Their Story…

January 16th, 2012

12.37  @ Latte Art: aku lagi maksi. Dah makan? Mau ditemeni? | Boleh. Dimana? Aku masuk kompleks gedung sebelah kantormu. | Aku ke sana.

5 menit kemudian, @ Mangkok Putih: Hai | *with those licentious kisses on the edge of lips…

12.50 pm: Kamu meeting jam 1 khan? Ga akan keburu, makanannya lama. U eat this pisang ijo dulu aja, aku tadi beliin, sengaja, kalo kamu ga sempet makan gede. Pesenannya dibatalin aja. | Dibungkus aja, kamu bawa pulang. | Ya udah sekalian set bill.

13.00 : Dah jam 1, kamu naik ke atas, aku balik ke kantor ya. | *two kisses were landed on the edge of our lips for a couple of second, including “miss you” from him.

13.16 : Thanks ya, Dear | Sama-sama. With my pleasure. Good luck for the deal. Love seeing you today.

17.09 : Hai Babe. Done. Now going home. Thanks for the pisang ijo. It helps me to survive. | No worries, Darl.

——

Day after…

08.45 : Dear, hari ini sibuk ngapain? | Kenapa? Di kantor doank | Ngga apa. Hanya mau tau aja. I’m so happy seeing you yesterday. Yg ngga disangka-sangka gitu kan? | Hehehe. Samaa.

and…that’s their story…

This Christmas…

December 25th, 2011

Setiap keluarga pasti punya kebiasaan atau tradisi. Termasuk tradisi menyambut dan merayakan hari raya agama yang mereka anut. Termasuk keluarga saya untuk menyambut dan merayakan Natal.

Hhhhmmm…lucu sebenarnya, kalau dibandingkan dengan keluarga lain. Atau aneh lebih tepatnya, atau apapun. Kebiasaan yang saya maksud itu adalah kebiasaan memasang pohon dan goa natal yang selalu dilakukan pada hari-hari terakhir menjelang Natal. Biasanya, keluarga lain mungkin sudah memasangnya sejak awal Desember, atau saat umat Katolik mulai memasuki masa Adven/masa pertobatan menjelang Natal.

Dan tradisi memasang pohon Natal mepet hari H, masih menjadi tradisi keluarga saya sampai tahun ini. Pohon natal baru berhasil kami dirikan di tanggal 24 Desember 2011, di pagi hari…

“Hah? Berhasil didirikan kata loe ‘Cha? Emang susah?”

“Susah memang! Hahahahahah.”

Apalagi ditambah urusan mencari ornamen-ornamen Natal yang entah mengapa, saat kami cari, selalu saja letaknya menjadi terpencar-pencar tak karuan. Aneeeehhh…padahal saat menurunkan si pohon setelah perayaan selesai, semua ornamen disimpan di tempat yang sama dan jadi satu. Tahun ini benda yang ‘berlari’ dari tempatnya adalah kaki-kaki si pohon *mungkin karena kaki jadi dia berhasil ngilang *haaalllaagghh. Alhasil tradisi mencari si bagian yang hilang kembali terjadi. Tiga orang; Mama, Papa dan saya selama dua hari berusaha mencari si 3 buah kaki si pohon, yang menjadi ‘organ’ utama, agar si pohon bisa berdiri, terpasang dan menjadi penghias rumah kami.

Pasti kalian nanya…

“Ketemu ‘Cha?”

Dan saya dengan pasti menjawab…

“Nggak. Hahahahaha. Nyerah.”

Seingat saya, tradisi ini kami lewatkan saat Natal tahun lalu, karena dengan sangat ajaibnya, semua ornamen masih rapi bisa bertahan di tempat yang sama dengan saat penyimpanan, selama kurang lebih 1 tahun, hingga kami butuhkan untuk dipasang kembali di Natal 2010.

Tapi saya bersikeras, kalau tahun ini, di rumah tetap harus ada pohon dan goa Natal, tak tahu bagaimana caranya…

“Beli baru? Saaayyyaaannggg…tuh pohon juga baru beli 4 atau 5 tahun lalu pun.”

Ternyata yang teteup kekeuh harus ada pohon Natal tahun ini di rumah, tidak cuma saya. Mama pun. Akalnya pasti ada saja…

“Saaa…turruunn…banguuun. Katanya mau anterin belanja.”

“Iyaaa…bentar.”

Dan tak lama kemudian, saya dengan mata yang masih belum sepenuhnya terbuka berusaha menuruni anak tangga untuk menghampiri suara yang memanggil tadi…

“Sini, pegangin dulu ini pohonnya.”

“Laahh…katanya gue disuruh anterin belanja.”

“Udah…bawel, nanggung. Pegangin dulu ini pohonnya.”

“Hahahaha…hebat loe Bu…pesulap sejati. Kenapa ga dari kemaren-kemaren, biar ga repot nyari tuh kaki.”

“Gue juga baru kepikiran sekarang. Khan gua tau elo maunya tetep ada nih pohon khan?”

“Yoa. Tadinya gue dah mau beli baru, Bu, tapi kok ya sayang. Nih pohon juga masih bagus and masih baru. Dan gue nunggu dirimu ngakalin.”

Ahhh…ini juga tradisi lainnya. Sudah beberapa tahun belakangan ini, saya dan mama memang jadi seksi repot untuk memasang pohon dan goa Natal.

‘Tragedi’ pohon Natal sudah teratasi, walau lampu penghiasnya masih missing in action, yang membuat saya terpaksa membeli yang baru.

Hari pun beranjak sore, hingga sudah saatnya kami bersiap-siap pergi ke gereja, untuk mengikuti puncak perayaan Natal dengan menghadiri Misa Malam Natal, yang kebetulan sekali, kali ini di Paroki saya dipimpin oleh Bapak Uskup Keuskupan Agung Jakarta.

Seselesainya kami mengikuti misa perayaan natal, saya mengecek telepon selular saya, bahagianya saya mendapati sekian pesan ucapan selamat natal dari teman, rekan kerja, keluarga, dan kenalan saya, baik yang dikirimkan melalui BBM, Twitter, maupun Facebook.

Jujur, saya selalu terharu saat mendapatkan ucapan selamat merayakan hari raya, dari mereka yang agamanya tidak sama dengan yang saya anut…

So at this occasion, from deep inside my heart, I would like to say thank you for your Christmas greetings to me. Especially from my Moslems and Non-Christian friends and colleagues. To my blogger and twitter fellows: @annadeas, devi eriana, si mbok, aditya bregas, my childhood best friend, my teenage best buddy, chichi utami, ichanx, goenrock, @neth_4, @ayu_2311, chika nadya. To them who sent greetings through my Blackberry Messenger (Personal and/or Group): Shanty, Diana Ekawati, William Sulivan, Rezty Atria, Rully Hariwinata, Dimas Donny dan semua yang lupa saya sebutkan, atau yang mungkin nanti akan mengirimkan ucapan ke saya, once more thanks! Appreciate it!

Semoga hal kecil seperti ini, masih bisa menjadi akar kuat untuk kita tetap menghargai pluralisme, yang salah satu caranyanya adalah menghormati sesamanya yang berbeda agama dan keyakinan yang dianut.

And to all my Christian friends, colleagues, family and acquaintances, I would like to say “Merry Christmas! Peace be with you and your family!”

Untuk teman-teman di dunia perhelatan twitter dan para blogger canggih, terima kasih untuk sharing cerita-cerita atau artikel menarik, seperti yang saya baca di saat Natal ini: Surat dari Nabi Muhammad SAW kepada Biarawan St. Catherine’s Monastery dan Selamat Natal, Kawan!

And Hey YOU UP THERE, my Lord, this year You give me perfect Christmas presents! Thanks!

Ibu Gue…

December 22nd, 2011

Selamat hari perempuan, untuk semua perempuan Indonesia…

Selamat hari ibu,…

Terutama ibu, para single-parent, yang bercinta dengan kerasnya hidup, tetap memberikan cinta pada sang buah hati, mengantar anak-anak mereka menuju pintu kedewasaan…

Terutama ibu hebat yang dipercayakan anak-anak berkebutuhan khusus oleh Tuhan, dengan dahsyatnya anugerah yang datang melalui mereka…

Terutama ibu, yang mengambil keputusan bersama suami, untuk mengadopsi anak, memelihara dan membesarkan dengan cinta tiada tara, walau anak itu bukan berasal dari rahimnya sendiri…

Terutama ibu, yang memutuskan untuk tidak mengaborsi janin mereka, walau sejuta beban psikologis di pundak, yang mungkin pada akhirnya membuat mereka harus merelakan si anak dibesarkan orang tua lain…

Dan terutama untuk ibu gue…hebat tiada tara lah loo, Mom! Ngajarin gue survive hidup, ngasih contoh gue gimana jadi perempuan harus smart. Bisa tetep percaya gue, yang sering jadi cewek super nekat, tapi elo tetep tau kalo anaknya yang ini…canggih (nekatnya)? :mrgreen: Dan di tengah omelan elo yang tiap hari gue denger, tapi masakan loe tiada cela. Di tengah omelan loo yang ga pernah absen dari hidup gue, tapi elo tau gimana bisa ngobrol ama anak perempuan loe satu-satunya yang super ajaib ini. Di tengah omelan loe yang membuat rame hidup gue, tapi elo ngga pernah bosen doain gue.

Anyway…gue cuma bisa bilang, thanks, Mom! Jangan lupa ya tetep mention gue di tiap doa. You never know how much I love you.

To all Moms in Indonesia…Happy motherhood…You are all great!

You taught me everything
Everything you’ve given me
I’ll always keep it inside
You’re the driving force in my life, yeah
There isn’t anything
Or anyone that I could be
And it just wouldn’t feel right
If I didn’t have you by my side
You were there for me to love and care for me
When skies were gray
Whenever I was down
You were always there to comfort me
And no one else can be
What you have been to me you will always be
You will always be the girl
In my life for all times
Mama, Mama you know I love you
Mama, Mama you’re the queen of my heart
Your love is like tears from the stars
Mama I just want you to know lovin’ you is like food to my soul
Yes it is, yes it is, oh, yes it is, yes it is, yes it is oh
You’re always there for me
Have always been around for me even when I was bad
You showed me right from my wrong
Yes you did
[ From: http://www.metrolyrics.com/a-song-for-mama-lyrics-boyz-ii-men.html ]
And you took up for me
When everyone was downin’ me
You always did understand
You gave me strength to go on
There was so many times
Looking back when I was so afraid
And then you come to me and say to me
I can face anything
And no one else can do
What you have done for me
You’ll always be, you will always be
The girl in my life, ooh oh
Mama, Mama you know I love you
Mama, Mama you’re the queen of my heart
Your love is like tears from the stars
Mama I just want you to know lovin’ you is like food to my soul
Never gonna go a day without you
Fills me up just thinkin’ about you
I’ll never go a day
Without my mama
Mama, Mama you know I love you
Mama, Mama you’re the queen of my heart
Your love is like tears from the stars
Mama I just want you to know lovin’ you is like food to my soul
Lovin’ you is like food to my soul, oh yeah
You are the food to my soul, yes you are
Read more: BOYZ II MEN – A SONG FOR MAMA LYRICS http://www.metrolyrics.com/a-song-for-mama-lyrics-boyz-ii-men.html#ixzz1hHRB2SEU
Copied from MetroLyrics.com

Kita…

December 20th, 2011

Kenapa Dia membuat kaki ini melangkah temukanmu…
Temukan langkahmu yang terhenti karenaku…

Kenapa Dia menghadirkan lucunya tatap matamu untukku…
Izinkan empat mata ini bercengkrama dalam binar…

Kenapa Dia memberiku hati untuk merasa…
Untuk berdegup kencang saat kau meraihku dan membawaku ke pelukmu…

Kenapa Dia mengirimkan sejuta tangkai mawar kepadaku…
Yang mampukan hati ini berbunga saat rindu kau ungkap untukku…

Kenapa Dia memberiku cinta…
Yang mampukanku membekukan sekujur tubuh ini, merelakan logika terserak, saat kau kecup bibirku, utarakan cinta dalam diam…

Kenapa Dia memberikanmu dalam hidup…
Menjadikan seribu tanda tanya, dalam jejak langkah…

Kita!

*Never Regret|Lesson Learned|Feel Blessed, Just Now in 2011*

Kakaknya Masuk Kelas…

November 30th, 2011

Seniority…What is in your mind if you hear that word?

Saya? Kata itu langsung membawa saya ke masa-masa zaman sekolah dulu. Terutama waktu saya SMA; saat saya harus memakai rok kotak-kotak kombinasi warna merah, hitam dan abu-abu dua hari dalam seminggu, berkauskaki setinggi lutut, dan tidak pernah disuguhi pemandangan murid laki-laki di dalam kelas, selama tiga tahun.

Enam hari pertama berada di sekolah itu, saya dan teman-teman seangkatan, wajib mengikuti masa orientasi sekolah. Masa pengenalan lingkungan sekolah untuk murid baru; termasuk pengenalan ‘budaya’nya. Salah satunya adalah ‘budaya’ senioritas yang saat itu masih sangat kental di sana.

Enam hari penuh teriakan yang terlontar dari mulut kakak-kakak kelas, dan disuguhi wajah-wajah jutek dari mereka, adalah pengalaman yang tak mungkin saya, lupakan.

“Nunduk! Matanya jangan belanjaaa!! Gak ada cowok di sini!”

“Kakaknya masuk kelas! Mana hormatnya!”

Penderitaan ternyata belum berakhir. Tidak hanya enam hari pertama harus saya lalui dengan orientasi yang satu itu. Masih berlanjut saat saya mendaftar ke salah satu kegiatan ekstra kurikuler, yang saat itu memang diwajibkan untuk siswa kelas 1. Saya dan teman-teman lain wajib kenal semua kakak kelas, terutama pengurus kegiatan ekstra kurikuler tersebut. Bagaimana caranya? Kami diwajibkan untuk mendapatkan semua tandatangan dari kakak kelas pengurus. Dan untuk mendapatkan tandatangan mereka, pasti tidak dengan cuma-cuma. Kami diminta melakukan sesuatu, baru mereka mau memberikan tandatangan di buku kami, dan di masa periode buku itu pasti diperiksa.

Sudah selesai sampai di situ? Hohohoh…tentu tidak. Ternyata urusan gencet-gencetan adik kelas, walau paling minimal hanya melalui tatap mata, dan pandangan jutek, masih berlanjut hingga di tahun kedua saya sekolah di sana. Dengan kata lain, sampai saya berada di kelas 3, menduduki singgasana tahta paling senior di sekolah, barulah saya terbebas dari rasa tidak nyaman karena senioritas.

Lucu kalau diingat; waktu saya kelas 1 SMA, saya paling malas jajan di kantin, karena malas urusan dengan senior, walau cuma disuruh membelikan makanan/minuman di kantin. Atau saat segerombolan kakak kelas itu berjalan melewati deretan kelas kami, serentak kami yang sedang duduk-duduk di depan kelas, memutuskan untuk langsung ngacir masuk ke kelas.

Tapi itu dulu, saat sekolah. Bagaimana kalau sekarang di tempat kerja? Masih perlu ga sih senioritas, apalagi yang bertujuan intimidasi dan menunjukkan kuasa ke rekan kerja yang lebih belakangan bergabung di perusahaan itu atau ke rekan kerja yang mempunyai posisi lebih junior?

Nyemplung di dunia perhelatan HR, saya pasti pernah menemukan tingkah laku-tingkah laku ‘ajaib’ mereka yang ada di sekitar saya bekerja. Though, sometimes, somehow tingkah saya pun dianggap ‘ajaib’ oleh mereka.

Senioritas di tempat kerja tentu perlu, terutama senioritas dari segi hirarki pemberi arahan/struktur organisasi. Akan tetapi kalau hal itu sudah melenceng ke arah untuk mengintimidasi/menunjukkan kuasa atas seseorang, apalagi jika orang itu berpikir juga bahwa ia lebih senior jika dilihat dari lamanya bekerja di tempat itu./dilihat dari segi usia. Kelar khan?

Yuukkk…mulai dilihat-lihat lagi, tingkah kita pernah bossy ga ke orang lain? Pernah ga kita berbicara dengan nada oktaf tinggi ke sekian kepada rekan kerja? Pernah ga kita menyuruh rekan kerja instead of meminta tolong? Pernah ga kita berbicara kasar ke rekan kerja? Pernah ga kita meminta orang lain untuk tidak menyalahi aturan, tapi kita sendiri sering menyalahi aturan dan jelas-jelas terlihat oleh orang banyak? *Yang sering dateng telat ke kantor, berarti ga boleh protes ya kalo orang lain telat, apalagi kalo udah telat terus tenggo, dilarang keras untuk protes…heheheh

Hhhmmm…kalau ditanya saya pernah melakukan itu semua atau tidak, saya akui, saya pernah melakukan itu. Tapi dulu, kalau sekarang pasti akan berpikir ratusan kali terlebih dahulu sebelum melakukannya, dan tentu keluarnya protes, adalah indikator bahwa sesuatu hal sudah keterlaluan menurut kacamata saya. :mrgreen:

Coming To You…

November 17th, 2011

“Flight attendants landing position”…

Hmmm…I’m coming to you, Dear. Just can’t wait to see your cute eyes, after two weeks.

—-

“Landed”

“I am here.”

“See you soon, out there.”

—-

“Hmmm…lama banget nih koper ga keluar-keluar.”

—-

“Where are you? Aku dah di luar sekarang.”

“He? Aku juga di luar.”

“Depan Starbucks.”

“Aku di depan Quiznos.”

“Aku ke situ.”

“Hahaha…now I’m in front of Starbucks.”

—–

Haaiisshh…rame bener…where are you, Babe, Why I can’t find you?

And not too long after that conversation…those two faces, those two smiles and those 4 eyes found each other…

“Hey, Babe!”

“Haaaiii…”

And two kisses were landed on cheeks…

“Wadduuhh, kamu masih pake baju kerja. Suaramu masih bindeng. Belum check-in?”

“Check-in siy udah, barang-barangku masih aku tarokh di concierge.”

“How are you? Tired?”

“Yup, but happy.”

“As usual. You always like that. Thanks for picking me up ya.”

“Bentar, antri taxi di sini khan ya.”

Suddenly those four eyes look each other, and their two heads are getting closer, until those two lips met for few seconds.

Me – Your Sparkling Eyes…

October 18th, 2011

Sayang,

Ini aku. Aku, yang kamu bilang sebagai kekasih hatimu. Aku yang kamu panggil, Cantik. Aku yang dari pertama kali kita bertemu sudah jatuh hati sama kamu.

Awal kaki ini menemukanmu di sana, adalah saat seluruh sangkal ada untuk kamu, untuk kita, dari aku. Saat seribu salah yang hadir, yang aku tahu tak akan pernah bisa membuat kaki kita melangkah menjauh. Hingga  jadikan aku mampu merasa segala rasa yang tak pernah tertulis nyata, dan membuatku kembali bersinar…

Thanks for reminding me to stay gold…

XoXo,

Me – Your Sparkling Eyes…

Seize upon that moment long ago
One breath away and there you will be
So young and carefree
Again you will see
That place in time…so gold

Steal away into that way back when
You thought that all would last forever
But like the weather
Nothing can ever…and be in time
Stay gold

But can it be
When we can see
So vividly
A memory
And yes you say
So must the day
Too, fade away
And leave a ray of sun
So gold

Life is but a twinkling of an eye
Yet filled with sorrow and compassion
Though not imagined
All things that happen
Will age too old
Though gold
(Stay Gold, By: Stevie Wonder, The Original Soundtrack of The Outsiders)

============

*written in my heart, published to the world, 18 October 2011*

May I Kiss You?…

October 8th, 2011

Sekilas melihat jejak langkah…
Saat dia mulai mengisi hari-hari…
Yang dalam hitungan purnama, memutar kaki ini lagi…
Melangkahi tapak demi tapak hari demi hari…
Masing-masing dan sendiri…

Hingga dalam tapak ke sekian, kaki ini temukanmu…
Saat empat mata ini bertaut…
Bercerita hati…
Kamu dan aku…

Seribu sangkal bahwa aku tak terjatuh…
Sejuta hindar agar aku berpaling…

Tapi rasa itu berkata lain…
Membuatku jatuh di pelukmu…
Berlomba dengan detik yang memacu detak jantung berdegup mengencang…
Berhias desah napas yang membawa hasrat bercampur cinta…

Saat semua sangkal berhambur dan terserak…

Saat hati terpaku sudah di sana…
Kamu!

*May I Kiss You? Airport, Minggu, 28 Agustus 2011*

Dari Lagu There You’ll Be, Ring Tone Kentut, Sampe Cewek Bernama S…

July 24th, 2011

Duduk di dalam Trans Jakarta, sambil ngeliatin orang-orang sekitar gue, yang satu pun ga ada yang gue kenal, membuat gue jadi inget twitter gue beberapa minggu lalu…

“Ga lagi2 jalan dari Katedral ke halte busway Istiqlal…ngeri dicekek orang dari belakang, gelap abis, mending jalan ke halte juanda, mentok2 ketabrak LOL”

Hmmm…emang gobloknya gue sih, yang nganggep jarak tempuh dari depan Katedral ke halte busway Istiqlal ini sama jauhnya kayak ke halte Juanda, yang membuat gue berjalan setengah berlari, sambil sesekali celingukan ke belakang, sambil komat-kamit dalam hati, berharap ga ketemu makhluk berwujud manusia lain yang berpikiran jahat sama gue.

“Never talk to a stranger!!”

Kalimat itu sejak kecil ditanamkan oleh bokap nyokab gue, dan sepertinya masih terngiang di kuping dan masih gue jalanin hingga saat ini, atleast gue akan menganalisa terlebih dulu, seberapa kadar “stranger”nya orang tersebut untuk gue.

Duduk di Trans Jakarta bersama penumpang lain yang sama sekali ga gue kenal alias semuanya orang asing, di mana ada kemungkinan bahwa di antara mereka ada yang bisa melukai atau membuat gue celaka. Dan kembali otak gue melihat kejadian-kejadian yang dulu. Kejadian mulai kelas 4 SD, gue minta ijin ke bokap untuk pulang sendiri naik angkot, dan nyokab marah-marah karena bokap bilang iya; masa-masa di mana nyokap gue walaupun naik bis tetep jemput gue ke sekolah, biar anak perempuan satu-satunya tetep ada temennya pulang sekolah; gimana happynya gue waktu bokap nyokab gue jemput ke sekolah di hari sabtu *itu ampe SMA loh. Intinya biar gue tetep aman sampe rumah.

Setelah gue inget masa-masa hidup cuma penuh ha-ha-hi-hi ama urusan percintaan ala monyet, gue keinget masa-masa udah sedikit lebih dewasa, yaitu saat gue bahagia bisa kuliah lagi di Psikologi. Tepatnya saat gue membaca satu buah buku, yang gue lupa buku apa (apalagi nama pengarangnya), tapi gue masih inget satu kutipan di dalamnya, yang kalo diterjemahin, isinya kurang lebih adalah seperti ini…

“Sebenernya manusia itu adalah survivor, karena mereka dekat sekali dengan bahaya. Dari lahir, bayi harus menyesuaikan perubahan dari rahim ke suhu tempat dia dilahirkan; saat keluar rumah ada kemungkinan ia tertabrak kendaraan lain, atau dijahati orang-orang di sekitarnya.”

Yupe. Bener banget. Salah satu tugas manusia hidup di dunia adalah bertahan hidup. Dari semua hal yang manusia hadapi di dunia. Named it lah! Melindungi diri sendiri dari kekerasan fisik? Pasti! Melindungi hati dari “kekejaman” sakit hati-sakit hati lainnya? Pernah ngerasain dapet nilai jelek/gagal ujian or pernah ngerasain patah hati, putus cinta dounks yaaahh??? :mrgreen: Bahkan saat kita ingin berperan jadi super hero untuk orang lain, yaitu usaha untuk melindungi mereka, yang sebenernya mungkin usaha untuk melindungi diri sendiri dari rasa sakit? *Ya..iya lah kalo ibunya, bapaknya, abang/adeknya or pacarnya kenapa-kenapa khan yang sedih kita juga pan?

Tapi gimana rasanya kalo di tengah kerumunan yang kita anggap sebagai orang asing semua, tiba-tiba ada satu atau dua orang yang kita tau/kenal? Waddduuhh…girang betul pasti rasanya. Sama seperti waktu dua hari lalu gue nunggu TransJakarta di halte Dukuh Atas, mau ngambil mobil yang masih terparkir manis di Kuningan, karena gue lebih memilih ke Katedral naik kendaraan umum ketimbang bermacet-macetan dengan mobil pribadi. Menunggu datengnya si TransJakarta koridor 6 ini gue ngeliat satu cewek berdiri di samping gue sambil mainan blackberry miliknya. Karena cewek ini setengah menunduk, jadi gue ga liat penuh mukanya, sampai dia bicara dengan teman di sebelahnya lagi. Suara itu terdengar familiar oleh gue. Dan gue pun menyapa perempuan itu dengan menjentikkan jari gue tepat di depan wajahnya. Seketika teriakan kami berdua pun membahana di satu halte busway tersebut. She’s my high school friend, yang kebetulan orang tua kami saling kenal sejak mereka kecil.

Bis yang kami tunggu pun akhirnya datang. Kami langsung menaikinya dan memilih posisi tempat duduk yang cukup enak untuk mengobrol. Dan setelah gue perhatiin satu bis itu hanya ada suara kami berdua. Hanya ada ketawa kami berdua, yang mengenang masa-masa jaman SMA yang sudah sekian tahun berlalu. Apalagi temannya si teman ini adalah junior 9 tahun di bawah kami.

Ya..ya..ya..masa-masa indah itu sudah hanya tinggal kenangan, masa-masa jaya yang hanya memikirkan hidup hari itu, memikirkan gimana bisa survive ulangan hari itu, bisa survive nyelesein berantemnya kita sama pacar jaman itu, bisa survive ga digencet ama senior, yang waktu itu masalah-masalah tersebut terlihat sebagai masalah besar. Tapi kalo dibandingin ama masalah-masalah sekarang?? Maannn…cupu lah itu semua. Intinya, bisa hidup sampai sekarang ikarena kita berhasil nemuin cara memecahkan masalah-masalah yang kita hadapi.

Talking about survivor, gue jadi inget satu temen. Apalagi pengalaman gue dua hari lalu dengan TransJakarta ini ngingetin gue ama manusia ini. Yah…dari si supir TransJakarta tiba-tiba nyetel lagu There You’ll Be, terus salah satu penumpang blackberry-nya make ring tone suara kentut, sampe si cewek yang ketemu gue tadi namanya sama kayak nama satu cewek inceran temen gue dari jaman dia SMP ampe kuliah, tapi kagak dapet juga, bahkan ditinggal kawin *assslliiikk gue ngakak dalam hati. Temen gue ini pernah ngirim broadcast message *tumben (ngirim) (gue baca), yang kurang lebih isi BMnya kayak gini…

“Human are like animal, they can survive by themselves. If you don’t feel like that, you will be wiped out by nature. I don’t want to be a loser? Do you?”

Yah…so true…we are all survivor…

I guess, God should be thankful to us who still want to survive in this fucking world?

And hey, you, there, my friend, my dear…who sent me that broadcast message, hopefully you’re not a loser, for yourself, in your own eyes, and/or in other’s sight! Including mine! :mrgreen:

i-survived

Tapi Seluruhku…(Puisi Singkat #33)

July 18th, 2011

Aku Ingin Mencintamu Hanya Dengan Separuhku..
Tapi Tak Dayaku Melawan Energi Rasa Yang Meruntuhkanku..
Tak Hanya Separuh..
Tapi Seluruhku..
Karenamu…

*Antara Kesel-Bingung-MauMarahGakBisa-Pasrah-Terserah-BodokhAmat!! Gak Mau Tau Kapan, 2011*