Aku, Kamu dan Dia…(2)

February 25th, 2013

“Dania! Dan!”

“Woooii…dah beli tiket loe, Ti?”

“Udin. Makan dulu kita?”

“Masih sempet ga yak? Ga telat nontonnya ntar?”

“Masih, kalo yang masak kagak pake lama. Gimana percintaan?”

“Yah, masih runyam seperti biasa.”

“Sama sapa loe sekarang?”

“Sama kayak elo. Sama laki orang.”

“Bwahahahaha…senasib kita.”

“Sepertinya.”

“Manah sinih liat potonya. Ketemu di mana loe?”

“Singapore. Trainer gue. Juli tahun lalu.”

“Udah ngapain aja loe sama dia?”

“Udah ke Singapore lagi gue sama dia, tengah November kemaren.”

“Berdua doank?”

“Ya iyalah masakh sama bininya. Nah elo? Sama tuh laki gimana?”

“Masih asik-asikan lah gue. Tiap pagi dia mampir ke rumah. Biasa, quickie sebelom ngantor.”

“Gila loe ya. Berani juga loe ya satu kantor begono, satu divisi pulakh.”

“Pernah gue ciuman di tangga darurat.”

“Huahahaha…serius lu?”

“Serius!”

Esti, manusia kampret yang tak tahu kenapa dari dulu selalu menghampiriku untuk urusan kuliah. Berasa jadi asisten dosen sepanjang masa untuk dirinya, bahkan sampai dia mempersiapkan tugas akhirnya. Bicara dengan sahabatku yang satu itu sering ga perlu pake otak. We can say anything. Just throw up and put everything on the table. Termasuk urusan percintaan. Yang sama-sama sedang menjadi kekasih suami orang. Apa memang yang seharusnya ga boleh itu lebih menantang? Yah…it is, setidaknya untuk aku.

Hmmmm…jadi ingat kepergianku November lalu ke Singapura dengan Mas Chandra. Ini ke tiga kalianya dia mengajakku untuk menemaninya bepergian ke luar negeri. Dua ajakan sebelumnya aku tolak, karena memang sedang tidak memungkinkan. Yahh…pekerjaannya memang sering membuatnya pergi ke luar negeri, setidaknya hingga akhir tahun lalu…

“Eh Babe…aku tengah November nanti ke Singapur.”

“Asik, aku mulai nyari tiket ya. Eh bentar…you want me to come or not?”

“Mau dong.”

“Tapi kamu bakal sibuk banget bukan selama di sana?”

“Sesinya khan cuma sampai sore, malemnya kita bisa nonton or makan malem bareng.”

Konfirmasinya membuatku akhirnya memutuskan ikut pergi dengannya. Kembali menikmati Singapura, dan kali ini hanya berdua. Akan menyenangkan sepertinya.

Tiket pesawat segera kubeli melalui on-line. Dan kali ini dia membiarkan aku untuk memesankan hotel manapun seperti yang aku mau, termasuk memberikan nomor kartu kreditnya lengkap dengan security number-nya.

“Haaah…all done…tiket and urusan hotel beres. Tinggal berangkat.”

Hari yang ditunggu-tunggu pun datang. Kami tidak satu pesawat. Tidak saat berangkat, ataupun tidak saat kembali.

Dan bahagianya tak terkira saat aku menemukannya di Changi, saat dia menjemputku…

“Hey Babe!”

“Hai, Darling. Here I am, with you.”

And we started journey of 3 days 2 nights of ours by kissing in the middle of the crowd at Changi.

___

to be continued…

This Year’s Thank You…

February 18th, 2013

Thank you for all birthday wishes…

And thank you, hey you there who make it still special for us, this year…

IMG-20130219-00432 edited

Thank you for present…

Thank you for Sushi Tei-ing in the middle of your very tight schedule…

Thank you for the card…and those words!!!

Sementara…

December 4th, 2012

Aku hanya bisa merunduk pada rasa…
Turuti maunya…
Walau berulangkali seribu tanya ‘haruskah’ ku lontarkan pada semesta…

Sejuta bantah yang kucoba rangkai, kembali terserak…
Membuatku terbungkam lagi dan lagi…
Sadarkanku bahwa rasa itu tak juga pergi…

Jangan pernah mintaku untuk berhenti mencintamu…
Karena aku tak tahu bagaimana lagi harus membencimu…
Walau t’lah kucoba…

Dan semesta pun mengangguk…
Buat hatiku mengarah padamu…
Mintaku hentikan tanya…
Mintaku nikmati semua…
Mintaku menggenggam rasa itu…
Tuk dampingi hari-harimu…

Walau hanya dari jauh…

Sementara…

Aku, Kamu dan Dia…(1)

August 21st, 2012

“Ooohh, Sweetheart…you’re a good kisser.”

“I know, just enjoy it, Babe. Coz I’m gonna kiss every inch of your face now. ”

“Your kiss is so licentious. Oh gooosshh you arouse me. Baby, I know that you are good on bed since the first time I saw you.”

“Look who’s talking!”

“Oooohh…you’re so good. Feel it, Babe!! Feel the sway. Ooooohh mmyyy…can I do this inside? Touch mine, Dan. Help me. My stomach is getting tense.”

“Where have you been, Mas?”

“You’re too late.”

“Actually we’re too late.”

Aaaaannnndddd shit…this caffeine shot makes me realize kalau aku kembali terperangkap di percintaan seperti ini lagi dan lagi dan lagi. Entah sudah berapa hari aku di sini, duduk, menenggak kopi, dan selalu tersadar akan cerita kehidupan absurd yang sedang aku jalani, tapi tetap tidak mengubah statusku sekarang. Status yang sudah beberapa bulan ini aku sandang. Statusku sebagai wanita lain. Aku, Dania, si masokis sejati.

Haaiisshh…untungnya kemarin masih disadarkan dengan bunyi telepon dari istrinya yang membuat aku dan Mas Chandra beranjak dari sofa, tempat kita kedubragan penuh napsu, kalau saja tidak, ga kebayang apa yang terjadi selanjutnya.

Yaahh…kisahku dengan Mas Chandra berawal di akhir Juli lalu. Di ruangan sebuah hotel. Di kelas pelatihan. Saat kantor mengirimku pergi ke Singapura untuk mengikuti training. He was my trainer saat itu.

Dari pertama kali aku melihatnya, aku tahu bahwa dia adalah titik lemahku. Smart-good looking guy, dan membuat aku penasaran.

Dan ternyata bukan cuma aku yang merasakan hal yang sama. He felt it, and I just knew it. Terlihat dari pandangan matanya yang ga pernah bisa pergi lama-lama dari aku, saat ia memimpin sesi.

Masih jelas bayangan saat ia melangkah menuju ke arahku, duduk di sebelahku dan memulai perbincangan, yang dimulai dari basa-basi layaknya orang pertama kali bertemu, sampai akhirnya…

“Hmmm…I need your PIN BB.”

“Boleh, but I don’t give my PIN BB ke sembarang orang. So please, jangan kasih ke orang lain without my permission.”

“Likewise ya.”

Gooossshh…gimana aku bisa nolak dia, he’s damn smart and handsome guy. I fell in love with him, since the first time I saw him. Tambah pulakh sekarang I know that he’s a very good kisser, I can’t say no to him, to his lips.

“Danniaaa! Bengong aja luuu. Tuh gelas kopi dah abis masih aja di pegangin.”

“Ehhh…dentist bocor…ngapain lu disini?”

“Mau ngopi lah.”

“Gimana urusan hati? Beres?”

“Gue ngikutin elo lah, Dan. Kalo elo sembuh, gue ikutan sembuh.”

“Masih lamaaaa deh, Ran.”

“Masih lu deket ama Chandra?”

“Masih. And just realized gue ga bisa jadi pechun sejati, Ran. Berkali-kali gue bilang ke gue sendiri ga boleh ada hati, tapi akhirnya memang gue sayang ama dia. Gak bisa tuh gue ciuman ama orang tanpa main perasaan.”

“Yaaakkkeeeennn cuma ciuman?”

“Prrrrreeettt! Siaaall lu aaahhh. Eh dah jam berapa ini, gue mesti ngantor.”

“Halah kantor tinggal jingkring aja lu dari sini.”

“Praktik jam berapa lu?”

“Jam 8 sih, tapi pasiennya baru 2 yang dateng, biar dulu mereka nunggu.”

“See you when I see you ya.”

“Bye, Dan.”

That was Rani, my high school mate. Perempuan yang sempat aku sebal, karena mantan pacarku jaman dulu, pernah aku pergoki sedang berduaan dengan dirinya. Tapi rasa kesal itu sudah beralih dengan adanya cerita-cerita seru nan tolol yang kami jalani. Sama-sama menjadi orang ke tiga. Sama-sama menjalani tangis bombay, tapi sama-sama tidak mau menyudahi. Sama-sama sedang mabuk kepayang dengan cinta yang sampai saat ini kami berdua belum tahu apakah cinta palsu atau cinta sesungguhnya. Atau malah mungkin hanya sebuah pelarian? Hmmm…interesting. We will find it out my dear friend. We will.

———-

Sampai juga aku di kantor yang sudah mulai menyebalkan ini. Hmmm…anyway, kalo ga gara-gara nih kantor plus bossku yang lagi super kecentilan, ngedeketin aku, trus ngirim aku training ke Singapura, ga mungkin aku ketemu Si Ganteng nan pinter itu.

Trrriinnggg…

Eh…ada BBM masuk…hihihi…pasti si ganteng…

“Hi, Cantik.”

“Hi, Ganteng.”

“Dah sampai kantor? Huuhh…masih kebayang kamu tadi malam. Sexy banget…duduk di meja dengan rok terusan kamu yang atasnya sudah setengah melorot. Kamu cantik banget, Sayang.”

“Ya, ampun sayang, ngobrol ama kamu kayak gini di BBM aja, udah aroused me. You were so damn good. What are you made of?”

“Mass, liquid and air.”

“Yeah rite. What did you do to me?”

“I didn’t do anything.”

“Don’t believe you. Hehehehe. I miss those cute eyes.”

“I miss your sparkling eyes.”

“Kalo aku inget-inget ya, bisa-bisa loo aku ketawa.”

“Kenapa ketawa?”

“Ya iya lah aku ketawa. Kita udah ketahap kayak gini khan dulu kurang dari tiga bulan.”

“Maassssaaakkhh?”

“Hmmm…bukan 3 bulan malah, less than 2 months.”

“Iya ya? Gilakh!

“From training in the room, up to kissing in the room also. Hahahahaha.”

“Hahahahahaha..from back to front. From Miss Dania to miss you much.”

“From Sir to Mas.”

“Hahahahahahahahahaha. Btw, aku seneng banget loo, waktu kamu meluk aku sambil narokh kepala kamu di pundakku, and call me with Mas.”

“Kenapa? Berasa manja and mesra ya? Padahal aku bukan orang yang romantis lo.”

“Ragu aku, kalo kamu bukan orang romantis.”

“Hehehehe…masakh? Miss you so much, Handsome.”

“Samaaa…”

Gimana coba aku bisa ngelepasin Mas Chandra? He changes my life a lot. Apalagi bayangan apa yang kami lakukan tadi malam, di atas meja kerja di ruang kerjanya, masih terus menari-nari di kepalaku. Telaaat…telllaaatt…kemana aja gue…kemana aja si loh, Mas? Ah…ya sudah lah…waktunya fokus kerja.

—-

to be continued…

In 1…2…3…

April 10th, 2012

“Kalo aku bilang sesuatu sama kamu, kira-kira kamu marah ga ya?”

“Apa tu?”

:mrgreen:

“Boarding. Tadi apa yang mau diomongin?”

“Ntar begitu landing langsung nyalain hp ya.”

“Lhaaa…sekarang ajaaa.”

“Ok. Aku nunggu kamu di airport ya…dah sampai.”

“He? Lho? Haha. Ga marah lah Babe. Tapi cape kamu khan.”

—-

“Landed”

“I know.”

:mrgreen:

She was sitting there, on that chair in that restaurant, busy with her smartphone, waiting her love one who just landed. And not too long until she felt there was someone starring not far from her. In a second her head was up and her eyes found those cute ones. Their lips smiled each other, and in one…two…three second, they met in one kiss on each other.

“Cape? Kamu pilek?”

“Ga. Hanya perubahan dari panas, AC, ke panas lagi.”

“Yuk.”

“Where did you park the car?”

“In the parking lot.”

“I know, but where?”

“Little bit far from here. You want to wait here and I get the car, or?”

“No, no problem, let’s walk together. But wait, I take off this jacket first. You’re so nice.”

“Nice in terms of what? Surprisingly picking you up, or?”

“With new hair cut, and your style like that. That knee-length dress with blazer, winter stocking and that ankle boots.  Gorgeous.”

“Thank you.”

—-

“Nanti kamu aku anterin sampe depan rumah sakit di kompleks itu ya. Biar aku ga terlalu malem.”

“Sampe rumah aja.”

“Ga papa juga sih. Serius?”

“Eh ga usah deh, dah malem.”

And someone’s hand grabbed hers, stopped her to change the gear. Stop her to make that car moving. She looked at that hand. Then looked at someone; the owner of that hand. Then those eyes starred each other. They were getting closer, and they closed, when their mouth met. And those sweet kisses…

—-

Tonight, we are young, so let’s set the world on fire…

Thank You…

February 18th, 2012

To all of you…I just want to say…

Thank uYou make me have these wonderful years…

—-

And you also my dear!! For sure…

hpybday

…you REALLY made my days…

bdaywish

…love it…love you!!…

45 Minutes…

February 14th, 2012

Around 3.30 pm…

Tim baru pada bermunculan | Yah..ga bisa pulang jam 5an dounks? | Paling jam 6an lah dari sini | Abis itu ada acara? | Ngga

4.30 pm…

Still at PS? | Masih di PS…

5.19 pm…

Aku ke sana. Give me only 10 minutes, kalo kamu bener-bener ga bisa. I just want to give you something.

6.19 pm…

Here already at PS. Lemme know when you’re done, and mau ketemu di mana.

6.20 pm…

I am free now. As usual I’m lost when you give me an option of  ”anywhere”

And a second later, these eyes found him walking in front of me…

Heeii… | Haaii… *and those kisses…hmmm… | Happy Valentine | Haallaaagghh…Kamu mau langsung pulang? | Sepertinya | Kok, kayaknya sama aja berat badanmu | Enak aja, turun 5 kilo ini | Eh iya dink, masih terlihat ga sehat | Kamu juga, mukanya kayak super capekh gitu | I am. By the way, aku cuma mau ngasi ini, bookmark | Ehh..lucunya | My friend made it | Yuk, kita ngobrol bentar | Loh, katanya mau langsung pulang, but to be honest aku haus banget sih | Ga papa lah 10 – 15 menit. Bakerz In? | Penuh | Nanini? | Bawah aja yuk | Oh ya De Luca or Monolog |

And here we are, at Monolog, for wonderful 45 minutes. Looking at your eyes, your glowing-cute-eyes when you are sharing your works, your passion and your dream…again…

45 minutes. Cinta. Aku. Kamu. Tanpa dia. Tanpa mereka. Tanpa bb. Listening to your story. Looking at your glowing-cute-eyes. Though only with a glass of Ice Lychee Tea and yogurt in our hands. Love it!

Love you…Happy Valentine’s Day…

—-

fucklentine4

7.07 am  Happy Valentine dear | Happy Valentine’s Day for you too, Mon Cher…

Rindu Kamu!!!…

February 6th, 2012

IMG-20120206-00074 2Salah ya, kalau aku mencintaimu dengan seluruhku? Salah, kalau sejak pertama aku melihatmu aku sudah jatuh cinta padamu? Walau sejuta rasa aku libas dengan rasa gengsiku yang aku lipatgandakan, agar binar mata ini tak mengatakan apapun ke kamu. Namun sepertinya, isyarat darimu terlalu kuat untuk aku abaikan. Isyarat lucu cahya matamu yang bicara padaku, kalau kamu pun ternyata menginginkanku. Dari sejak itu.

Hari demi hari perlahan aku biarkan diri ini semakin mendekat padamu.

Saat kamu jadikan aku sapaan pagimu, dan mimpi malammu. Saat kamu selipkan cerita hidupmu di hari-hari sibukmu. Saat kamu jadikan aku bagian mimpimu nanti. Saat bayangan kita, bersama, yang terpampang jelas di pandangan mata kita berdua, di sekian juta detik di kemudian hari,  yang akan menghampiri langkah hidup kita. Saat itu akan terjadi, adalah bahagiaku, bahagiamu juga. Kelak.

Ahh…jadi ingat saat kita habiskan waktu menikmati Sushi di sebuah restoran Jepang. Pertamakalinya kita makan malam bareng. Tak ada habisnya kamu ceritakan tentangmu. Dengan segala ceria yang jadikan itu adalah kamu. Atau saat sore-sore kita duduk di sofa itu, kamu cerita semua mimpimu. Bayangan bahagianya kamu, yang lagi-lagi terlihat jelas di sinar matamu yang tak pernah berhenti membuatku gemas. Dan tak ada habisnya kamu membuatku tersenyum. Sofa yang jadi saksi ketawa-ketawa ngakak dan kedubragannya kita berdua. Sore yang ga mungkin aku lupakan.

Kamu sudah buatku mampu melepas seribu topeng. Dan giliran sekarang, sejuta gengsi diri yang aku libas. Menjawab segala tanya dan ajakanmu dengan satu per satu kata ‘ya’ yang keluar dari bibir ini, pun dari tingkahku.

Kamu tau ga sih, kalo kamu sudah membawaku berada di titik di mana aku berdiri sekarang? Titik tumpah ruah segala rasa yang tak mungkin lagi terdefinisikan. Bermula ketika kamu tanyakan izinku untuk memelukku, membiarkan ungkapan cinta semakin terungkap dalam kecupan dua bibir ini yang bertemu, yang kemudian berdansa dalam hitungan sekian menit. Hati ini milikmu sudah, Sayang.

Coba inget deh, tak ada satu pun permintaanmu yang luput dari usahaku agar mereka tersuguh di depanmu. Cuma biar aku bisa terus melihat senyummu dan centilnya mata lucumu, karena kamu bahagia. Biar kamu selalu bisa rasakan bahwa aku ada untukmu. Dan biar aku bisa rasakan dekapanmu yang menghadirkan sejuta rasa bahwa ‘kamu memang nyata’. Mencintaku, seperti katamu.

Sekarang, sekian lama sudah kamu dan aku jalani ini semua. Meniti hati dan berdansa dengan tawa, tangis dan rasa sakit yang silih berganti datang dan pergi.

Aku ga perlu fisikmu ada di depanku setiap hari, Sayang. Aku hanya perlu tahu kalau hatimu ada. Untukku. Seperti janjimu. Dan bukti yang kamu hadirkan hingga saat ini. Yang masih jadikanku yang penting di hidupmu.

Tapi, saat ini…aku rindu kamu! Banget!

selama aku mencari
selama aku menanti
bayang-bayangmu dibatas senja
matahari membakar rinduku
ku melayang terbang tinggi

bersama mega-mega
menembus dinding waktu
kuterbaring dan pejamkan mata
dalam hati kupangil namamu
semoga saja kau dengar dan merasakan

getaran dihatiku
yang lama haus akan belaianmu
seperti saat dulu
saat pertama kau dekap dan kau kecup bibir ini
dan kau bisikan kata-kata ku cinta padamu

peluhku berjatuhan
menikmati sentuhan
perasaan yang teramat dalam
telah kau bawa segala yang kupunya
segala yang kupunya ouoooo

getaran dihatiku
yang lama haus akan belaianmu
seperti saat dulu
saat pertama kau dekap dan kau kecup bibir ini
dan kau bisikan kata-kata aku cinta padamu ooho kepadamu

Original But Expensive? Use Your Brain Then…

February 5th, 2012

Hmm…tulisan kali ini adalah waktunya untuk pamer hasil berburu sepatu.

Berhubung saya sudah mulai sedikit insaf untuk urusan belanja, dengan kata lain belanja kalau sudah benar-benar perlu barang tersebut, maka hasil perburuan di bawah ini adalah hasil perburuan yang saya lakukan antara April 2011 sampai dengan Januari 2012. Dan itupun, setelah tujuh pasang koleksi sepatu saya sudah waktunya dipensiunkan.

Crocs – Women’s Melbourne…

crocsTo be honest, saya tidak terlalu suka dengan model-model sepatu merek keluaran Crocs. Tetapi mengingat sepatu-sepatu merek ini cukup nyaman di kaki saya (terutama untuk jalan jauh), maka saya pun punya beberapa sepatu merek Crocs. Dan favorit saya, Crocs yang satu ini; Tipe Melbourne. Bentuknya masih cantik di kaki; nyaman pasti, tidak mudah kotor, kalaupun kotor sepertinya mudah untuk dicuci. Harganya sekitar Rp.700.000an.

m)phosis…

2mphosisFlat shoes dan sandal andalan saat saya tidak perlu memakai sepatu tinggi, adalah merek yang satu ini. Dan dua benda ini sudah menemani saya jalan-jalan ke luar negeri.

Sandal keluaran merek ini adalah langganan jadi inceran, dari zaman sandalnya masih Rp.99.000, sampai sekarang yang rata-rata sudah di atas Rp.150.000. Termasuk sandal berbahan beludru ini, yang berharga Rp.159.000 (kalau tidak salah ingat :lol: ).  Saya beli bulan Agustus 2011, setelah sandal m)phosis saya sebelumnya, yang baru saya beli di Februari 2011, direbut seekor monyet waktu saya mengunjungi Kintamani Monkey Forest bulan Mei 2011, dan monyet itu berhasil membuat saya jalan kembali ke mobil tanpa alas kaki *dilarang ketawa! *hihihi.

Sedangkan flat shoes-nya berbahan dasar satin, dilapisi dengan brokat, dan dilengkapi dengan ankle strap dari pita satin yang bisa dililitkan. Mirip dengan sepatu balerina jadinya. Tetapi karena saya malas ribet, jadi pita tersebut lebih sering tidak saya gunakan dan saya pasang kalau memang sedang ingin memakainya. Harga sepatu ini, Rp300.000an.

Nine West…

2ninewestNwalmund…

Tinggi dan tersiksa? Awalnya! Banget! Terima nasib akibat kedua kaki yang pergelangannya pernah cedera saat tenis. Tetapi setelah sepatu ini beberapa kali dipakai, lama-lama sudah tidak menyakitkan. Mungkin karena sudah terbiasa. Sepatu ini saya beli di Maret 2011. Kali ini tanpa rencana, hasil hasrat dua perempuan pergi bersama ke pusat perbelanjaan, hasilnya seperti ini.  Dengan tinggi hak seperti gedung pencakar langit itu, tentunya sepatu ini lebih sering tidur manis di kotaknya yang biasa saya simpan di atas rak. Saya pakai hanya sesekali. Harga sepatu ini di atas Rp. 1.200.000.

Chasey…

Inceran lama ini cyyynnn. Walaupun yaaa…kembali kaki ini sedikit tersiksa di awal, tetapi tetap dounks saya bela-belain untuk memakainya. Khan lama-lama nyaman juga di kaki. Kisaran harganya sama-lah dengan si Nine West sebelumnya, yaitu di atas Rp.1.200.000.

Clarks – Costume Party…

ClarksWaaahhh…ini sepatu juga sudah saya incer sejak lama. Saya tahu persis kualitas sepatu merek ini. Kulit asli, sangat nyaman di kaki, dan tahan lama. Tidak akan menyesal membelinya, karena harga jualnya sebanding dengan kualitasnya. Dan harga sepatu ini di kisaran Rp.1.600.000.

Kalau ditanya apakah semua sepatu itu merek asli? Yup…they are original! Keren? I like it! Kalau saya tidak suka, tidak mungkin saya beli. Mahal? Kalau dilihat dari harga-harga yang tertulis di atas, memang mahal. Tetapi, saya beri tahu ya…sepatu yang saya beli dengan harga sama persis dengan yang tertera di sana, hanya si sandal dan flat shoes dari m)phosis. Selebihnya? Saya beli dengan menggunakan otak belanja yang cerdas ala Ocha *siulsiulsambilngelapsepatu

Intinya, jangan malas berputar-putar pusat perbelanjaan untuk riset terlebih dahulu. Dan sabar! Sabar menunggu ada budget! Sabar menunggu ada diskon, paling penting!!

Dan…sekali lagi…barang asli, cantik, dan ga malu-maluin!!

Sampai jumpa di edisi riviu belanja lainnya!!

*ciyumciyumsepatumahal *dilemparbakiak :mrgreen:

ps: tips tambahan niy…untuk yang kakinya mudah lelah, atau sering melewati medan perjalanan tidak bersahabat untuk sepatu, atau pulang terpaksa menggunakan kendaraan umum (taksi sekalipun), tetapi tetap ingin memakai sepatu hak tinggi, jangan lupa bawa flat-shoes atau sandal cantik untuk ganti. Sayang kakimu. Dan yang pasti, sayang sepatunya laaahh…

—-

Baiklah, gue bocorin harga belanjaan-belanjaan gue di atas, paling murah Rp.159.000 dan yang paling mahal Rp.779.000. Nice deal huh?

Their Story…

January 16th, 2012

12.37  @ Latte Art: aku lagi maksi. Dah makan? Mau ditemeni? | Boleh. Dimana? Aku masuk kompleks gedung sebelah kantormu. | Aku ke sana.

5 menit kemudian, @ Mangkok Putih: Hai | *with those licentious kisses on the edge of lips…

12.50 pm: Kamu meeting jam 1 khan? Ga akan keburu, makanannya lama. U eat this pisang ijo dulu aja, aku tadi beliin, sengaja, kalo kamu ga sempet makan gede. Pesenannya dibatalin aja. | Dibungkus aja, kamu bawa pulang. | Ya udah sekalian set bill.

13.00 : Dah jam 1, kamu naik ke atas, aku balik ke kantor ya. | *two kisses were landed on the edge of our lips for a couple of second, including “miss you” from him.

13.16 : Thanks ya, Dear | Sama-sama. With my pleasure. Good luck for the deal. Love seeing you today.

17.09 : Hai Babe. Done. Now going home. Thanks for the pisang ijo. It helps me to survive. | No worries, Darl.

——

Day after…

08.45 : Dear, hari ini sibuk ngapain? | Kenapa? Di kantor doank | Ngga apa. Hanya mau tau aja. I’m so happy seeing you yesterday. Yg ngga disangka-sangka gitu kan? | Hehehe. Samaa.

and…that’s their story…