Cinta dari Segala Cinta…

Tak tahu mengapa setelah aku pulang berlibur, baru hari ini aku kembali duduk berjam-jam memainkan piano dan bernyanyi. Sedikit aneh memang, karena biasanya tidak ada satu hari pun aku lewatkan untuk jariku ‘berdansa’ di atas tuts, dan mulut ini mulai mengeluarkan nada yang terharmonisasikan dengan baik, sehingga menjadi sebuah lagu.

Dari sekian banyak part lagu dari berbagai genre, lagu berjudul “The Greatest Love of All” yang dinyanyikan dan dipopulerkan oleh Whitney Houston, merupakan salah satu lagu kesukaanku.

Whitney..hmm..perempuan yang memiliki suara emas ini, memang tak diragukan lagi untuk urusan menyanyi. Lagu apapun bisa sukses ia nyanyikan dan akan terdengar indah. Apalagi lagu dengan judul yang aku tulis di atas itu. Bagiku lagu itu mempunyai nilai lebih. Lirik lagu itu mempunyai makna yang sangat dalam, dari kata pertama hingga kata di akhir lagu.

“….i decided long ago, never to walk in anyone’s shadows, if i failed if i succeed, atleast i live in i believe. No matter what they take from me they can’t take away my dignity….”

Akhirnya aku sadari, tak semua orang seberuntung aku.

Aku masih diberi rasa bangga dan percaya diri sendiri oleh orang-orang yang berada di sekitarku, untuk dapat melangkah memasuki masa depanku.

Walau kadang aku merasa ditinggalkan, namun ternyata cinta mereka ada dihadapanku, jika aku mau mencoba membuatnya tak lagi tampak samar.

Tangan mereka seakan tak ada untuk menolongku, tetapi saat diri ini terjatuh, dan tergopoh-gopoh untuk bangkit, uluran mereka ada meraih lemahku.

Ya, diri ini semakin dibuat dewasa oleh mereka yang ada untuk aku, yang pernah mengisi lembaran hidupku, yang mencintai ataupun membenci diri ini.

‘Kertas putih’ yang aku bawa saat lahir, makin hari semakin banyak ‘tulisan’. Kelamnya dunia di hari esok, akan secerah mentari berkat torehan ‘tinta emas’ dari mereka.

Akan kucoba membuat langkah kaki ini seringan kapas yang tertiup angin, saatku berjalan di jalanan penuh kerikil tajam.

Akan terus kuhindari seribu bayang, sehingga aku bisa tentukan langkahku sendiri.

Dan aku akan terus belajar bersandar pada diriku sendiri, sampai ‘kertas putih’ yang aku bawa telah penuh terisi.

Sampai kaki ini harus berhenti melangkah. Sampai harus kuakhiri perjalananku. Sampai aku harus bersimpuh, meringkuk, dan menjadi debu.

Tags:

Leave a Reply