Seperempat Manado, Tiga Perempat Jawa…

Terlahir dari ayah seorang Jawa tulen, dan ibu yang merupakan campuran Jawa dan Manado. Itulah aku.

Ibuku yang sangat pandai memasak, walau semakin beliau tua, semakin jarang ia memasak untuk kami. Kami berlangganan katering untuk keperluan makan sehari-hari. Namun katering itu biasanya hanya bertahan sampai sore hari, sedangkan malam mau tidak mau ibu menyediakan makanan untuk kami sekeluarga, walau sangat sederhana.

Tak diragukan, masakan beliau, sangat lezat. Apapun yang dimasaknya, sesederhana bahan-bahan dan bumbu yang diolah, tetap akan terasa lezat. Ya, mungkin karena masaknya juga dengan cinta, jadi rasanya pun berbeda.

Apalagi jika menjelang hari raya natal. Saat hari besar itu, dulu, semua adik-adik ibu yang berada di Jakarta, datang ke rumah kami. Maklum, ibuku anak paling tua di keluarganya, jadi rumah kami, biasanya jadi kunjungan utama tali silaturahmi semua keluarga yang ada di Jakarta. Hampir tidak ada yang absen pada acara itu, dan sebelumnya mereka sudah menelepon menanyakan masak apa di hari natal itu.

Jika dilihat dari garis keturunan ibuku, sebenarnya beliau lebih sering mengaku orang Jawa, karena ayah beliau yang orang Jawa tulen, barulah ibu beliau orang Manado tulen. Namun tak tahu mengapa, dari waktu ibu masih di rumah orang tua beliau, masakan yang sering menjadi menu utama di rumah adalah masakan Manado. Jarang sekali mereka memasak masakan Jawa, padahal mereka saat itu masih tinggal di Magelang, Jawa Tengah. Kebiasaan inilah yang juga turut dibawa saat ibu pindah ke Jakarta.

Dari kecil di rumahku sering sekali tersedia masakan Manado, dari pada masakan Jawa. Semua menu masakan Manado ini, lengkap hadir di meja, saat perayaan Natal di rumah. Sebut saja ayam rica-rica, sup kacang merah dan ‘daging’ kecap yang keduanya mengandung daging haram bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, bubur manado lengkap dengan ikan asinnya, ikan roa, tinorasak, kecuali RW, karena kami sekeluarga pencinta dan memelihara binatang yang dagingnya menjadi bahan utama masakan ini. Oh ya tak ketinggalan sambal dabu-dabu. Sayang klaper tart tak pernah dibuat oleh ibu, padahal aku juga suka.

Waktu kecil aku tidak suka masakan pedas. Ayam rica yang diolah, biasanya aku makan tanpa cabai-cabai yang bertebaran di atasnya, jadi rasanya tak terlalu pedas. Begitu pun juga dengan sambal dabu-dabu, dulu aku tak berani menyentuhnya, tak tahan lidah ini menggigit cabai rawit, cabai merah, yang dilengkapi dengan bawang merah, tomat hijau dan merah ini. Namun karena masakan-masakan seperti itu sering tersedia di rumah, dan saat aku melihat orang-orang menyantapnya tampak menggugah selera, aku jadi berani mencoba makanan yang menggunakan bumbu-bumbu super pedas itu dan juga sambal dabu-dabu. Terbakar memang lidah ini saat menyantap makanan-makanan tersebut. Namun rasa enaknya menghapus penderitaan terbakarnya lidah.

Sambal, pedas, sambal, pedas, sekarang tak ragu lagi aku santap. Penggugah selera, penambah napsu makan, enak, dan yang jelas merupakan salah satu bukti cinta ibuku kepada keluarga.

Besok bikinin sambal dabu-dabu lagi ya maaa…heheheh…nyam-nyam-nyam…

Tags:

Leave a Reply