela mati untuk Gereja. Ia dulu dibakar hidup-hidup, karena perbuatannya membela mereka yang dipenjarakan. Oleh Gereja, Santa Anastasia bahkan sampai diberi penghargaan besar. Namanya dimasukkan ke dalam Doa Syukur Agung I. Doa Syukur Agung ini adalah doa puncak saat perayaan Ekaristi berlangsung, saat roti dan anggur ‘diubah’ menjadi Tubuh dan Darah Kristus sendiri. Doa Syukur Agung mempunyai sepuluh versi, dan versi yang pertama ini adalah versi yang biasanya dipakai pada perayaan Ekaristi saat hari raya-hari raya besar, seperti Natal maupun Paskah. Sayangnya hari perayaan Santa Anastasia ini jatuh bertepatan dengan hari raya Natal, yaitu 25 Desember, yang menyebabkan perayaannya seperti sedikit ‘dilupakan’.

Ya, itu sedikit cerita dibalik nama yang aku sandang. Namun hal lain yang lebih esensial adalah aku sebagai seorang Katholik. Memang sebagian besar bayi yang lahir, mempunyai agama yang sama dengan agama yang dianut oleh keluarganya, terutama orang tuanya. Lagi-lagi, untuk yang satu itu, manusia kecil yang baru hadir ini, hanya bisa menerima takdir. Tak bisa memilih, melainkan dipilihkan. Begitu pun juga dengan aku. Aku menerima Sakramen Baptis, saat usiaku masih 4 bulan, dengan Ibu permandianku yaitu almarhum Oma, dari ibuku. Tak tahu mengapa aku sangat yakin, dari lahir aku pasti sudah dibawa ke gereja setiap minggu.

Menerima pendidikan Katholik, tidak hanya di rumah, namun juga di sekolah. Dari aku SD, hingga aku kuliah, aku dimasukkan ke lembaga-lembaga pendidikan Katholik, yang cukup ternama, dan terus terang sedikit ‘mengerikan’. Mengapa aku katakan ‘mengerikan’? Jawabannya adalah gaya penerapan disiplin mereka itu yang tak ada toleransi. Hal ini terutama baru aku rasakan saat aku duduk di jenjang pendidikan tinggi pertama, SMP Pangudi Luhur. PR yang bertumpuk. Jadual ulangan umum yang berjumlah 3 dalam satu hari, yang membuatku hanya mentargetkan membaca setengah bahan ulangan dari setiap mata pelajaran yang diujikan. Tak ada ampun, jika terlambat, yang membuat aku harus memilih antara pulang, atau masuk jam ke-2 tetapi harus membersihkan perpustakaan atau WC sekolah. Aku termasuk jarang menikmati hukuman yang satu itu. Paling hanya beberapa kali saat aku kelas III. Namun hal itu sangat sering aku alami saat aku di SMA Tarakanita I, apalagi saat aku duduk di kelas III. Terlambat hampir setiap hari. Untung ada petugas absensi yang baik, jika guru piket belum ada, jadi aku masih diperbolehkan lari terbirit-birit menuju ke kelas.

Pendidikan dengan gaya seperti itu, baru aku rasakan manfaatnya ketika aku sudah tidak berada di sekolah-sekolah itu. Bagaimana aku bisa bertahan menyelesaikan pekerjaan yang susah, banyak, bertumpuk dan dikejar waktu. Bagaimana aku harus menghadapi atasan, rekan kerja yang sering juga meminta sesuatu seakan seperti dulu aku dibentak oleh kakak kelas di SMA, walaupun bentakkannya tak sama dengan kakak kelasku dulu. Bagaimana aku harus bersikap terhadap keluargaku, saat mereka tak ada hentinya menuntutku untuk dapat menuruti semua keinginan mereka.

Selain itu, pendidikan Katholik yang sangat kental, membawaku selalu percaya pada kekuatan doa. Dahsyatnya kekuatan yang satu ini memang tak ada bandingnya. Yang Di Atas sana aku anggap terlalu baik untuk raga debu ini. Semua yang terbaik, Ia suguhkan untuk aku. Semua impianku hadir di depan mata, bisa aku raih, bisa aku nikmati, bisa aku rasakan. Sebut saja seperti keinginanku untuk dapat bekerja di salah satu perusahaan di gedung coklat nan megah, di persimpangan jalan Sudirman dan Casablanca, yang tadinya hanya khayalanku saat aku melintasinya, ternyata bisa aku rasakan. Keinginanku untuk bepergian menikmati tempat-tempat indah, keinginanku sekolah lagi tanpa meminta uang kuliah dari orang tua, saat ini pun sudah aku rasakan. Bahkan doa dan harapanku untuk kesembuhan papa, saat papa terbaring lemas di ICCU, karena serangan jantung tahun lalu, juga Ia kabulkan.

Bergulirnya jari jemari ini di atas butiran-butiran kecil yang terangkai menjadi sebuah tasbih, yang dinamakan Rosario pun sering aku lakukan. Bahkan dulu saat aku masih berangkat dan pulang kantor dengan kakakku, hal itu tak luput dari rutinitasku saat duduk di mobil, dalam perjalanan di jalanan macet ibukota.

Berjalannya waktu, semuanya berubah. Awal 2002, saat kekacauan di rumah yang mulai tak terkendali. Perang dingin antar penghuni rumah pun terus berkecamuk di sana. Inilah puncak dari ketidakharmonisan keluarga ini, inilah hasil dari tidak adanya kedekatan di antara kami, itulah yang aku pikirkan saat itu, dan sampai saat ini. Aku pun mulai bertanya, apakah aku ini ternyata merupakan produk sebuah broken home?

Keraguanku atas doa-doa yang aku panjatkan pun semakin meningkat, karena keadaan rumah yang tak kunjung membaik. Doa kusyuk itu pun berlahan aku tinggalkan. Mulai sesekali absen ke gereja dengan segala alasan dan juga pembenaran diri.

Apalagi setelah aku kembali kuliah tahun 2004. Tak tahu mengapa, bidang yang aku pelajari saat ini, semakin membawaku mempunyai seribu satu analisa tersendiri terhadap pemahamanku tentang ajaran agama itu sendiri. Agama semakin dirasionalisasikan. Sebagai contoh, pemikiran seperti “Tak pantas rasanya aku datang pada-Nya, jika aku belum bisa memaafkan kesalahan orang lain terhadapku”, atau pemikiran “Percuma baca Injil tiap hari, tapi abis baca kerjaannya menghakimi orang lain” yang ada dibenakku, ketika melihat kejadian yang persis seperti pemikiranku tersebut. Bahkan hal yang terparah, yang pernah ada di benakku adalah pemikiran bahwa sakramen pernikahan dewasa ini, rasanya sudah tidak relevan, mengingat semakin kejamnya dunia, mengingat saat ini memilih pasangan hidup sampai mati bagai membeli kucing dalam karung. Pada akhirnya sering kali aku berpikir “Tuhan tahu kok kenapa gue ngga ke gereja” atau “Ah, khan berdoa bisa di mana aja, ngga mesti di gereja. Percuma ke gereja tapi otaknya ke mana-mana” atau “Ngapain ke gereja tapi hatinya masih jengkel sama orang lain”.

Hal-hal seperti itu masih mewarnai pemaknaan religi bagiku sampai saat ini. Walaupun sudah hampir setahun ini aku jarang absen ke gereja, namun semuanya itu seperti hanya rutinitas mingguan, hanya sebagai kewajiban. Tak jarang jika aku bertemu dengan teman-teman lamaku saat aku ke gereja, suasana hening yang harusnya tercipta, malah menjadi serupa suasana kongkow-kongkow di kedai kopi dan ajang reuni.

Keinginanku untuk kembali memainkan jari di atas tasbih itu, sempat muncul minggu lalu, namun kembali sirna, kembali merasa tak pantas meminta sesuatu dari-Nya. Kembali dengan segala rasionalisasi yang bertengger di otak ini. Tak tahu sampai kapan pemikiran itu ada di kepala ini. Tak tahu kapan aku akan kembali duduk bersila di depan Patung Bunda Maria dan Salib Yesus yang ada di kamarku, sambil berkomat-kamit doa Salam Maria, yang dulu aku lakukan setiap hari.

Satu pertanyaan yang ada di otakku, lebih sejati mana, menjadi seorang Katholik, yang setiap hari baca Injil, rajin ke gereja, rajin berdoa, namun tak tercermin di dalam perbuatan, perkataan sehari-hari, atau seorang Katholik yang malas berdoa dengan kusyuk, malas ke gereja, karena alasan yang secara manusiawi masuk akal? Jawabanku adalah hanya Tuhan yang dapat menilai semua perbuatan manusia.

Dan satu hal yang pasti, untuk saat ini, sampai tulisan ini aku buat, diri ini tak akan melangkah keluar dari Gereja Katholik, walau semuanya itu aku jalani dengan pemaknaan religi yang aku miliki sekarang.

Tags:

2 Responses to “Aku dan Ajaran Itu…”

  1. maswiwied says:

    Salam kenal mbak anastasia…
    Ga sengaja mampir di blog ini…
    Awalnya cuma mau nyari info tentang santa anastasia…

    Perjalanan batin yang luar biasa saya baca tulisan mbak…
    Sangat bisa dipahami keyakinan mbak, apalagi ada alasan logis untuk mementahkan sebuah ajaran yang dianggap aneh.
    Menjadi aneh karena ada kontradiksi, tapi akan menjadi indah kalau memang selaras dengan hidup.
    Kehidupan diri santa anastasia sedang dialami oleh mbak…
    Tergantung siapa yang kuat… hehehe…
    Apalagi dibelakang nama mbak ada rosarini…
    Itu adalah jawabannya…
    santa Maria adalah jawaban yang tepat.
    Tidak menemukan logikanya?
    Itu adalah sebuah misteri.. Tergantung pemaknaan dari tiap pribadi.
    Itu sebabnya kita menganggap ajaran kita sebagai misteri iman katolik…
    Iman itu ada dalam diri kita…
    Seorang Pastor bahkan Paus pun ga akan bisa membantu anda kalau anda tidak mempercayainya, tidak mempercayai apa yang telah Tuhan perbuat… Kisah hidup anda tidak lepas dari campur tangan Tuhan.
    Bukan sebuah mukjizat agung mungkin yang telah Tuhan berikan, tapi kehidupan, dan perjalanan hidup anda itu adalah mukjizatNya…

    satu hal yang otentik, Roh Kudus Akan Bekerja pada orang yang tidak beriman, dan Roh Jahat akan selalu menggoda orang yang beriman.

    Bukan menggurui mbak, tapi saya juga pernah mengalami apa yang anda alami sekarang…. Sekali lagi maaf…..

    Berkah Dalem….

  2. maswiwied says:

    mbak, hari ini saya ada kiriman cerita dari seorang suster di surabaya :
    =====================

    Ada seorang anak laki-laki yang berambisi bahwa Suatu hari nanti ia
    akan menjadi jenderal Angkatan Darat. Anak itu pandai dan memiliki
    ciri-ciri yang lebih daripada cukup untuk dapat membawa nya kemanapun
    ia mau. Untuk itu ia bersyukur kepada Tuhan, oleh karena ia adalah
    seorang anak yang takut akan Tuhan dan ia selalu berdoa agar
    suatu hari nanti impiannya itu akan menjadi kenyataan.

    Sayang sekali, ketika saatnya tiba baginya untuk bergabung dengan
    Angkatan Darat, ia ditolak oleh karena memiliki telapak kaki rata.
    Setelah berulang kali berusaha, ia kemudian melepaskan hasratnya untuk
    menjadi jenderal dan untuk hal itu ia mempersalahkan Tuhan yang tidak
    menjawab doanya. Ia merasa seperti berada seorang diri, dengan
    perasaan yang kalah, dan di atas segalanya, rasa amarah yang belum
    pernah dialaminya sebelumnya.

    Amarah yang mulai ditujukannya terhadap Tuhan. Ia tahu bahwa Tuhan
    ada, namun tidak mempercayaiNya lagi sebagai seorang sahabat, tetapi
    sebagai seorang tiran (penguasa yang lalim). Ia tidak pernah lagi
    berdoa atau melangkahkan kakinya ke dalam gereja. Ketika orang-orang
    seperti biasanya berbicara tentang Tuhan yang Maha Pengasih, maka ia
    akan mengejek dan menanyakan pertanyaan-pertanya an rumit yang akan
    membuat orang-orang percaya itu kebingungan.

    Ia kemudian memutuskan untuk masuk perguruan tinggi dan menjadi
    dokter. Dan begitulah, ia menjadi dokter dan beberapa tahun kemudian
    menjadi seorang ahli bedah yang handal. Ia menjadi pelopor di dalam
    pembedahan yang berisiko tinggi dimana pasien tidak memiliki
    kemungkinan hidup lagi apabila tidak ditangani oleh ahli bedah muda
    ini. Sekarang, semua pasiennya memiliki kesempatan, suatu hidup yang baru.

    Selama bertahun-tahun, ia telah menyelamatkan beribu-ribu jiwa, baik
    anak-anak maupun orang dewasa. Para orang tua sekarang dapat tinggal
    dengan berbahagia bersama dengan putra atau putri mereka yang
    dilahirkan kembali, dan para ibu yang sakit parah sekarang masih dapat
    mengasihi keluarganya. Para ayah yang hancur hati oleh karena tak
    seorangpun yang dapat memelihara keluarganya setelah kematiannya,
    telah diberikan kesempatan baru.

    Setelah ia menjadi lebih tua maka ia melatih para ahli bedah lain yang
    bercita-cita tinggi dengan tekhnik bedah barunya, dan lebih banyak
    lagi jiwa yang diselamatkan. Pada suatu hari ia menutup matanya dan
    pergi menjumpai Tuhan. Di situ, masih penuh dengan kebencian, pria itu
    bertanya kepada Tuhan mengapa doa-doanya tidak pernah dijawab, dan
    Tuhan berkata, “Pandanglah ke langit, anakKu, dan lihatlah impianmu
    menjadi kenyataan.”

    Di sana, ia dapat melihat dirinya sendiri sebagai seorang anak
    laki-laki yang berdoa untuk bisa menjadi seorang prajurit. Ia melihat
    dirinya masuk Angkatan Darat dan menjadi prajurit. Di sana ia sombong
    dan ambisius, dengan pandangan mata yang seakan-akan berkata bahwa
    suatu hari nanti ia akan memimpin sebuah resimen. Ia kemudian
    dipanggil untuk mengikuti peperangannya yang pertama, akan tetapi
    ketika ia berada di kamp di garis depan, sebuah bom jatuh dan
    membunuhnya. Ia dimasukkan ke dalam peti kayu untuk dikirimkan kembali
    kepada keluarganya. Semua ambisinya kini hancur berkeping-keping saat
    orang tuanya menangis dan terus menangis.

    Lalu Tuhan berkata, “Sekarang lihatlah bagaimana rencanaKu telah
    terpenuhi sekalipun engkau tidak setuju.” Sekali lagi ia memandang ke
    langit. Di sana ia memperhatikan kehidupannya, hari demi hari dan
    berapa banyak jiwa yang telah diselamatkannya. Ia melihat senyum di
    wajah pasiennya dan di wajah anggota keluarganya dan kehidupan baru
    yang telah diberikannya kepada mereka dengan menjadi seorang ahli bedah.

    Kemudian di antara para pasiennya, ia melihat seorang anak laki-laki
    yang juga memiliki impian untuk menjadi seorang prajurit kelak, namun
    sayangnya dia terbaring sakit. Ia melihat bagaimana ia telah
    menyelamatkan nyawa anak laki-laki itu melalui pembedahan yang
    dilakukannya. Hari ini anak laki-laki itu telah dewasa dan menjadi
    seorang jenderal. Ia hanya dapat menjadi jenderal setelah ahli bedah
    itu menyelamatkan nyawanya.

    Sampai di situ, Ia tahu bahwa Tuhan ternyata selalu berada bersama
    dengannya. Ia mengerti bagaimana Tuhan telah memakainya sebagai
    alatNya untuk menyelamatkan beribu-ribu jiwa, dan memberikan masa
    depan kepada anak laki-laki yang ingin menjadi prajurit itu. (Diambil
    dari Inspirational Christian Stories oleh Vincent Magro-Attard)

    Untuk dapat melihat kehendak Tuhan digenapkan di dalam hidup anda,
    anda harus mengikuti Tuhan dan bukan mengharapkan Tuhan yang mengikuti
    anda.
    (Dave Meyer, Life In The Word, Juni 1997)

    “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya…. ” (Pengkotbah 3:11)

    Apa yang kau alami kini, mungkin tak dapat engkau mengerti, Satu hal
    tanamkan di hati, indah semua yang Tuhan beri. Tuhan-mu, tak akan
    memberi ular beracun pada yang minta roti, Cobaan yang engkau alami
    takkan melebihi kekuatanmu.

    ========
    Berkah Dalem….

Leave a Reply