Sepenggal Kisah Dari Ujung Sulawesi Pada Akhir 2003…

Ini adalah awal mula dari semua perjalanan liburanku, yang tak pernah direncanakan jauh-jauh hari sebelumnya.

September 2003, pekerjaanku saat itu masih sebagai seorang sekretaris divisi, di salah satu bank yang sekarang sudah dibeli oleh salah satu perusahaan Singapura. Sebagai sekretaris divisi, aku tidak hanya mengurus kepentingan satu orang saja, melainkan seluruh keperluan anggota divisi, termasuk urusan perjalanan dinas mereka, baik perjalanan dekat, maupun perjalanan yang jauh sekalipun.

Dua orang temanku akan melakukan perjalan dinas ke Makassar dan Manado. Saat itu, aku sedikit mengakhayal “Coba aku bisa ikut ke Manadonya ya!”.

Tak berapa lama kemudian, aku menelepon agen perjalanan yang menjadi langganan kantorku untuk memesan tiket untuk mereka dari Jakarta-Ujung Pandang-Manado-Jakarta.

Seringnya aku menelepon ke agen perjalanan itu, membuat aku sudah akrab berbincang-bincang dengan karyawan di sana. Sampai-sampai di tengah perbincangan aku dengan karyawan sana, yang sekarang aku lupa siapa namanya, berkata seperti ini “Eh Mbak Ocha ngga ikut ke Manado?”

“Ah ngga lah mbak, aku khan ngga dibayarin kantor, lagipula tiket ke sana mahal.”

Aku tahu persis harga tiket Jakarta-Manado-Jakarta, apalagi dengan maskapai andalan Indonesia itu. Kalau tidak salah tiket pulang pergi kelas ekonomi saat itu Rp.3.400.000, dan pilihan maskapai lain, belum sebanyak sekarang.

Lalu si mbak di ujung telepon sana memberiku jawaban yang mengagetkan “Ih, Mbak Ocha belum tahu ya, lagi ada promo nih mbak. Sekarang khan bukan high season. Harga promonya 1,2 juta mbak.”

Begitu mbak itu menyebutkan harga tiketnya, aku langsung berpikir “Wah, gue ambil juga apa ya. Bolak balik cuma 2,4 ini.”

Lalu aku kembali bertanya pada si mbak itu “Jadi pulang pergi 2,4 juta ya mbak?”

“Ngga mbak, 1,2 juta itu udah return ticket.”

“Aku ambil, book sekarang juga ya mbak!”

Dan dalam hati aku teriak “Hoooorreee, pergi juga ke Manado. Peduli amat, boleh ngga boleh cuti, gue pergi.”

18 September 2003, aku terbang juga ke Manado. Ini perjalanan pertamaku pergi sendiri naik pesawat, tanpa ditemani siapa-siapa. Penerbangan yang seharusnya jam 14.00, di tunda hingga 4 jam, karena cuaca buruk di Manado. Namun sisi baiknya dari tertundanya penerbangan itu, akhirnya pesawatku tak jadi transit di Ujung Pandang, dan langsung Jakarta-Manado.

Penerbangan aku tempuh sekitar 3 jam, sehingga tiba di Manado sekitar pukul 22.00 waktu setempat. Sampai sana aku dijemput oleh 2 temanku yang dari Jakarta itu, dan satu teman kantor yang memang dari cabang Manado.

Sampai sana, kami langsung makan. Makan enak. Restoran seafood yang letaknya di pinggir pantai yang masih terletak di pusat kota Manado. Menunya utamanya adalah kepiting kenari. Aku tak tahu diolah bumbu apa, yang jelas enak, enak dan enak. Di sana satu kilo kepiting kenari ini dijual Rp.200.000an, dan kalau di Jakarta, ada restoran di daerah Kelapa Gading yang menyediakan menu ini, mematok harga Rp.1.000.000 perkilo. Harga tersebut, harga tahun 2003.

Sehabis kenyang, aku langsung ke hotel tempat teman-temanku itu menginap. Kamipun langsung terlelap. Aku lelah karena sehabis melakukan perjalanan jauh, dan cukup lama menunggu penerbangan di bandara Jakarta. Sedangkan teman-temanku, lelah karena paginya mereka harus presentasi dan memberikan pelatihan.

Hari berikutnya, 19 September 2003, salah satu temanku masih harus memberikan pelatihan. Namun aku, dan 2 temanku lainnya, akhirnya ke Tomohon. Daerah ini semacam daerah puncak di Manado. Daerah yang masih cukup berudara dingin, karena ini merupakan daerah dataran tinggi. Kami pun makan siang di salah satu restoran terkenal di sana. Namun kebanyakan makanan yang tidak halal yang disajikan di restoran ini. Aku rasa pada umumnya sudah mengenal istilah sate B2 dan B1 yang diolah menjadi masakan bernama RW itu bukan? Namun aku hanya menyantap sup kacang merah.

Sepulang dari Tomohon, kami kembali ke hotel, dan bersiap untuk santap malam. Santap malam kami lakukan di salah satu restoran di pinggir pantai lagi, namun bukan restoran yang sama dengan malam sebelumnya.

Satu kejadian aneh yang aku temui di sini. Biasanya jika kita ingin memanggil pelayan untuk menghampiri meja kita, kita memanggilnya dengan sebutan mbak atau mas. Namun tidak sama dengan di Manado. Cara kita memanggil pelayan untuk menghampiri meja kita dengan “Sssst, ssst!”. Sepertinya memang tak sopan, namun kata temanku yang asli dan tinggal di Manado dari kecil, memang begitulah cara memanggilnya, kalau tidak begitu, mereka tidak akan menoleh. Benar saja, saat kami bertiga yang bukan penduduk Manado, memanggil mereka dengan sapaan mbak, mereka tak menoleh sama sekali. Lalu kami mempraktekkan apa yang dianjurkan temanku, memanggil dengan “Sstt, sstt!”. Seketika mereka langsung menoleh.

Malam itu, kami berdiskusi ingin melakukan apa Sabtu dan hari Minggu itu. Ada dua pilihan, ke Bukit Kasih, atau ke Bunaken. Beruntunglah ada teman yang asli dan lama tinggal di Manado, jadi ada pemandu wisata di sana. Ia menjelaskan bahwa bukit kasih itu, adalah bukit yang mempunyai 5 tempat ibadah, dari 5 agama yang ada di Indonesia, dan semuanya berdiri sebelahan. Masjid, Gereja Protestan, Gereja Katholik, Pura, Wihara, yang masing-masing mewakili satu agama. Tempat ini dibuat sebagai simbol, memang seharusnya semua agama dapat hidup rukun, damai dan saling toleransi. Sedangkan kalau Bunaken, sepertinya tidak ada yang perlu dijelaskan lagi bukan?

Akhirnya Sabtu itu, kami memilih ke Bunaken. Untuk mencapai pulau ini, kami harus menaiki perahu motor, ataupun boat. Perahu motor harganya lebih murah, namun lebih lambat, dan bisa dinaiki lebih dari 10 orang. Sedangkan boat, hanya cukup sekitar 6 orang, lebih cepat dan tentu lebih mahal. Namun sebelum ke dermaga tempat menyeberang, ‘pemandu wisata’ dadakan kami, mengajak kami berputar-putar sebentar. Pertama ia membawa kami ke rumah seorang kenalannya yang biasa membuat nasi bungkus. Otomatis kami bertanya “Buat siapa nasi-nasi itu?”.

“Nanti kalian akan tahu gunanya”

Lalu kami mampir ke toko kue terkenal untuk memesan klaper tart, yang bisa dibawa ke Jakarta. Klaper tart yang akan dibawa ke Jakarta, mungkin karena kemasannya harus khusus, maka harus dipesan satu hari sebelum diambil. Di sana kembali satu hal aneh dilakukan teman kami yang satu itu, yaitu membeli berbotol-botol air mineral 1.5 liter. Kembali kami ‘orang-orang asing’ bertanya “Kok banyak banget belinya?”.

Jawabannya si Manado itu “Pasti ntar berguna deh.”

Kami terima diam dan menurut. Kunjungan berikutnya adalah restoran kepiting kenari itu. Lagi-lagi kami ingin membawa makanan enak itu ke Jakarta. Sama seperti klaper tart, harus dipesan satu hari sebelumya.

Setelah semua urusan perbekalan selesai, kami langsung ke dermaga. Kalau tak salah sekitar jam 12.00 WITA. Banyak juga rombongan wisatawan yang datang ke sana. Terutama wisatawan asing. Bahkan diantara mereka yang sepertinya sudah sering datang ke Bunaken. Mereka ada yang membawa perlengkapan menyelam sendiri, dan sepertinya mereka sudah pandai berbahasa Indonesia, bahkan lihai menawar biaya sewa kapal. Namun ada juga yang sepertinya baru pertama kali, dan dikenai biaya yang mahal.

Berhubung ‘pemandu’ kami orang asli, tawar menawar pun dilangsungkan dengan bahasa asli Manado. Kami tak tahu artinya apa. Biaya sewa boat, untuk kami berempat hanya Rp.200.000, satu kali jalan. Jelas harga itu lebih murah, karena harga itu termasuk ongkos si supir perahu, dan pemandu saat kami nanti di laut.

Penyeberangan kami lakukan kurang dari satu jam. Pertama-tama kami harus menepi ke pantai pulau Bunaken itu. Langsung mata ini disuguhkan pemandangan hamparan pasir putih nan bersih, yang luar biasa. Perahu tak bisa bersandar terlalu dekat tepi pantai. Kami dijemput dengan perahu yang lebih kecil untuk menepi. Barulah kami harus menyebur dan berjalan menuju pantai. Begitu kaki ini menginjak dasar laut yang sudah melandai, kami pun merasakan kelembutan pasir putih itu.

Ternyata tempat yang kami datangi itu adalah tempat penyewaan alat-alat snorkling. Tadinya aku enggan ikut menyewa, karena aku tak bisa berenang. Namun teman-temanku mencoba memberanikan aku untuk ikut snorkling. Akhirnya aku sepakat dengan mereka. Biaya sewa alat lengkap, setiap orangnya hanya Rp.50.000, dan tidak dibatasi waktu pemakaiannya, mau sampai kulit gosong di laut juga tak apa.

Sewa menyewa alat beres. Kami pun kembali ke tengah laut dengan boat. Selama perjalanan menuju titik snorkling, teman kami si Manado itu, membukakan nasi bungkus yang tadi dibelinya, sambil berkata kepada kami “Nih, makan siang dulu, di sini ngga ada yang jual makanan maupun minuman. Jadi harus bawa sendiri buat bekal.”

Titik terumbu karang yang paling indah ditunjukkan oleh si pemandu. Setelah sampai dan jangkar dilepaskan, kami pun bersiap-siap memakai peralatan. Kembali aku urung, karena takut. Namun melihat beningnya laut aku pun tergiur. Ikan-ikan yang berenang di lautan bisa terlihat bahkan saat kami memandanginya hanya dari pinggir boat. Akhirnya aku mau, tetapi saat mulai masuk ke air, ketakutan ini pun kembali ada, sehingga membawaku ingin kembali ke atas boat. Padahal salah satu temanku sudah berkelana berenang di sekitar boat kami. Niat kembalinya aku ke atas boat dilarang keras oleh salah satu temanku, “Cha elu harus berani, kapan lagi?”

Perlahan aku coba mencelupkan kepala ini ke air, dan mencoba melihat kondisi di laut dalam. Seketika aku berpikir “Buset dalem banget, tapi keren, keren abis, ada ikan napoleon pulakh.”

Tak lama kemudian, aku sudah berenang-renang di lautan itu. Si Manado temanku itu, tak ikut snorkling, ia tinggal di boat, dan berbaik hati menjaga barang-barang bawaan kami yang sangat banyak.

Begitu sampai di titik terumbu karang yang indah, aku pun kembali ditakjubkan “Ya Tuhan, bagus banget, cantik banget.”

Di titik itu banyak wisatawan asing yang tadi kami lihat di dermaga. Ada satu anak perempuan yang kata pemandu kami saat kami di boat, ia warga negara Australia, yang snorkling tanpa alas kaki khusus. Lalu aku tanyakan mengapa demikian, pemandu kami katakan ia sudah biasa datang ke sini, dan sudah sangat fasih berbahasa Indonesia.

Terumbu karang berbagai warna yang terang, sebagian ada yang menari-nari seakan menyambut kedatangan kami. Si Nemo berenang bersama kami, juga ikan-ikan lainnya yang beraneka warna. Ketakutan langsung sirna, dan berubah menjadi kegembiran dan pengalaman berharga, tak terlupakan. Saat itu, sinar matahari bersinar sangat terang, begitu terik dan saat di laut, kami sudah berpikir “Bodokh amat lah item bagian belakang doang, hahhaha.”

Setelah 2 jam bersnorkling ria, kami kembali ke boat. Rencananya untuk melihat titik lainnya.
Namun sayang langit sudah mendung, dan titik itu harus dilewati dengan menyeberangi putaran arus yang sedang sedikit kencang, selain itu sedang dipenuhi banyak bulu babi, yang beracun. Hingga kami diminta memutar menghindari kumpulan bulu babi dan putaran arus itu. Di titik ke-2 tak berlangsung lama, kami sudah kembali ke boat.

Melihat langit mendung, dan gelombang air laut yang nampaknya tidak setenang tadi, temanku menanyakan pada kami, apakah kami ingin kembali ke Manado, atau menginap di Bunaken saja?
Karena aku paling kecil di situ, jadi keputusan ada di tanganku. Aku memutuskan untuk menginap di Bunaken.

Bastianos Cottages tempat kami menginap. Tempat penginapan paling besar saat itu di sana. Tidak seperti biasa, harga sewa bukan berdasarkan jumlah kamar dan jumlah malam kami menginap. Namun harga sewa berdasarkan jumlah orangnya. Per kepala dikenai biaya Rp.125.000, berapa pun jumlah kamar yang dipakai. Biaya itu ternyata biaya makan tiap orang. Maklum jumlah hidangan sangat disesuaikan dengan tamu yang datang. Sore itu makanan untuk santap malam belum tersedia, tetapi kami sudah merasa lapar. Ingat ada sisa nasi bungkus dan air mineral yang tadi kami bawa, kami pun kemudian menyantapnya di depan kamar kami. Temanku si Manado itu tak ikut menginap di sini. Ia, pak supir boat, dan pemandu lautan kami pun kembali menyeberang ke Manado. Besok siang kami akan dijemput dengan boat lain, yang sudah diaturnya dengan orang Bastianos.

Kamar tidak dilengkapi kamar mandi dalam. Kamar mandi disedikan di luar kamar, jadi bisa digunakan oleh semua tamu. Tenang saja, kamar mandi di luar disedikan cukup banyak. Kalau tidak salah setiap tiga deret kamar ada dua kamar mandi.

Hal lucu aku temui di sana. Saat ingin mandi. Aku mencoba menyalakan lampu dan juga keran kamar mandi. Ternyata semuanya tidak berfungsi. Lampu dan air belum menyala. Aku pun menanyakan pada pihak pengurus tempat penginapan. Ia pun menginformasikan bahwa di sana listrik baru dinyalakan setelah jam 18.00 WITA. Pasokan listrik di sana masih terbatas ternyata.

Makan malam tersedia sekitar pukul 19.00 WITA. Hidangan yang disajikan adalah hidangan laut. Terus terang menunya aku lupa, yang jelas enak, atau mungkin karena saat itu kami lapar dan lelah karena bersenang-senang di laut seharian. Penyusunan ruang makan tidak seperti ruang makan hotel pada umumnya. Penyusunannya hampir menyerupai tata ruang makan di rumah. Sangat kekeluargaan. Ada sofa-sofa panjang, ada meja di tengah, dan di sana dilengkapi dengan televisi. Antar tamu yang tadinya tidak saling kenal, akhirnya bisa akrab dengan mudah.

Kamar kami langsung menghadap laut, jadi semilir angin saat kami duduk-duduk di teras depan kamar juga sangat terasa. Dingin dan segar, tanpa polusi. Hei, hidungku bersih dari cairan karena sinus. Kami bertiga akhirnya ngobrol-ngobrol di teras sampai kaki ini tak tahan digigiti oleh nyamuk.

Kami masuk kamar, di sana disediakan satu ranjang besar dan satu ranjang ekstra, yang sedikit agak lembab. Akhirnya kami memilih tidur bertiga di ranjang yang besar. Di kamar ternyata tidak terbebas dari nyamuk, tapi untungnya di kamar disediakan kelambu yang bisa melindungi kami dari gigitan nyamuk. Satu pengalaman baru lagi, tidur dengan kelambu.

Esok paginya, setelah sarapan, boat yang akan mengantar kami telah siap.

“Selamat tinggal Bunaken.”

Kami dibawa dengan perahu kecil untuk menuju boat yang berada di tengah laut. Ukurannya lebih besar daripada yang kemarin. Kami bisa duduk-duduk di bagian depan sambil menikmati angin laut dan melihat lumba-lumba yang ikut berenang di sebelah kiri dan kanan boat yang kami tumpangi. Indah sekali. Sangat menakjubkan.

Dermaga tempat kami mendarat tidak sama dengan kemarin. Dermaga yang sekarang letaknya sedikit di luar kota Manado. Tepatnya di dermaga Hotel Sheraton. Di hotel itu kami sudah di jemput teman kami si Manado itu. Semua pesanan kami untuk oleh-oleh ke Jakarta, ternyata sudah lengkap ada di mobil.

Tidak ada tempat lain yang bisa dikunjungi lagi. Mengingat saat itu sudah tengah hari, dan penerbangan kami menuju Jakarta pukul 14.00 WITA. Kami pun langsung menuju bandara. Sedihnya penerbangan juga harus ditunda. Hal itu karena Manado kembali diguyur hujan deras. Pesawat dari Ujung Pandang yang rencananya akan mengangkut kami, tidak bisa mendarat di Sam Ratulangi, dan harus kembali ke Sultan Hasanuddin Ujung Pandang. Padahal sudah sampai Manado lo, karena jarak pandang landasan terlalu pendek, mau tidak mau harus memutar balik. Kembali aku harus menunggu lebih dari 4 jam. Sampai para penumpang diberi makan malam ekstra oleh pihak maskapai.

Sekitar pukul 19.00 WITA, pesawat kami pun diberangkatkan. Tidak langsung Manado-Jakarta, melainkan Manado-Ujung Pandang-Jakarta. Transit di Ujung Pandang tidak lebih dari 30 menit.
Kami pun kembali ke kota yang penuh dengan polusi ini lagi sekitar pukul 22.00. Dengan membawa satu loyang klaper tart, kepiting kenari yang super enak, berjuta pengalaman baru, dan rasa senang yang tak terdefinisikan.

Ya, begitulah cerita liburanku waktu itu. Selanjutnya hingga tahun ini (2008) liburanku tak pernah direncanakan jauh hari sebelumnya. Paling lama satu seminggu sebelum keberangkatan.

Terima kasih buat Hao, yang sudah menjadi pemandu wisata kami selama kami di Manado. Terima kasih juga buat keluargaku yang sudah pasrah mendengar perkataanku “Ma, aku lusa ke Manado ya.”

atau “Besok aku ke Bandung ya 4 hari.”, “Besok aku jalan-jalan ke Bali ya.”, “Nanti malem aku terbang ke Bali ya.”

Untuk semua yang membaca, semoga informasi di atas berguna. Harga-harga yang tercantum di atas dan juga semua informasi itu, adalah apa yang aku alami tahun 2003, yang pastinya berbeda dengan sekarang-sekarang ini. Jika ada yang mau memberi informasi tambahan, sangat diharapkan.

Informasi menyedihkan yang sempat aku dengar, bahwa terumbu karang di sana semakin rusak. Mudah-mudahan tidak bertambah parah esok-esok hari. Semoga para wisatawan dan semuanya saja, dapat menjaga habitat mereka dengan baik. Tidak merusak, tidak mencoba memindahkan mereka ke akuarium-akuarium di rumah-rumah, tidak membuang sampah di lautan. Semuanya itu untuk kita juga pada akhirnya.

Selamat berlibur teman-teman. Manado bisa menjadi salah satu tujuan yang perlu dimasukkan daftar rencana liburan. Itupun kalau liburan kalian direncanakan sebelumnya, hehehee.

Tags: , ,

Leave a Reply