Pertama Kali..

Pertama kali? Hayooo pertama kali ngapain? Pertama kali ke mana? Pertama kali ketemu sama siapa? Pertamaaaa kaaaallliiii…

Dua kata yang menakjubkan untuk aku… Karena bagi aku apapun untuk yang pertama kalinya, pasti sulit untuk aku lupakan… Kalo menggunakan istilah psikologi, langsung tuch masuk ke Long Term Memory…karena kemungkinan besar kita menumpahkan atensi lebih, kepada sesuatu hal yang untuk pertama kali….

Coba dech inget ngga pertama kali kita ke sekolah? Sekolah pertama yang aku jajaki adalah tingkat TK, maklum dulu belum ada tuch pre-school atau nursery. Rasa penasaran, senang, dan mendebarkan, seingatku sempat aku rasakan saat itu. Diantar mama, memasuki gedung sekolah itu, membuatku antusias. Duduk di kelas, dan bertemu dengan teman-teman serta belajar bersosialisasi, adalah suatu gairah tersendiri. Namun hari-hari pertama berlalu, dan semuanya itu lama-lama menjadi suatu hal yang biasa. Begitupun saat memasuki jenjang-jenjang pendidikan yang lebih tinggi berikutnya. Pertama kali, rasa penasaran, sesuatu yang baru dan asing, membuat aku ingin mengeksplorasi lebih jauh semua hal yang ada di sana. Namun lambat laun, semuanya itu menjadi rutinitas harian aku.

Saat umur aku 8 tahun, terpaksa aku dirawat inap di Rumah Sakit Ibu dan Anak Harapan Kita. Penyakit gejala demam berdarah menyerangku. Kebetulan kamar tempat aku di rawat saat itu, adalah untuk satu orang pasien, namun lebar ruangan seingatku kira-kira bisa untuk 4 orang pasien. Tak tahu kenapa, aku tak ingin ditunggui oleh mama saat di rawat. Aku meminta beliau untuk tak menungguiku, dan datang saat jam besuk saja. Permintaan itu aku ajukan saat hari ke-2 aku di rawat. Seingatku aku mengatakan padanya, “Ngga papa, khan banyak suster.”, padahal di dalam hati, aku juga sedikit merasa takut. Namun saat itu aku berhasil mengatasi rasa takutku, pertama kali di rawat inap di rumah sakit, dan tak ditunggui oleh keluarga.

Merasa sudah cukup besar, aku tak ingin pulang sekolah di jemput oleh ibuku, kecuali saat aku harus les nyanyi Bina Vokalia. Mengingat tempat les aku ini, jauh dari sekolahku, dan perlu berganti kendaraan umum dua kali. Sepuluh tahun umurku saat itu. Aku meminta ijin papa, untuk pulang sendiri, naik kendaraan umum, dan tidak dengan jemputan sekolah. Senangnya aku, permintaanku ini dikabulkan oleh papa.

Pertama kali ditinggal orang tuaku untuk hidup di Australia, dan aku lebih memilih tetap di Indonesia, hidup bersama kakak ke duaku, oma dan opa, sepupu, dan juga kakak pertamaku yang hanya pulang ke rumah saat akhir pekan, karena ia kuliah di Bandung. Hehehe, terbebas dari perintah mama, dan hidup bersama oma rasanya lebih dimanja ternyata. Senang rasanya.

Pertama kali mendengar pernyataan cinta atau rasa suka dari seseorang. Saat itu aku duduk di bangku SMP kelas satu, kalau saat ini kelas 7. Aku dulu salah satu murid kelas 1C. Saat pelajaran Bahasa Inggris, seorang teman laki-laki di kelasku, memanggilku dan mengatakan bahwa dia suka sama aku. Bodoh kalau dipikir. Karena posisi duduk kami berjauhan. Aku duduk di baris ke dua dari depan, dan ia duduk di baris ke dua dari belakang. Hal ini membuatku tersipu-sipu selama pelajaran tersebut.

Menerima surat cinta pertama kali, saat aku duduk di bangku SMP kelas 2. Surat ini berasal dari teman laki-lakiku yang berada di kelas yang berbeda. Ia meminjam buku lagi-lagi Bahasa Inggris aku, karena ia lupa membawanya, dan saat itu pelajaran Bahasa Inggris kelasku sudah selesai sebelum istirahat. Saat bel usai sekolah berbunyi, aku langsung menghampirinya di luar kelas, untuk mengambil buku yang dipinjam olehnya. Tak tahu mengapa, aku pun langsung membuka-buka buku itu, dan ternyata ia menyelipkan secarik kertas di sana. Lalu aku bertanya padanya, kertas apa itu, dan ia menjawab “Bacanya di rumah aja ya”. Sesampainya di rumah aku tak sabar membacanya, dan ternyata surat itu adalah ungkapan rasa sukanya padaku, dan permintaannya untuk menjadi pacarku. Jawaban yang aku berikan, pada akhirnya adalah kesediaan untuk menjadi pacarnya, dan jadilah ia pacar pertamaku. Hubungan ini berlangsung selama enam bulan.

Study Tour yang aku jalani saat menjelang akhir aku di SMP, awal 1994, memberikan aku juga suatu pengalaman untuk pertama kalinya. Holding hands dengan seseorang temanku, tentunya teman laki-laki dounks. Hal ini kami lakukan selama kami berada di bis. Dinginnya suhu penyejuk udara di dalam bis membuatku kedinginan, dan membuatku menjadi tak bisa tidur. Hal ini disadari oleh temanku itu. Berbeda dengan tubuhku yang mudah sekali kedinginan, tubuhnya sangat mudah berkeringat dan lebih bisa menerima hawa dingin. Hal ini menyebabkan, suhu penyejuk udara tak terlalu berpangaruh padanya, bahkan tubuhnya pun masih hangat. Bak seorang putri, sandaran kursi tempat aku duduk, diperbolehkannya untuk diturunkan, bahkan hampir mengenai tubuhnya, sehingga posisi sandaran kursi tak terlalu tegak. Ia bertanya padaku “Elo kedinginan?”. Aku pun menjawab “Iya nih, dingin banget, padahal udah pake sweater.”. Tak disangka ia menawarkan untuk menghangatkan tanganku, dengan cara menggenggam tanganku dengan kedua tangannya. Berbekal jaket kotak-kotak hijau biru miliknya, tanganku digenggamnya di bawah jaket itu. Jaket itu adalah dalih agar tak terlihat teman-teman lainnya, dan menghindari gosip. Dengan genggaman tangannya malam itu, bukan berarti menjadikanku bisa tidur, tetapi membuatku menutup mata, sembari deg-degan. Itu kami lakukan hampir setiap saat. Selama kami bepergian. Dari Jakarta menuju Jogjakarta dan sebaliknya, dan juga saat kami bepergian selama di kota Jogja itu sendiri. Aku sadari ada suatu saat kami berdua memberikan genggaman yang lebih erat, seakan kami gemas. Bermula dari sana, benih cinta itu pun timbul. Kami berdua menjadi sangat dekat, bahkan perbedaan SMA kami tak menjadi halangan. Pada akhir tahun itu, kami memutuskan untuk berpacaran. Hubungan kami ini bisa bertahan hampir 2 tahun.

Ciuman pertama? Hayooo, siapa yang ngga inget dengan yang satu ini? Ngga mungkin khan lupa gimana rasanya ciuman pertama, dengan siapa dan di mana? Seeruuuu, lucu, seneng, berdebar-debar, dan yang jelas tak terlukiskan deh. Pertama kali ciuman? Tunggu, bukan sekedar cium pipi looo. Waktu itu umurku baru lima belas tahun. Saat aku masih duduk di kelas 1 SMA, dan saat itu kami berdua belum resmi berpacaran. Dengan siapa dan di mana? Jawabanku, “Ada dech”, yang jelas aku ngga lupa dengan siapa dan di mana.

Pertama kali tinggal jauh dari orang tua. Walaupun tak terlalu jauh, aku dan orang tuaku masih berada di satu kota yang sama. Saat aku memutuskan untuk tinggal di kos, di daerah dekat kampusku yang pertama, di bilangan timur Jakarta. Banyak kejadian yang pertama kali aku alami. Antara lain mengatur keuangan mingguan, baik untuk makan, urusan kuliah, bersenang-senang dan biaya pulang ke rumah. Kemudian pulang pagi dengan teman-teman kos, sehabis dugem atau sekarang lebih dikenal dengan istilah clubbing. Cabut kuliah, baik untuk sekedar tidur di kos, untuk pacaran, atau sakit. Tanggung jawab sama nilai-nilai kuliah, dan aku pun berhasil bertahan dengan posisi GPA di atas 3. Padahal LPK Tarakanita menetapkan standar nilai A itu di atas 85, dan saat aku SMA nilaiku selalu pas-pasan. Lebih sering membereskan kamar, dari mengambil pakaianku yang sudah selesai di seterika oleh pembantu kos, sampai mengepel kamar sendiri. Muntah-muntah karena salah makan. Kejadian ini terjadi di tengah malam, dan karena tak tahan aku muntah di kamar kos. Alhasil saat itu, dalam keadaan lemas aku harus membersihkan sendiri bekas muntahan saat itu juga. Belum lagi esok paginya aku ada jadwal ujian, yang berbeda dengan semua teman kos ku. Berjalan sendiri dari kos ke kampus tanpa teman. Tak kuat berjalan aku pun sempat berhenti beberapa kali.

11 September 2000, pertama kali kerja. Lelah, lelah dan lelah. Tak memiliki waktu untuk diri sendiri. Rumah seolah-olah hanya penginapan. Namun hal yang paling menyenangkan, aku punya penghasilan sendiri, dan bisa belanja-belanja dengan hasil keringatku sendiri. Di samping itu, aku juga sudah menjadi pemegang kartu utama, kartu kreditku, yang dulu masih menjadi kartu tambahan, kartu papa.

Oktober 2001, bertemu dengan mentor sejatiku, di tempat aku bekerja. Kebetulan, kami berdua berada di divisi yang sama. Hidup bersama dengannya, merasakan banyak kejadian pertama kali. Tak tahu mengapa, aku sangat percaya dengannya. Ia berhasil membuka hatiku, yang tadinya sangat arogan, untuk lebih mau mendengar orang lain. Pertama kali berani makan ikan mentah, alias sushi, yang saat ini menjadi favoritku. Pertama kali berani nyemplung ke laut untuk snorkling saat kami ke Bunaken padahal aku belum bisa berenang. Pertama kali bisa berenang kembali. Kembali ke Bali setelah bertahun-tahun tak ke sana. Pertama kali aku disadarkan bahwa aku bukan seorang putri raja yang semua-semuanya harus disediakan di depan mata. Arti kemandirian pertama kali aku diajarkan olehnya. Arti kerasnya hidup, kejamnya dunia kantor, dan cara menghadapinya, untuk pertama kali diperkenalkan olehnya.

Pertama kali, adalah suatu pengalaman berharga, adalah suatu titik balik, adalah suatu tolok ukur, adalah suatu indikator, adalah suatu yang tak terlupakan.

Tags:

Leave a Reply