Lombok Bagian I

April 12th, 2013

Semua berawal dari keisengan saya browsing situs maskapai penerbangan yang biasa saya pergunakan untuk bepergian. Dan sangat giranglah saya, saat menemukan tiket promo Jakarta – Lombok, pulang pergi di mana saya hanya membutuhkan uang sebesar Rp.1.400.000 untuk itu.

Seketika saya menghubungi teman satu kantor yang menurut saya mudah untuk saya ajak dan ‘culik’ untuk pergi ke sana. Tanggapannya ternyata positif, sehingga kami berdua memutuskan untuk membeli tiket untuk keberangkatan tanggal 6 – 9 April 2013. Walaupun kami harus menunggu 6 bulan sebelum kami dapat menikmati Lombok.

Sesuai dengan perjanjian kami berdua, kalau perjalanan ini bukan perjalanan mewah, diusahakan perjalanan ini hanya akan merogok kocek kami seminimal mungkin. Memang perlu diakali sedikit dan tidak sulit.

Tujuan utama kami ke Lombok kali ini adalah bermain-main air dan menikmati kepulauan Gili Trawangan dan sekitarnya. Dan kami tidak memakai tur perjalanan. Semua hanya bermodal dengan Mbah Google yang memampukan kami mencari tau keperluan, moda transportasi, akomodasi, kuliner dan aktivitas yang akan menjadi target utama kami berdua selama di Lombok kali ini.

Penantian panjang kami pun berakhir. Sabtu, 6 April 2013, pukul 8.00 pagi, kami sudah harus berangkat dari rumah kami masing-masing, untuk menuju Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta. Penerbangan kami dengan maskapai nasional terbesar, dijadwalkan berangkat sekitar pukul 11.00 pagi. Lombok Praya akan dicapai setelah melakukan penerbangan sekitar 2,5 jam.

Kursi dan ruang untuk kaki yang nyaman, dan makanan yang disediakan di dalam pesawat membuat penerbangan dari Jakarta – Lombok tidak terasa. Seperti biasanya, saya selalu memilih kursi yang dekat dengan jendela. Merupakan kesenangan tersendiri saat di dalam pesawat, saya bisa melihat kumpulan awan yang menyerupai kapas, sambil menghayal sesuka yang saya inginkan. Dan tentunya pemandangan saat pesawat akan tinggal landas maupun saat akan mendarat. Saat daratan sudah terlihat, seketika saya dan Nadia, teman saya, berkomentar “Sumpah, gue ga akan nyesel ke sini. Let’s have fun here.”

Sekitar pukul 14.00 WITA, kami mendarat di Bandar Udara Internasional Lombok Praya, yang letaknya jauh dari Senggigi, kawasan yang akan kami tuju, karena dari kawasan ini, kami akan ke Pelabuhan Bangsal, untuk menyeberang ke Gili Trawangan.

Dari bandara, kami memilih untuk menggunakan Bus Damri. Bus Damri ini akan melakukan beberapa pemberhentian, seperti di Mataram, sebelum mengakhiri perjalanannya di Senggigi. Ongkos Bus Damri ini hanya Rp.25.000 sampai Senggigi, untuk penumpang yang akan berhenti di Mataram, tentunya ongkosnya akan lebih murah. Jadwal keberangkatan Bus Damri ini, sepertinya ada setiap jam, walaupun mereka akan ngetem beberapa waktu tertentu, sampai kira-kira penumpangnya sudah hampir penuh.

Selain menggunakan Bus Damri untuk menuju Senggigi, bisa juga menggunakan taksi yang biayanya tentu akan lebih mahal daripada menggunakan bus. Menurut informasi dari mereka yang memilih menggunakan taksi, biayanya sekitar Rp.200.000, tetapi tentunya akan lebih cepat sampai ke tempat tujuan.

Bandara – Senggigi menggunakan Bus Damri akan ditempuh dalam waktu 2 jam.  Bus Damri ini akan berhenti di sekitar Hotel Sheraton Senggigi. Dari sana kami harus melanjutkan dengan angkot atau taksi. Beruntunglah kami, saat kami tiba di sana, masih ada satu angkot yang bisa mengantarkan kami ke Pelabuhan Bangsal, karena jika tidak dengan angkot ini, kami harus menggunakan taksi, yang tidak diperkenankan masuk sampai ke kawasan pelabuhan, dan akan menyebabkan kami berjalan kaki lagi mencapai pelabuhan. Untuk mencapai Pelabuhan Bangsal, kendaraan yang diperbolehkan masuk adalah hanya angkot dan Codomo, andong, moda transportasi khas Lombok.

Kami harus mengeluarkan uang Rp.70.000 untuk angkot dan juga tiket penyeberangan. Dari Senggigi menuju Pelabuhan Bangsal, jarak tempuhnya masih sekitar 30 – 45 menit. Entah apakah harga yang dipatok itu wajar atau tidak, kami hanya berpikir bahwa saat itu sudah sangat sore, dan kami pun tidak tahu persisnya jam berapa penyeberangan terakhir ke Gili Trawangan saat itu.

Saat di atas angkot, pemandangan yang terpampang di depan mata sangat menyenangkan. Hamparan laut biru dan teduhnya hijau pepohonan tersaji tanpa henti sepanjang perjalanan. Lagi-lagi kami berkata dalam hati: “Gak nyesel gue ke sini.”

Sesampainya di Pelabuhan Bangsal, kami tanpa berlama-lama lagi langsung menaiki perahu yang ditunjuk oleh supir angkot kami tadi. Jangan mengharapkan bahwa ini kapal cepat mewah ya. Kapal yang kami naiki adalah kapal cepat harian, yang juga biasa mengangkut hasil sayur-mayur dan buah-buahan, dan hanya bertutup terpal tipis. Tetapi justru di situ seninya perjalanan ini.

Cuaca cerah membuat perjalanan laut kali ini sangat menyenangkan, sehingga 45 menit yang kami lalui di laut tidak terasa, dan taaarrraaaaa… papan bertuliskan “Selamat Datang di Gili Trawangan”, sudah terpampang di depan mata. Tanpa basa-basi saya dan Nadia langsung mencari hotel yang sudah kami pesan dari Jakarta. Kami menginap 2 malam di Gili T Hotel di mana kami harus membayar sekitar Rp.400.000 per malamnya. Kebetulan letak hotel tidak jauh dari dermaga, dan masih di daerah yang ramai.

Selamat Datang di Gili Trawangan

Selamat Datang di Gili Trawangan

How can you resist this beauty?

How can you resist this beauty?

I Love The Blue of Indonesia

I Love The Blue of Indonesia

Check in, memasukkan semua tas, langsung setelah itu kami keluar kamar dan berkeliling di sekitar hotel.

Gili Trawangan memang surganya untuk night life. Café, bar yang menyajikan minuman baik yang beralkohol maupun yang non-alkohol dengan harga yang jauh lebih murah jika dibandingkan di Jakarta,  dapat ditemui berjejer di sepanjang jalan. Lengkap dengan live music yang akan terus berdentum hingga hampir pagi menjelang. Restoran baik yang jadi satu dengan hotel, ataupun yang tidak, rata-rata menyajikan seafood sebagai menu utamanya. Harga makanan di restoran-restoran ini tentunya lebih mahal jika dibandingkan dengan harga makanan yang dijual di gerobak-gerobak kaki lima yang berjualan di satu area seperti lapangan kecil yang letaknya dekat dermaga. Namun harus sedikit lebih berhati-hati untuk memilih makanan di tempat ini, terutama untuk seafood, yang harus dipastikan kesegerannya terlebih dahulu.

The Night Life We Had...

The Night Life We Had…

Pedagang Kaki Lima yang Menyajikan Makanan Di Gili Trawangan

Pedagang Kaki Lima yang Menyajikan Makanan Di Gili Trawangan

Aktivitas di Gili Trawangan pastinya akan lebih banyak seputar kegiatan di laut, seperti snorkeling, diving, atau bisa juga hanya melihat-melihat underwater dengan menggunakan kapal yang ada kacanya di dasar perahu. Alat snorkeling dan diving lengkap bisa disewa di sana. Untuk paket snorkeling sudah termasuk alat, perahu dan tur island hopping dikenakan biaya sebesar Rp.100.000.

Hari ke-2 kami di sana, tentunya kami habiskan menikmati surga berupa hamparan air laut dan berenang-berenang, snorkeling di sana. Kami snorkeling di daerah Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno, yang membawa kami sempat melihat penyu berenang ke sana kemari di sekitar kami. Tenang saja, tidak perlu takut kelaparan, karena juru mudi kapal akan membawa semua peserta tur untuk menikmati makan siang di salah satu pulau yang didatangi.

Snorkeling Time

Snorkeling Time

Semua kegiatan snorkeling akan berakhir sekitar pukul 15.00, dan tentunya hari itu masih sangat panjang. Sepanjang hingga subuh menjelang, dan kalian masih bisa mendengar dentuman musik reggae dan house music dari café yang berlomba-lomba menarik perhatian pengunjung.

Selain aktivitas yang berkaitan dengan wisata air, kalian juga bisa berkeliling pulau dengan menggunakan sepeda. Sepeda disewakan sekitar Rp.40.000 untuk satu hari. Harga tersebut, kami dapatkan dengan usaha menawar, dan harga turis lokal. Pulau bisa dikelilingi dengan sepeda dengan jangka waktu 2 jam. Jangan lupa menggunakan tabir surya, karena matahari yang menyinari Lombok layaknya ada 10 buah.

Mari Bersepeda

Sayangnya kami harus meninggalkan Gili Trawangan untuk kembali ke Senggigi dan bermalam di sana, untuk mempermudah kami untuk ke bandara esok hari. Sedikit terkejut, karena tiket menyeberang dari Gili Trawangan kembali ke Pelabuhan Bangsal hanya Rp.7.000. Perjalanan yang sedikit seru, karena sepanjang jalan kami menyeberang, ditemani oleh hujan deras yang tidak ada hentinya, yang membuat pakaian kami pun basah.

Sesampainya di Pelabuhan Bangsal, kami menyewa mobil yang akan mengantar kami ke hotel di daerah Senggigi. Kami dikenakan biaya Rp.70.000 per orang, dan satu mobil hanya ada 4 orang termasuk kami. Malam harinya kami makan di Warung Menega, yang menyajikan makanan hasil laut, yang bisa dicapai dengan menggunakan taksi.

Makanan di Warung Menega

Makanan di Warung Menega

Sebelum ke bandara esok harinya, kami menyempatkan diri ke Art Market di Senggigi, untuk membeli buah tangan untuk teman dan keluarga di Jakarta. Sayangnya kios-kios di Art Market ini sudah banyak yang kosong, dan seperti biasa, harganya relatif mahal.

Manado, Bunaken, Tanah Leluhur…

April 1st, 2013

Manado…

Tanah leluhur yang selalu ingin saya datangi. Dan keberuntungan memang sedang berjodoh dengan saya. Sekitar bulan September 2003 *Jangan protes, memang ini cerita liburan jaman baheula, saya saat saya masih bekerja sebagai sekretaris, saya diminta untuk memesan tiket Jakarta – Manado untuk dua orang kolega saya yang akan perjalanan dinas ke sana. Pertama-tama yang saya tanyakan adalah ketersediaan tiket dan tentunya harganya. Terdengar di seberang telepon suara petugas ticketing menyebutkan angka Rp.1.200.000, yang disusul dengan sambutan kaget dari saya…

“Ha? Itu harga satu kali jalan khan, Mbak?”

“Ngga Mbak, itu harga PP.”

“Whaaaatt?? Saya book pake nama saya juga, Mbak.”

Dengan harga hanya Rp.1.200.000 untuk pulang pergi, menurut saya harga itu sangat murah, *Jika dibandingkan dengan Rp.4.000.000an untuk harga tiket normal, dan dengan maskapai nasional terbesar saat itu, tanpa berpikir panjang, saya langsung memesan juga untuk saya. Lagipula jatah cuti saya saat itu masih cukup banyak.

Tibalah tanggal yang ditentukan, Kamis, 18 September 2003 saya terbang ke Manado, menyusul kedua kolega saya yang sudah pergi terlebih dahulu ke sana. Terburu-buru saya ke bandara, karena sangat disesalkan taksi yang saya pesan, tidak kunjung tiba, dan saat itu jam dinding sudah menunjukkan angka pukul 11.30 siang, di mana penerbangan saya saat itu sekitar pukul 14.00.  Saya pun tanpa berpikir panjang, mengangat tas dan berjalan ke depan kompleks untuk mencegat taksi di pinggir jalan.

Beruntunglah saya bisa tiba di bandara sekitar pukul 13.00, dan antara merasa beruntung dan jengkel ketika saya melihat di papan pengumuman keberangkatan pesawat, bahwa penerbangan saya ditunda sekitar 2 jam, yang selanjutnya saya ketahui bahwa keterlambatan karena masalah cuaca

Memakan waktu sekitar 3 jam penerbangan Jakarta – Manado. Sesampainya di Manado, saya langsung dijemput oleh teman-teman saya yang sudah di sana.

Perjalanan kali ini cukup hemat, karena saya bisa menebeng di kamar hotel kolega saya yang sedang melakukan perjalanan dinas. Mereka bekerja saat siang, dan sore baru bisa bersenang-senang, tetapi saya bisa bersenang-senang sendiri dari pagi dan bersenang-senang dengan mereka saat malam hari.

Dari bandara saya langsung dibawa untuk menikmati makan malam di pinggir laut. Sayang sekali saya lupa nama restoran tersebut, tapi satu yang saya ingat persis adalah, restoran tersebut menyajikan masakan Kepiting Kenari yang sangat enak. Dan menurut salah satu teman yang asli orang Manado, dan tinggal di Manado sejak kecil, yang menemani makan malam saat itu, masakan Kepiting Kenari memang masakan khas Manado. Dan menurut saya, masakan Kepiting Kenari ini makanan khas Manado yang wajib diicipi saat bertandang ke kota ini. Setelah selesai menikmati makan malam kami kembali ke hotel dan menutup hari dengan istirahat.

Esok harinya saat kedua teman sedang bekerja di kantor cabang, saya yang saat itu sedang menikmati cuti, sempat diajak ke daerah Tomohon. Daerah pegunungan yang sangat sejuk. Di Tomohon saya hanya diajak menikmati makanan non-halal, dari binatang kulitnya berwarna merah muda, dan rasanya memang enak. Sebenarnya saya juga diajak untuk melihat pasar hewan yang sangat terkenal di sana. Tetapi saya tidak mendatangi tempat itu, karena pasar itu adalah pasar hewan yang untuk dikonsumsi, yang sepertinya tidak akan menarik untuk saya kunjungi.

Sabtu, di mana bukan lagi hari kerja. Dan kedua teman saya ini sudah tidak ada lagi tugas kantor yang perlu dikerjakan. Dan kami mereka memang sengaja memperpanjang masa tinggal di Manado, untuk dapat menikmati Bunaken. Pagi-pagi kami sudah dijemput di hotel oleh teman kami. Dari sana, kami mampir ke restoran yang jual kepiting kenari kemarin untuk memesan masakan tersebut sebagai oleh-oleh dibawa pulang ke Jakarta. Beres urusan kepiting, kami juga mampir ke toko oleh-oleh untuk memesan Klapertaart, kue kelapa khas Manado yang rasanya juga sangat enak. Kue ini juga kami pesan untuk dibawa ke Jakarta esok harinya.

Setelah urusan pesan-memesan oleh-oleh yang akan dibawa ke Jakarta sudah selesai, kami langsung mengarah ke pelabuhan untuk menyeberang ke Bunaken. Kapal yang membawa kami menyeberang, bukan kapal besar, hanya kapal yang biasa dipakai untuk penyeberangan hasil bumi, tapi sudah speed boat.

Perjalanan Manado – Bunaken memakan waktu 30 – 40 menit. Perjalanan yang sangat menyenangkan, di mana sepanjang mata memandang, hanyalah hamparan laut biru, gugusan pulau dah pegunungan di sebelah kiri dan kanan kapal. Tanpa terasa, menit-menit yang kami jalani tersebut sudah membawa kami ke pemandangan hamparan pasir putih, berkilau, dan halus terasa saat kaki kami berpijak di atasnya…

“Surganya tempat ini,” gumam saya dalam hati.

 

Beautiful Bunaken

Beautiful Bunaken

Here We Arreeee...

Here We Arreeee…

Di sana kami hanya sebentar saja, untuk menyewa peralatan snorkeling, dan secepat kilat perahu yang tadi kami tumpangi, kembali membawa kami ke tengah lautan biru gelap, beratapkan langit biru muda tanpa awan, yang keberadaan mereka di sana hanya dibatasi horizon tipis.

Saya saat itu belum bisa berenang sama sekali. Urung sekali saya untuk menceburkan diri ke laut yang dasarnya tak sangat dalam walaupun dari atas perahu cantiknya rangkaian karang sudah terlihat, karena jernihnya air tanpa polusi.

Namun, beruntunglah saat itu saya ditemani oleh dua orang spesial yang akhirnya membuat saya mampu memberanikan diri keluar dari perahu dan mengapung dengan girangnya di air laut. Awalnya sulit membayangkan harus bernapas dengan mulut, bak ikan, namun saat saya sudah di sana, semua keraguan dan kepanikan saya sirna seketika, mungkin luruh dengan air laut.

Nyemplung yuukk..

Nyemplung yuukk..

Indahnya alam bawah laut Bunaken tidak diragukan lagi, walaupun menurut orang setempat, apa yang saya lihat sudah tidak secantik dulu. Banyak sekali karang yang rusak, karena ulah tangan manusia. Namun keberuntungan masih ada sebagian di pihak saya, saat saya snorkeling di sana, saya bisa melihat ikan Napoleon yang sangat besar, yang menurut orang asli sana, ikan tersebut tidak selalu ada, dan hanya orang-orang beruntung yang bisa melihat ikan tersebut. Sayangnya, saat saya pergi ke sana, underwater camera belum menjamur di Indonesia.

Tengah hari, dan terik matahari yang sudah pasti akan membakar kulit kami tidak kami hiraukan; tetap membuat kami sibuk menikmati apa yang kami lihat di bawah air. Namun waktu tak terasa, dan sore pun menjelang.

Mendangakkan kepala, kami dapati langit sudah tidak cerah, bisa dikatakan cenderung mendung. Tadinya kami tidak ada rencana untuk bermalam di Bunaken, tapi saat teman kami yang menjadi guide kami bertanya apakah kami akan kembali ke Manado dan menginap di sana, atau bermalam di Bunaken dan besok akan dijemput pagi hari sebelum sore harinya kami bertolak ke Jakarta. Dan karena saya paling muda di rombongan, kedua teman saya meminta saya yang memutuskan…

“Stay di sini,” itu jawaban saya, dan saya yakin itu pun yang menjadi harapan kedua teman saya.

Di Bunaken, kami menginap di Bastianos, yang sekarang kalau saya lihat di situs, sudah berganti nama menjadi Bastianos Dive Resort. Sistem pembayaran yang diberlakukan saat itu, sedikit berbeda dengan tarif penginapan pada umumnya. Mereka mematok harga dengan ukuran berapa orang, bukan berapa kamar dan berapa malam. Kami saat itu dikenai harga Rp.125.000 per orang, dan baru saya ketahui bahwa harga ini adalah biaya untuk mengganti biaya makan untuk 3 x sehari. Dan karena kami hanya bertiga, maka kami bisa tidur dalam satu kamar, tanpa kamar mandi dalam, namun letak kamar mandinya ada di luar persis di samping kamar.

Listrik di pulau ini pun juga baru dinyalakan setelah pukul 18.00 WITA. Dan jika mandi di bawah pukul tersebut, kami diminta untuk berhemat air, namun jika mandi di atas pukul 18.00, kami diminta untuk tidak lupa menyalakan keran air selama mandi, untuk mengisi bak mandi, dan menutupnya kembali saat meninggalkan kamar mandi. Hampir sama dengan aturan di kos-kosan ya? Tapi jangan takut hotel ini sangat bersih, dan dari balkon kamar dan juga restorannya kalian bisa melihat laut. Makanan yang disediakan di restoran juga sangat enak, yang mayoritas makanannya makanan hasil laut. Tidak rugi sama sekali saya memutuskan untuk bermalam di Bunaken.

Bastianos Cottages

Bastianos Cottages

Esok harinya, hari terakhir kami di Sulawesi Utara, kami dijemput oleh teman kami yang menyeberang dari Manado, dengan kapal yang sedikit lebih besar dan saya bisa duduk di ujung depan kapal, sambil menikmati pemandangan yang rasanya sulit untuk ditinggalkan.

Sesampainya di Manado, kami mengambil semua pesanan oleh-oleh yang akan kami bawa pulang ke Jakarta di tempatnya masing-masing, lalu kami makan siang, dan langsung menuju Bandar Udara Internasional Sam Ratulangi. Dan lagi-lagi penerbangan kami tertunda 4 jam, karena factor cuaca, padahal penerbangan pulang kali ini, masih harus transit di Makassar. Huuuuhhhh…

Tetapi saya puas perjalanan kali ini. Saya yang tidak bisa berenang, tetapi mampu memberanikan diri untuk menceburkan diri ke laut.

Dan perjalanan inilah yang membuat saya jatuh cinta dengan alam Indonesia, dan awal dari jelajah saya ke bagian lain dari cantiknya Ibu Pertiwi.

—-

Eeeeehhh taaappiii…semua informasi di sini, saya dapatkan dari perjalan saya 11 tahun lalu ya, jangan terlalu dijadikan referensi. Coba tanyakeun dengan Mbak Google terlebih dahulu.

15 Tahun yang Menyenangkan

March 30th, 2013

Kino…

Nama itu diberikan oleh Mama untuk anak yang satu itu, dari hari pertama dia datang setelah Papa memutuskan untuk membawanya ke rumah dan kami adopsi. Hari itu adalah satu hari di bulan Oktober 1998. Dachshund, hitam dan bercampur putih pada beberapa bagian tubuhnya, bermata besar, kaki-kaki pendeknya diselimuti bulu berwarna cokelat, kontras dengan bulu badannya, sehingga dia tampak seperti menggunakan kaos kaki atau sepatu warna cokelat. Yet to mention this around 2-years-old-aged kid was very playful and friendly boy.

Ruang tengah kami selalu diramaikan dengan tingkah lucunya. Setelah satu tahun lebih Kino jadi penguasa tunggal ruang tengah, ia kami berikan satu teman lagi; another Dachshund; O’Neil. Dan jadilah mereka berdua bagai anak kembar, yang kemana pun mereka pergi, apapun yang mereka lakukan selalu berdua, kecuali saat salah satu dari mereka harus di rawat di klinik hewan.

Kino sempat beberapa kali dirawat di klinik hewan. Salah satu kelemahan Kino dari dulu adalah pernapasannya. Ia pernah saya titipkan di klinik untuk dirawat supaya dia bisa dinebulasi atau diuapi, kalau tidak salah 3 hari berturut-turut. Belum lagi tahun 2007, waktu saya menemukan adanya benjolan di perut bawahnya, dan setelah saya konsultasikan ke dokter hewan yang biasa menanganinya, dokter menganjurkan agar Kino dioperasi. Berat rasanya saya merelakannya untuk dibius dan menjalani operasi, mengingat umurnya yang sudah tidak muda lagi dan segala kemungkinan terburuk bisa saja terjadi, walau dari hasil pemeriksaan darah sebelum dia menjalani operasi, telah menunjukkan kondisi fisiknya yang memungkinkan untuk menjalaninya. Saya membawanya sambil saya ajak bicara bahwa Kino harus bantu dokternya dengan kondisi yang tenang supaya operasi dapat berjalan lancar dan Kino bisa siuman dan pulih. Dua jam menunggu di ruang tunggu bagai 2 hari lamanya, sampai akhirnya saya dipanggil dokter yang mengatakan operasi sudah selesai , dan saya tinggal menunggu Kino siuman. I made sure when he woke up, the first person he saw was me. And indeed, my brave boy was awake, walau masih sempoyongan.

Usia Kino semakin tua. Semakin banyak kejanggalan-kejanggalan fisik yang tidak dia keluhkan. Meskipun dia periang sekali dan bukan tipe anjing pengeluh, saya bisa menemukan kejanggalan-kejanggalan tersebut di badannya. Termasuk kembali saya menemukan benjolan lainnya di bagian tubuh yang berbeda. Kali ini di pantat kanannya. Kembali saya bawa Kino ke klinik hewan langganan. Dan dokter kembali menganjurkan untuk mengoperasi Kino. Pemeriksaan darah sudah dilakukan dan dokter mengatakan bahwa dari hasil pemeriksaan tersebut, Kino mampu menjalani operasi. Operasi sudah dijadwalkan minggu depannya. Dalam waktu seminggu tersebut, saya masih berkonsultasi dengan beberapa dokter hewan lainnya. Setelah konsultasi, saya mendapatkan kesimpulan bahwa operasi yang kali ini akan dilakukan merupakan operasi yang terbilang sulit. Bahkan ada satu dokter yang mengatakan bahwa ia tidak berani melakukan itu. Dan dokter lainnya mengatakan “Sebagus-bagusnya dan sesenior-senior dokternya, tetap yang menentukan hidup mati makhluk hidup adalah Tuhan.” Frankly speaking I agreed with that vet. Saya pun memutuskan untuk membatalkan rencana operasi untuk anak gendut yang satu itu…”Baru juga setahun lalu kamu operasi ya, Nak, masakh taun ini kamu operasi lagi. Kamu bisa kuat khan tanpa operasi?”

Empat tahun berlalu dari rencana operasi yang kemudian saya batalkan tersebut, Kino yang sudah sangat tua, dan kondisi kedua matanya sudah tidak berfungsi, tiba-tiba kehilangan keseimbangan, tidak bisa berdiri, berkali-kali terjatuh dan mengeluarkan liur berlebih, posisi kepala cenderung miring ke kanan. Hari itu Sabtu, 22 Desember 2012 malam hari. Sontak saya tidak bisa tidur di kamar dan hanya menemaninya di ruang tengah. Esok harinya saya periksakan Kino ke klinik hewan langganan. Dokter dan saya memutuskan agar Kino dirawat. Apapun kemungkinan terburuk yang akan dihadapi anak saya yang satu itu, sudah menghantui saya. Tapi entah mengapa, saya masih yakin, bahwa Kino saat itu masih bisa bertahan dan berhasil melawan penyakitnya.

Tiap hari saya sempatkan untuk menengoknya ke klinik untuk melihat perkembangan dan memberinya semangat hidup, walau kadang saya selipkan kata-kata untuk dia memilih masih ingin tinggal bersama kami sekeluarga atau pulang ke yang memiliki hidup. Kondisinya naik dan turun, kadang membaik, kadang kembali turun. Sampai kira-kira hari ke 4 dia di rawat, Kino sudah mau makan, walau harus disuapi dan BAB nya sudah baik. Hari ke 6 Kino dirawat, dia sudah bisa tegak berdiri dan sudah tidak terlalu sempoyongan berjalan. Dokter mengatakan kalau sudah bisa makan sendiri tanpa disuapi, Kino besok boleh pulang.  Itu pun yang saya katakan pada Kino, “Tuh Nak, kalo besok Kino dah bisa makan sendiri ga disuapin, besok kita pulang ya Nak.”

Keesokan harinya, saya dan mama, datang ke klinik, yang memang rencananya akan menjemput Kino. Seketika saya dan mama sampai klinik dan membuka pintu klinik, saya langsung berkata dalam hati, “Ya ammmppuuunn kamu kayak ga sakit deh, Nak. Brisik kung-kung-kung terus. Baru sadar kalo ditarokh di kamar terus ya dah seminggu,” langsung saya sedikit berlari ke arah kamarnya yang kebetulan memang ada di bawah. Dan begitu dia melihat saya, “Dah ga sabar pulang ya, Nak? Hebat kamu bisa sehat! Mami ngobrol sama dokternya dulu ya.” Begitu saya bertemu dengan dokternya, saya langsung mendapat laporan “Kino dah pinter tuh, mau makan sendiri, ga perlu disuapin lagi.” Saya bereskan urusan administrasi dan obat yang masih harus diteruskan di rumah, lalu saya gendong Kino ke mobil dan  pulang ke rumah.

Nyaris saya kehilangan Kino. Beruntung Kino masih mau berusaha untuk  survived. Walaupun karena stroke yang dideritanya, posisi kepalanya masih cenderung miring, dan Kino tidak bisa jalan lurus melainkan berjalan ke satu arah dengan membentuk lingkaran.

Membawa Kino ke rumah, berarti kembali kami yang mengurusnya secara total. Mengurus dengan kekhawatiran, “senam jantung” dan penuh cinta buat Kino. Hari pertama dia pulang, Kino masih mau makan tanpa disuapi, begitu pun keesokkan harinya. Tapi dua hari setelahnya, Kino membungkam mulutnya dan tidak mau makan dan minum sama sekali. Termasuk makanan kesukaannya yaitu daging ayam. Mendapati hal itu saya langsung menelepon klinik walaupun saya tahu bahwa poliklinik mereka akan tutup dan hanya melayani rawat inap. Saya menelepon dokter yang merawat Kino dan saya langsung membawa Kino kembali ke Klinik. Di klinik, Kino diberi obat pencahar, karena memang beberapa hari Kino belum BAB, mungkin karena kondisi kaki belakang yang belum kuat betul menahan tubuhnya yang harus jongkok dan mengejan saat BAB.

Hari itu adalah malam pergantian tahun ke tahun 2013. Saya sengaja tidak tidur di kamar, melainkan memilih untuk menggelar kasur lipat di ruang tengah di depan televisi untuk tidur sambil mengawasi  Kino, yang hingga pulang dari dokter belum juga mau makan. Namun keesokkan harinya, tepat di hari pertama di tahun 2013, Kino sudah kembali mau makan.

Kondisi seperti itu terus berulang, kadang Kino mau makan, kadang tidak, kadang perlu disuapi, kadang bisa makan sendiri, walaupun tiap pagi kalau Kino sudah bangun, pasti saya akan usahakan memasakkan makanan kesukaannya dan menyuapinya terlebih dahulu baru berangkat ke kantor. Di tengah sibuknya kerjaan kantor pun, saya sering bertelepon dengan mama untuk mengecek keadaan Kino. Sering anak itu terlewat manja, hanya mau makan dan disuapi oleh saya. Dia rela hanya makan saat pagi hari sebelum saya berangkat kantor dan menunggu saat saya sudah sampai di rumah, sepulang bekerja. ”Anakmu tuh ga mau makan sama aku. Udah aku suapi pake daging ayamnya aja juga masih ga mau,” kata-kata seperti itu yang sering saya dengar saat bertelepon dengan mama.

Saya tahu bahwa tubuh Kino tak selamanya kuat bertahan melawan sakitnya. Beberapa kali saya terdiam memandangi Kino yang sedang tidur enak krungkelan dengan adeknya, O’Neil sembari berpikir “Sampai kapan pemandangan indah seperti ini bisa gue liat. Ahh.. gonna miss these kind of things.”

Berjalannya waktu, sampailah di Maret 2013. Bulan di mana saya harus kembali merasakan hal yang tidak menyenangkan menjadi paw parent. Sabtu, 16 Maret 2013, Kino kembali kejang, kehilangan keseimbangan badan, disertai sesak napas, dan kehilangan napsu makan. Sebagai Ibu, saya sudah diberikan rasa bahwa saat ini adalah saat di mana saya harus mempersiapkan keadaan yang terburuk. Saya memutuskan untuk tidak merawat Kino di rumah sakit, walaupun saya tetap membawanya untuk agar Kino bisa diberikan cairan intravena. Dengan konsekuensi saya tidak bisa saat malam hari, karena saya harus terjaga sewaktu-waktu Kino membutuhkan pertolongan oksigen yang tabungnya sudah kami sediakan di rumah.

Selasa, 19 Maret adalah kondisi paling, paling, paling menyebalkan untuk saya. Oksigen sudah tidak mampu membuat Kino berhenti kejang. Liur mengalir tak henti dari bibirnya. Saya hanya bisa menenangkannya dengan menggendongnya dan meletakkan kepalanya di dekat jantung saya. Dengan disertai aliran air mata saya hanya bisa mengajak Kino mengobrol, “Kino dah ga kuat ya, Nak? Kalo Kino mau bobokh Mommy dah rela, Nak. Kino mau Mommy temenin atau mau ke dokter, Sayang? Tapi Mommy ga mau bantu Kino bobokh ya. Kita ke rumah sakit ya Nak sekarang, biar Kino dapet oksigennya.” Takjub saya dibuat oleh Kino, begitu dia mendengar kata rumah sakit, Kino berhenti kejang, dan dia bisa bernapas seperti biasa, walau saya tidak bisa menyembunyikan rasa sedih saya. Dan saya tahu persis, Kino pun merasakannya, dari detak jantung kami berdua yang saling berbicara, juga dari tetesan air mata yang membasahi wajah anakku yang sudah mendekati ajal.

Langsung saya SMS abang saya, memberitakan Kino akan saya bawa ke rumah sakit, kemungkinan kalau kejang kembali, kemungkinan saya akan meminta dokter untuk menidurkan Kino. Memenangkan logika kali ini sangat berat. Saya pun berdoa agar semesta berpihak pada kami. Kino akan pergi tanpa bantuan manusia.

Kami akhirnya memutuskan untuk membawa Kino ke rumah sakit. Abang saya pun akhirnya memutuskan izin dari kantor dan kembali ke rumah, untuk ikut mengantar Kino. Saya, Papa, Mama dan Abang saya, mengantar Kino ke rumah sakit langganan. Sepanjang jalan Kino bisa tidur tenang tanpa kejang. Mungkin dia nyaman berada di tengah keluarga yang sudah 15 tahun hidup bersama.

Sesampainya di rumah sakit, dokter yang menangani Kino berpihak pada saya, “Kita rawat aja ya. Tenang kok dia ga kejang lagi, ya Kino pinter?” Sesudah dinebulasi, dan kamar perawatan Kino disiapkan, Kino pun di rawat inap. Kali ini saya tidak membiarkan orang lain yang menggendongnya ke kamar. Saya antar Kino sampai di kamarnya. Selimut andalannya pun tak ketinggalan saya ikut sertakan.

Urusan Kino selesai hari itu. Saya pulang, mandi dan langsung menuju kantor. Setiap dua jam saya telepon dokter jaga. Dan kembali saya dibuat takjub oleh Kino. Kondisi Kino tenang, tanpa kejang sekalipun.

Malam hari sepulang kerja, saya sempatkan diri menengoknya kembali, walaupun Mama melarang karena sudah malam. Kondisi jalanan yang seperti biasa sangat macet, memaksa saya untuk menelepon rumah sakit dan memohon mereka untuk membukakan pintu  untuk saya, karena jadwal kunjungan rawat inap paling malam pukul 8.00 dan rumah sakit tutup pukul 9.00 malam.

Sesampainya saya di sana, Kino yang mendengar suara saya, langsung beranjak dari posisi tidurnya, dan menyambangi saya ke pintu kamar kecilnya. Ekornya pun tak lupa ia goyangkan, sembari menatap saya dengan mata tuanya yang sudah katarak dan sayu. Saya tahu bahwa itu mungkin ucapan selamat tinggal kepada saya.

Rabu, 20 Maret 2013, seperti biasa pagi hari saya berangkat ke kantor. Saya belum bisa mengunjungi Kino di rumah sakit, karena jadwal berkunjung dan menelepon untuk menanyakan kondisi pasien baru diperbolehkan pukul 10.00 pagi.

Rapat dengan klien hari itu menyebabkan saya terpaksa menunda untuk menelepon dokter. Seselesai rapat, yang saya ingat betul saat itu jam di tangan sudah menunjukkan pukul 11.00 siang, saya langsung mengambil telepon genggam saya, yang tadinya hendak menelepon dokternya menanyakan kondisi Kino, malahan saya mendapati pesan singkat dari dokter yang mengabari bahwa kondisi Kino menurun, kritis dan saat itu tim dokter dan paramedik sedang berusaha untuk membantu Kino dengan oksigen.

Belum sampai saya selesai mengetik balasan, dokter yang merawat Kino sudah menelepon saya, mengabarkan bahwa Kino sudah pergi, sudah tidur selamanya. Sedih? Pasti! Walaupun saya tahu persis bahwa Kino sudah bahagia, karena terbebas dari sakit.

Kami titipkan Kino di freezer di rumah sakit, sebelum kami jemput untuk kami kuburkan di rumah.

Dan hari Minggu, 24 Maret 2013, saya menjemput anak kesayangan yang gemuk, tapi kali ini sudah terbungkus rapi dengan kertas koran yang dilapisi kantong plastik, sudah beku dan kaku, “Ayo, Nak kita pulang yuk sekarang. Kino bobokh di rumah ya, sama temen-temen lain ya, Nak.”

=======

Ahhh..ternyata kamu ga mau nyusahin Mommy ya, Nak. Kamu ga mau liat Mommy sedih saat kamu pergi. Till we meet again, Kino Sayangku!

Kino, si gendut berbulu hitam, di hari-hari terakhir hidupnya pun masih tidur kruntelan dengan adek kesayangannya, O'Neil...

Aku, Kamu dan Dia…(2)

February 25th, 2013

“Dania! Dan!”

“Woooii…dah beli tiket loe, Ti?”

“Udin. Makan dulu kita?”

“Masih sempet ga yak? Ga telat nontonnya ntar?”

“Masih, kalo yang masak kagak pake lama. Gimana percintaan?”

“Yah, masih runyam seperti biasa.”

“Sama sapa loe sekarang?”

“Sama kayak elo. Sama laki orang.”

“Bwahahahaha…senasib kita.”

“Sepertinya.”

“Manah sinih liat potonya. Ketemu di mana loe?”

“Singapore. Trainer gue. Juli tahun lalu.”

“Udah ngapain aja loe sama dia?”

“Udah ke Singapore lagi gue sama dia, tengah November kemaren.”

“Berdua doank?”

“Ya iyalah masakh sama bininya. Nah elo? Sama tuh laki gimana?”

“Masih asik-asikan lah gue. Tiap pagi dia mampir ke rumah. Biasa, quickie sebelom ngantor.”

“Gila loe ya. Berani juga loe ya satu kantor begono, satu divisi pulakh.”

“Pernah gue ciuman di tangga darurat.”

“Huahahaha…serius lu?”

“Serius!”

Esti, manusia kampret yang tak tahu kenapa dari dulu selalu menghampiriku untuk urusan kuliah. Berasa jadi asisten dosen sepanjang masa untuk dirinya, bahkan sampai dia mempersiapkan tugas akhirnya. Bicara dengan sahabatku yang satu itu sering ga perlu pake otak. We can say anything. Just throw up and put everything on the table. Termasuk urusan percintaan. Yang sama-sama sedang menjadi kekasih suami orang. Apa memang yang seharusnya ga boleh itu lebih menantang? Yah…it is, setidaknya untuk aku.

Hmmmm…jadi ingat kepergianku November lalu ke Singapura dengan Mas Chandra. Ini ke tiga kalianya dia mengajakku untuk menemaninya bepergian ke luar negeri. Dua ajakan sebelumnya aku tolak, karena memang sedang tidak memungkinkan. Yahh…pekerjaannya memang sering membuatnya pergi ke luar negeri, setidaknya hingga akhir tahun lalu…

“Eh Babe…aku tengah November nanti ke Singapur.”

“Asik, aku mulai nyari tiket ya. Eh bentar…you want me to come or not?”

“Mau dong.”

“Tapi kamu bakal sibuk banget bukan selama di sana?”

“Sesinya khan cuma sampai sore, malemnya kita bisa nonton or makan malem bareng.”

Konfirmasinya membuatku akhirnya memutuskan ikut pergi dengannya. Kembali menikmati Singapura, dan kali ini hanya berdua. Akan menyenangkan sepertinya.

Tiket pesawat segera kubeli melalui on-line. Dan kali ini dia membiarkan aku untuk memesankan hotel manapun seperti yang aku mau, termasuk memberikan nomor kartu kreditnya lengkap dengan security number-nya.

“Haaah…all done…tiket and urusan hotel beres. Tinggal berangkat.”

Hari yang ditunggu-tunggu pun datang. Kami tidak satu pesawat. Tidak saat berangkat, ataupun tidak saat kembali.

Dan bahagianya tak terkira saat aku menemukannya di Changi, saat dia menjemputku…

“Hey Babe!”

“Hai, Darling. Here I am, with you.”

And we started journey of 3 days 2 nights of ours by kissing in the middle of the crowd at Changi.

___

to be continued…

This Year’s Thank You…

February 18th, 2013

Thank you for all birthday wishes…

And thank you, hey you there who make it still special for us, this year…

IMG-20130219-00432 edited

Thank you for present…

Thank you for Sushi Tei-ing in the middle of your very tight schedule…

Thank you for the card…and those words!!!