15 Tahun yang Menyenangkan

June 9th, 2014

Kino…

Nama itu diberikan oleh Mama untuk anak yang satu itu, dari hari pertama dia datang setelah Papa memutuskan untuk membawanya ke rumah dan kami adopsi. Hari itu adalah satu hari di bulan Oktober 1998. Dachshund, hitam dan bercampur putih pada beberapa bagian tubuhnya, bermata besar, kaki-kaki pendeknya diselimuti bulu berwarna cokelat, kontras dengan bulu badannya, sehingga dia tampak seperti menggunakan kaos kaki atau sepatu warna cokelat. Yet to mention this around 2-years-old-aged kid was very playful and friendly boy.

Ruang tengah kami selalu diramaikan dengan tingkah lucunya. Setelah satu tahun lebih Kino jadi penguasa tunggal ruang tengah, ia kami berikan satu teman lagi; another Dachshund; O’Neil. Dan jadilah mereka berdua bagai anak kembar, yang kemana pun mereka pergi, apapun yang mereka lakukan selalu berdua, kecuali saat salah satu dari mereka harus di rawat di klinik hewan.

Kino sempat beberapa kali dirawat di klinik hewan. Salah satu kelemahan Kino dari dulu adalah pernapasannya. Ia pernah saya titipkan di klinik untuk dirawat supaya dia bisa dinebulasi atau diuapi, kalau tidak salah 3 hari berturut-turut. Belum lagi tahun 2007, waktu saya menemukan adanya benjolan di perut bawahnya, dan setelah saya konsultasikan ke dokter hewan yang biasa menanganinya, dokter menganjurkan agar Kino dioperasi. Berat rasanya saya merelakannya untuk dibius dan menjalani operasi, mengingat umurnya yang sudah tidak muda lagi dan segala kemungkinan terburuk bisa saja terjadi, walau dari hasil pemeriksaan darah sebelum dia menjalani operasi, telah menunjukkan kondisi fisiknya yang memungkinkan untuk menjalaninya. Saya membawanya sambil saya ajak bicara bahwa Kino harus bantu dokternya dengan kondisi yang tenang supaya operasi dapat berjalan lancar dan Kino bisa siuman dan pulih. Dua jam menunggu di ruang tunggu bagai 2 hari lamanya, sampai akhirnya saya dipanggil dokter yang mengatakan operasi sudah selesai , dan saya tinggal menunggu Kino siuman. I made sure when he woke up, the first person he saw was me. And indeed, my brave boy was awake, walau masih sempoyongan.

Usia Kino semakin tua. Semakin banyak kejanggalan-kejanggalan fisik yang tidak dia keluhkan. Meskipun dia periang sekali dan bukan tipe anjing pengeluh, saya bisa menemukan kejanggalan-kejanggalan tersebut di badannya. Termasuk kembali saya menemukan benjolan lainnya di bagian tubuh yang berbeda. Kali ini di pantat kanannya. Kembali saya bawa Kino ke klinik hewan langganan. Dan dokter kembali menganjurkan untuk mengoperasi Kino. Pemeriksaan darah sudah dilakukan dan dokter mengatakan bahwa dari hasil pemeriksaan tersebut, Kino mampu menjalani operasi. Operasi sudah dijadwalkan minggu depannya. Dalam waktu seminggu tersebut, saya masih berkonsultasi dengan beberapa dokter hewan lainnya. Setelah konsultasi, saya mendapatkan kesimpulan bahwa operasi yang kali ini akan dilakukan merupakan operasi yang terbilang sulit. Bahkan ada satu dokter yang mengatakan bahwa ia tidak berani melakukan itu. Dan dokter lainnya mengatakan “Sebagus-bagusnya dan sesenior-senior dokternya, tetap yang menentukan hidup mati makhluk hidup adalah Tuhan.” Frankly speaking I agreed with that vet. Saya pun memutuskan untuk membatalkan rencana operasi untuk anak gendut yang satu itu…”Baru juga setahun lalu kamu operasi ya, Nak, masakh taun ini kamu operasi lagi. Kamu bisa kuat khan tanpa operasi?”

Empat tahun berlalu dari rencana operasi yang kemudian saya batalkan tersebut, Kino yang sudah sangat tua, dan kondisi kedua matanya sudah tidak berfungsi, tiba-tiba kehilangan keseimbangan, tidak bisa berdiri, berkali-kali terjatuh dan mengeluarkan liur berlebih, posisi kepala cenderung miring ke kanan. Hari itu Sabtu, 22 Desember 2012 malam hari. Sontak saya tidak bisa tidur di kamar dan hanya menemaninya di ruang tengah. Esok harinya saya periksakan Kino ke klinik hewan langganan. Dokter dan saya memutuskan agar Kino dirawat. Apapun kemungkinan terburuk yang akan dihadapi anak saya yang satu itu, sudah menghantui saya. Tapi entah mengapa, saya masih yakin, bahwa Kino saat itu masih bisa bertahan dan berhasil melawan penyakitnya.

Tiap hari saya sempatkan untuk menengoknya ke klinik untuk melihat perkembangan dan memberinya semangat hidup, walau kadang saya selipkan kata-kata untuk dia memilih masih ingin tinggal bersama kami sekeluarga atau pulang ke yang memiliki hidup. Kondisinya naik dan turun, kadang membaik, kadang kembali turun. Sampai kira-kira hari ke 4 dia di rawat, Kino sudah mau makan, walau harus disuapi dan BAB nya sudah baik. Hari ke 6 Kino dirawat, dia sudah bisa tegak berdiri dan sudah tidak terlalu sempoyongan berjalan. Dokter mengatakan kalau sudah bisa makan sendiri tanpa disuapi, Kino besok boleh pulang.  Itu pun yang saya katakan pada Kino, “Tuh Nak, kalo besok Kino dah bisa makan sendiri ga disuapin, besok kita pulang ya Nak.”

Keesokan harinya, saya dan mama, datang ke klinik, yang memang rencananya akan menjemput Kino. Seketika saya dan mama sampai klinik dan membuka pintu klinik, saya langsung berkata dalam hati, “Ya ammmppuuunn kamu kayak ga sakit deh, Nak. Brisik kung-kung-kung terus. Baru sadar kalo ditarokh di kamar terus ya dah seminggu,” langsung saya sedikit berlari ke arah kamarnya yang kebetulan memang ada di bawah. Dan begitu dia melihat saya, “Dah ga sabar pulang ya, Nak? Hebat kamu bisa sehat! Mami ngobrol sama dokternya dulu ya.” Begitu saya bertemu dengan dokternya, saya langsung mendapat laporan “Kino dah pinter tuh, mau makan sendiri, ga perlu disuapin lagi.” Saya bereskan urusan administrasi dan obat yang masih harus diteruskan di rumah, lalu saya gendong Kino ke mobil dan  pulang ke rumah.

Nyaris saya kehilangan Kino. Beruntung Kino masih mau berusaha untuk  survived. Walaupun karena stroke yang dideritanya, posisi kepalanya masih cenderung miring, dan Kino tidak bisa jalan lurus melainkan berjalan ke satu arah dengan membentuk lingkaran.

Membawa Kino ke rumah, berarti kembali kami yang mengurusnya secara total. Mengurus dengan kekhawatiran, “senam jantung” dan penuh cinta buat Kino. Hari pertama dia pulang, Kino masih mau makan tanpa disuapi, begitu pun keesokkan harinya. Tapi dua hari setelahnya, Kino membungkam mulutnya dan tidak mau makan dan minum sama sekali. Termasuk makanan kesukaannya yaitu daging ayam. Mendapati hal itu saya langsung menelepon klinik walaupun saya tahu bahwa poliklinik mereka akan tutup dan hanya melayani rawat inap. Saya menelepon dokter yang merawat Kino dan saya langsung membawa Kino kembali ke Klinik. Di klinik, Kino diberi obat pencahar, karena memang beberapa hari Kino belum BAB, mungkin karena kondisi kaki belakang yang belum kuat betul menahan tubuhnya yang harus jongkok dan mengejan saat BAB.

Hari itu adalah malam pergantian tahun ke tahun 2013. Saya sengaja tidak tidur di kamar, melainkan memilih untuk menggelar kasur lipat di ruang tengah di depan televisi untuk tidur sambil mengawasi  Kino, yang hingga pulang dari dokter belum juga mau makan. Namun keesokkan harinya, tepat di hari pertama di tahun 2013, Kino sudah kembali mau makan.

Kondisi seperti itu terus berulang, kadang Kino mau makan, kadang tidak, kadang perlu disuapi, kadang bisa makan sendiri, walaupun tiap pagi kalau Kino sudah bangun, pasti saya akan usahakan memasakkan makanan kesukaannya dan menyuapinya terlebih dahulu baru berangkat ke kantor. Di tengah sibuknya kerjaan kantor pun, saya sering bertelepon dengan mama untuk mengecek keadaan Kino. Sering anak itu terlewat manja, hanya mau makan dan disuapi oleh saya. Dia rela hanya makan saat pagi hari sebelum saya berangkat kantor dan menunggu saat saya sudah sampai di rumah, sepulang bekerja. ”Anakmu tuh ga mau makan sama aku. Udah aku suapi pake daging ayamnya aja juga masih ga mau,” kata-kata seperti itu yang sering saya dengar saat bertelepon dengan mama.

Saya tahu bahwa tubuh Kino tak selamanya kuat bertahan melawan sakitnya. Beberapa kali saya terdiam memandangi Kino yang sedang tidur enak krungkelan dengan adeknya, O’Neil sembari berpikir “Sampai kapan pemandangan indah seperti ini bisa gue liat. Ahh.. gonna miss these kind of things.”

Berjalannya waktu, sampailah di Maret 2013. Bulan di mana saya harus kembali merasakan hal yang tidak menyenangkan menjadi paw parent. Sabtu, 16 Maret 2013, Kino kembali kejang, kehilangan keseimbangan badan, disertai sesak napas, dan kehilangan napsu makan. Sebagai Ibu, saya sudah diberikan rasa bahwa saat ini adalah saat di mana saya harus mempersiapkan keadaan yang terburuk. Saya memutuskan untuk tidak merawat Kino di rumah sakit, walaupun saya tetap membawanya untuk agar Kino bisa diberikan cairan intravena. Dengan konsekuensi saya tidak bisa saat malam hari, karena saya harus terjaga sewaktu-waktu Kino membutuhkan pertolongan oksigen yang tabungnya sudah kami sediakan di rumah.

Selasa, 19 Maret adalah kondisi paling, paling, paling menyebalkan untuk saya. Oksigen sudah tidak mampu membuat Kino berhenti kejang. Liur mengalir tak henti dari bibirnya. Saya hanya bisa menenangkannya dengan menggendongnya dan meletakkan kepalanya di dekat jantung saya. Dengan disertai aliran air mata saya hanya bisa mengajak Kino mengobrol, “Kino dah ga kuat ya, Nak? Kalo Kino mau bobokh Mommy dah rela, Nak. Kino mau Mommy temenin atau mau ke dokter, Sayang? Tapi Mommy ga mau bantu Kino bobokh ya. Kita ke rumah sakit ya Nak sekarang, biar Kino dapet oksigennya.” Takjub saya dibuat oleh Kino, begitu dia mendengar kata rumah sakit, Kino berhenti kejang, dan dia bisa bernapas seperti biasa, walau saya tidak bisa menyembunyikan rasa sedih saya. Dan saya tahu persis, Kino pun merasakannya, dari detak jantung kami berdua yang saling berbicara, juga dari tetesan air mata yang membasahi wajah anakku yang sudah mendekati ajal.

Langsung saya SMS abang saya, memberitakan Kino akan saya bawa ke rumah sakit, kemungkinan kalau kejang kembali, kemungkinan saya akan meminta dokter untuk menidurkan Kino. Memenangkan logika kali ini sangat berat. Saya pun berdoa agar semesta berpihak pada kami. Kino akan pergi tanpa bantuan manusia.

Kami akhirnya memutuskan untuk membawa Kino ke rumah sakit. Abang saya pun akhirnya memutuskan izin dari kantor dan kembali ke rumah, untuk ikut mengantar Kino. Saya, Papa, Mama dan Abang saya, mengantar Kino ke rumah sakit langganan. Sepanjang jalan Kino bisa tidur tenang tanpa kejang. Mungkin dia nyaman berada di tengah keluarga yang sudah 15 tahun hidup bersama.

Sesampainya di rumah sakit, dokter yang menangani Kino berpihak pada saya, “Kita rawat aja ya. Tenang kok dia ga kejang lagi, ya Kino pinter?” Sesudah dinebulasi, dan kamar perawatan Kino disiapkan, Kino pun di rawat inap. Kali ini saya tidak membiarkan orang lain yang menggendongnya ke kamar. Saya antar Kino sampai di kamarnya. Selimut andalannya pun tak ketinggalan saya ikut sertakan.

Urusan Kino selesai hari itu. Saya pulang, mandi dan langsung menuju kantor. Setiap dua jam saya telepon dokter jaga. Dan kembali saya dibuat takjub oleh Kino. Kondisi Kino tenang, tanpa kejang sekalipun.

Malam hari sepulang kerja, saya sempatkan diri menengoknya kembali, walaupun Mama melarang karena sudah malam. Kondisi jalanan yang seperti biasa sangat macet, memaksa saya untuk menelepon rumah sakit dan memohon mereka untuk membukakan pintu  untuk saya, karena jadwal kunjungan rawat inap paling malam pukul 8.00 dan rumah sakit tutup pukul 9.00 malam.

Sesampainya saya di sana, Kino yang mendengar suara saya, langsung beranjak dari posisi tidurnya, dan menyambangi saya ke pintu kamar kecilnya. Ekornya pun tak lupa ia goyangkan, sembari menatap saya dengan mata tuanya yang sudah katarak dan sayu. Saya tahu bahwa itu mungkin ucapan selamat tinggal kepada saya.

Rabu, 20 Maret 2013, seperti biasa pagi hari saya berangkat ke kantor. Saya belum bisa mengunjungi Kino di rumah sakit, karena jadwal berkunjung dan menelepon untuk menanyakan kondisi pasien baru diperbolehkan pukul 10.00 pagi.

Rapat dengan klien hari itu menyebabkan saya terpaksa menunda untuk menelepon dokter. Seselesai rapat, yang saya ingat betul saat itu jam di tangan sudah menunjukkan pukul 11.00 siang, saya langsung mengambil telepon genggam saya, yang tadinya hendak menelepon dokternya menanyakan kondisi Kino, malahan saya mendapati pesan singkat dari dokter yang mengabari bahwa kondisi Kino menurun, kritis dan saat itu tim dokter dan paramedik sedang berusaha untuk membantu Kino dengan oksigen.

Belum sampai saya selesai mengetik balasan, dokter yang merawat Kino sudah menelepon saya, mengabarkan bahwa Kino sudah pergi, sudah tidur selamanya. Sedih? Pasti! Walaupun saya tahu persis bahwa Kino sudah bahagia, karena terbebas dari sakit.

Kami titipkan Kino di freezer di rumah sakit, sebelum kami jemput untuk kami kuburkan di rumah.

Dan hari Minggu, 24 Maret 2013, saya menjemput anak kesayangan yang gemuk, tapi kali ini sudah terbungkus rapi dengan kertas koran yang dilapisi kantong plastik, sudah beku dan kaku, “Ayo, Nak kita pulang yuk sekarang. Kino bobokh di rumah ya, sama temen-temen lain ya, Nak.”

=======

Ahhh..ternyata kamu ga mau nyusahin Mommy ya, Nak. Kamu ga mau liat Mommy sedih saat kamu pergi. Till we meet again, Kino Sayangku!

Kino, si gendut berbulu hitam, di hari-hari terakhir hidupnya pun masih tidur kruntelan dengan adek kesayangannya, O'Neil...

Kino, si gendut berbulu hitam, di hari-hari terakhir hidupnya pun masih tidur kruntelan dengan adek kesayangannya, O'Neil...

Aku, Kamu dan Dia…(2)

February 25th, 2013

“Dania! Dan!”

“Woooii…dah beli tiket loe, Ti?”

“Udin. Makan dulu kita?”

“Masih sempet ga yak? Ga telat nontonnya ntar?”

“Masih, kalo yang masak kagak pake lama. Gimana percintaan?”

“Yah, masih runyam seperti biasa.”

“Sama sapa loe sekarang?”

“Sama kayak elo. Sama laki orang.”

“Bwahahahaha…senasib kita.”

“Sepertinya.”

“Manah sinih liat potonya. Ketemu di mana loe?”

“Singapore. Trainer gue. Juli tahun lalu.”

“Udah ngapain aja loe sama dia?”

“Udah ke Singapore lagi gue sama dia, tengah November kemaren.”

“Berdua doank?”

“Ya iyalah masakh sama bininya. Nah elo? Sama tuh laki gimana?”

“Masih asik-asikan lah gue. Tiap pagi dia mampir ke rumah. Biasa, quickie sebelom ngantor.”

“Gila loe ya. Berani juga loe ya satu kantor begono, satu divisi pulakh.”

“Pernah gue ciuman di tangga darurat.”

“Huahahaha…serius lu?”

“Serius!”

Esti, manusia kampret yang tak tahu kenapa dari dulu selalu menghampiriku untuk urusan kuliah. Berasa jadi asisten dosen sepanjang masa untuk dirinya, bahkan sampai dia mempersiapkan tugas akhirnya. Bicara dengan sahabatku yang satu itu sering ga perlu pake otak. We can say anything. Just throw up and put everything on the table. Termasuk urusan percintaan. Yang sama-sama sedang menjadi kekasih suami orang. Apa memang yang seharusnya ga boleh itu lebih menantang? Yah…it is, setidaknya untuk aku.

Hmmmm…jadi ingat kepergianku November lalu ke Singapura dengan Mas Chandra. Ini ke tiga kalianya dia mengajakku untuk menemaninya bepergian ke luar negeri. Dua ajakan sebelumnya aku tolak, karena memang sedang tidak memungkinkan. Yahh…pekerjaannya memang sering membuatnya pergi ke luar negeri, setidaknya hingga akhir tahun lalu…

“Eh Babe…aku tengah November nanti ke Singapur.”

“Asik, aku mulai nyari tiket ya. Eh bentar…you want me to come or not?”

“Mau dong.”

“Tapi kamu bakal sibuk banget bukan selama di sana?”

“Sesinya khan cuma sampai sore, malemnya kita bisa nonton or makan malem bareng.”

Konfirmasinya membuatku akhirnya memutuskan ikut pergi dengannya. Kembali menikmati Singapura, dan kali ini hanya berdua. Akan menyenangkan sepertinya.

Tiket pesawat segera kubeli melalui on-line. Dan kali ini dia membiarkan aku untuk memesankan hotel manapun seperti yang aku mau, termasuk memberikan nomor kartu kreditnya lengkap dengan security number-nya.

“Haaah…all done…tiket and urusan hotel beres. Tinggal berangkat.”

Hari yang ditunggu-tunggu pun datang. Kami tidak satu pesawat. Tidak saat berangkat, ataupun tidak saat kembali.

Dan bahagianya tak terkira saat aku menemukannya di Changi, saat dia menjemputku…

“Hey Babe!”

“Hai, Darling. Here I am, with you.”

And we started journey of 3 days 2 nights of ours by kissing in the middle of the crowd at Changi.

___

to be continued…

This Year’s Thank You…

February 18th, 2013

Thank you for all birthday wishes…

And thank you, hey you there who make it still special for us, this year…

IMG-20130219-00432 edited

Thank you for present…

Thank you for Sushi Tei-ing in the middle of your very tight schedule…

Thank you for the card…and those words!!!

Sementara…

December 4th, 2012

Aku hanya bisa merunduk pada rasa…
Turuti maunya…
Walau berulangkali seribu tanya ‘haruskah’ ku lontarkan pada semesta…

Sejuta bantah yang kucoba rangkai, kembali terserak…
Membuatku terbungkam lagi dan lagi…
Sadarkanku bahwa rasa itu tak juga pergi…

Jangan pernah mintaku untuk berhenti mencintamu…
Karena aku tak tahu bagaimana lagi harus membencimu…
Walau t’lah kucoba…

Dan semesta pun mengangguk…
Buat hatiku mengarah padamu…
Mintaku hentikan tanya…
Mintaku nikmati semua…
Mintaku menggenggam rasa itu…
Tuk dampingi hari-harimu…

Walau hanya dari jauh…

Sementara…

Aku, Kamu dan Dia…(1)

August 21st, 2012

“Ooohh, Sweetheart…you’re a good kisser.”

“I know, just enjoy it, Babe. Coz I’m gonna kiss every inch of your face now. ”

“Your kiss is so licentious. Oh gooosshh you arouse me. Baby, I know that you are good on bed since the first time I saw you.”

“Look who’s talking!”

“Oooohh…you’re so good. Feel it, Babe!! Feel the sway. Ooooohh mmyyy…can I do this inside? Touch mine, Dan. Help me. My stomach is getting tense.”

“Where have you been, Mas?”

“You’re too late.”

“Actually we’re too late.”

Aaaaannnndddd shit…this caffeine shot makes me realize kalau aku kembali terperangkap di percintaan seperti ini lagi dan lagi dan lagi. Entah sudah berapa hari aku di sini, duduk, menenggak kopi, dan selalu tersadar akan cerita kehidupan absurd yang sedang aku jalani, tapi tetap tidak mengubah statusku sekarang. Status yang sudah beberapa bulan ini aku sandang. Statusku sebagai wanita lain. Aku, Dania, si masokis sejati.

Haaiisshh…untungnya kemarin masih disadarkan dengan bunyi telepon dari istrinya yang membuat aku dan Mas Chandra beranjak dari sofa, tempat kita kedubragan penuh napsu, kalau saja tidak, ga kebayang apa yang terjadi selanjutnya.

Yaahh…kisahku dengan Mas Chandra berawal di akhir Juli lalu. Di ruangan sebuah hotel. Di kelas pelatihan. Saat kantor mengirimku pergi ke Singapura untuk mengikuti training. He was my trainer saat itu.

Dari pertama kali aku melihatnya, aku tahu bahwa dia adalah titik lemahku. Smart-good looking guy, dan membuat aku penasaran.

Dan ternyata bukan cuma aku yang merasakan hal yang sama. He felt it, and I just knew it. Terlihat dari pandangan matanya yang ga pernah bisa pergi lama-lama dari aku, saat ia memimpin sesi.

Masih jelas bayangan saat ia melangkah menuju ke arahku, duduk di sebelahku dan memulai perbincangan, yang dimulai dari basa-basi layaknya orang pertama kali bertemu, sampai akhirnya…

“Hmmm…I need your PIN BB.”

“Boleh, but I don’t give my PIN BB ke sembarang orang. So please, jangan kasih ke orang lain without my permission.”

“Likewise ya.”

Gooossshh…gimana aku bisa nolak dia, he’s damn smart and handsome guy. I fell in love with him, since the first time I saw him. Tambah pulakh sekarang I know that he’s a very good kisser, I can’t say no to him, to his lips.

“Danniaaa! Bengong aja luuu. Tuh gelas kopi dah abis masih aja di pegangin.”

“Ehhh…dentist bocor…ngapain lu disini?”

“Mau ngopi lah.”

“Gimana urusan hati? Beres?”

“Gue ngikutin elo lah, Dan. Kalo elo sembuh, gue ikutan sembuh.”

“Masih lamaaaa deh, Ran.”

“Masih lu deket ama Chandra?”

“Masih. And just realized gue ga bisa jadi pechun sejati, Ran. Berkali-kali gue bilang ke gue sendiri ga boleh ada hati, tapi akhirnya memang gue sayang ama dia. Gak bisa tuh gue ciuman ama orang tanpa main perasaan.”

“Yaaakkkeeeennn cuma ciuman?”

“Prrrrreeettt! Siaaall lu aaahhh. Eh dah jam berapa ini, gue mesti ngantor.”

“Halah kantor tinggal jingkring aja lu dari sini.”

“Praktik jam berapa lu?”

“Jam 8 sih, tapi pasiennya baru 2 yang dateng, biar dulu mereka nunggu.”

“See you when I see you ya.”

“Bye, Dan.”

That was Rani, my high school mate. Perempuan yang sempat aku sebal, karena mantan pacarku jaman dulu, pernah aku pergoki sedang berduaan dengan dirinya. Tapi rasa kesal itu sudah beralih dengan adanya cerita-cerita seru nan tolol yang kami jalani. Sama-sama menjadi orang ke tiga. Sama-sama menjalani tangis bombay, tapi sama-sama tidak mau menyudahi. Sama-sama sedang mabuk kepayang dengan cinta yang sampai saat ini kami berdua belum tahu apakah cinta palsu atau cinta sesungguhnya. Atau malah mungkin hanya sebuah pelarian? Hmmm…interesting. We will find it out my dear friend. We will.

———-

Sampai juga aku di kantor yang sudah mulai menyebalkan ini. Hmmm…anyway, kalo ga gara-gara nih kantor plus bossku yang lagi super kecentilan, ngedeketin aku, trus ngirim aku training ke Singapura, ga mungkin aku ketemu Si Ganteng nan pinter itu.

Trrriinnggg…

Eh…ada BBM masuk…hihihi…pasti si ganteng…

“Hi, Cantik.”

“Hi, Ganteng.”

“Dah sampai kantor? Huuhh…masih kebayang kamu tadi malam. Sexy banget…duduk di meja dengan rok terusan kamu yang atasnya sudah setengah melorot. Kamu cantik banget, Sayang.”

“Ya, ampun sayang, ngobrol ama kamu kayak gini di BBM aja, udah aroused me. You were so damn good. What are you made of?”

“Mass, liquid and air.”

“Yeah rite. What did you do to me?”

“I didn’t do anything.”

“Don’t believe you. Hehehehe. I miss those cute eyes.”

“I miss your sparkling eyes.”

“Kalo aku inget-inget ya, bisa-bisa loo aku ketawa.”

“Kenapa ketawa?”

“Ya iya lah aku ketawa. Kita udah ketahap kayak gini khan dulu kurang dari tiga bulan.”

“Maassssaaakkhh?”

“Hmmm…bukan 3 bulan malah, less than 2 months.”

“Iya ya? Gilakh!

“From training in the room, up to kissing in the room also. Hahahahaha.”

“Hahahahahaha..from back to front. From Miss Dania to miss you much.”

“From Sir to Mas.”

“Hahahahahahahahahaha. Btw, aku seneng banget loo, waktu kamu meluk aku sambil narokh kepala kamu di pundakku, and call me with Mas.”

“Kenapa? Berasa manja and mesra ya? Padahal aku bukan orang yang romantis lo.”

“Ragu aku, kalo kamu bukan orang romantis.”

“Hehehehe…masakh? Miss you so much, Handsome.”

“Samaaa…”

Gimana coba aku bisa ngelepasin Mas Chandra? He changes my life a lot. Apalagi bayangan apa yang kami lakukan tadi malam, di atas meja kerja di ruang kerjanya, masih terus menari-nari di kepalaku. Telaaat…telllaaatt…kemana aja gue…kemana aja si loh, Mas? Ah…ya sudah lah…waktunya fokus kerja.

—-

to be continued…

In 1…2…3…

April 10th, 2012

“Kalo aku bilang sesuatu sama kamu, kira-kira kamu marah ga ya?”

“Apa tu?”

:mrgreen:

“Boarding. Tadi apa yang mau diomongin?”

“Ntar begitu landing langsung nyalain hp ya.”

“Lhaaa…sekarang ajaaa.”

“Ok. Aku nunggu kamu di airport ya…dah sampai.”

“He? Lho? Haha. Ga marah lah Babe. Tapi cape kamu khan.”

—-

“Landed”

“I know.”

:mrgreen:

She was sitting there, on that chair in that restaurant, busy with her smartphone, waiting her love one who just landed. And not too long until she felt there was someone starring not far from her. In a second her head was up and her eyes found those cute ones. Their lips smiled each other, and in one…two…three second, they met in one kiss on each other.

“Cape? Kamu pilek?”

“Ga. Hanya perubahan dari panas, AC, ke panas lagi.”

“Yuk.”

“Where did you park the car?”

“In the parking lot.”

“I know, but where?”

“Little bit far from here. You want to wait here and I get the car, or?”

“No, no problem, let’s walk together. But wait, I take off this jacket first. You’re so nice.”

“Nice in terms of what? Surprisingly picking you up, or?”

“With new hair cut, and your style like that. That knee-length dress with blazer, winter stocking and that ankle boots.  Gorgeous.”

“Thank you.”

—-

“Nanti kamu aku anterin sampe depan rumah sakit di kompleks itu ya. Biar aku ga terlalu malem.”

“Sampe rumah aja.”

“Ga papa juga sih. Serius?”

“Eh ga usah deh, dah malem.”

And someone’s hand grabbed hers, stopped her to change the gear. Stop her to make that car moving. She looked at that hand. Then looked at someone; the owner of that hand. Then those eyes starred each other. They were getting closer, and they closed, when their mouth met. And those sweet kisses…

—-

Tonight, we are young, so let’s set the world on fire…

Thank You…

February 18th, 2012

To all of you…I just want to say…

Thank uYou make me have these wonderful years…

—-

And you also my dear!! For sure…

hpybday

…you REALLY made my days…

bdaywish

…love it…love you!!…

45 Minutes…

February 14th, 2012

Around 3.30 pm…

Tim baru pada bermunculan | Yah..ga bisa pulang jam 5an dounks? | Paling jam 6an lah dari sini | Abis itu ada acara? | Ngga

4.30 pm…

Still at PS? | Masih di PS…

5.19 pm…

Aku ke sana. Give me only 10 minutes, kalo kamu bener-bener ga bisa. I just want to give you something.

6.19 pm…

Here already at PS. Lemme know when you’re done, and mau ketemu di mana.

6.20 pm…

I am free now. As usual I’m lost when you give me an option of  “anywhere”

And a second later, these eyes found him walking in front of me…

Heeii… | Haaii… *and those kisses…hmmm… | Happy Valentine | Haallaaagghh…Kamu mau langsung pulang? | Sepertinya | Kok, kayaknya sama aja berat badanmu | Enak aja, turun 5 kilo ini | Eh iya dink, masih terlihat ga sehat | Kamu juga, mukanya kayak super capekh gitu | I am. By the way, aku cuma mau ngasi ini, bookmark | Ehh..lucunya | My friend made it | Yuk, kita ngobrol bentar | Loh, katanya mau langsung pulang, but to be honest aku haus banget sih | Ga papa lah 10 – 15 menit. Bakerz In? | Penuh | Nanini? | Bawah aja yuk | Oh ya De Luca or Monolog |

And here we are, at Monolog, for wonderful 45 minutes. Looking at your eyes, your glowing-cute-eyes when you are sharing your works, your passion and your dream…again…

45 minutes. Cinta. Aku. Kamu. Tanpa dia. Tanpa mereka. Tanpa bb. Listening to your story. Looking at your glowing-cute-eyes. Though only with a glass of Ice Lychee Tea and yogurt in our hands. Love it!

Love you…Happy Valentine’s Day…

—-

fucklentine4

7.07 am  Happy Valentine dear | Happy Valentine’s Day for you too, Mon Cher…

Rindu Kamu!!!…

February 6th, 2012

IMG-20120206-00074 2Salah ya, kalau aku mencintaimu dengan seluruhku? Salah, kalau sejak pertama aku melihatmu aku sudah jatuh cinta padamu? Walau sejuta rasa aku libas dengan rasa gengsiku yang aku lipatgandakan, agar binar mata ini tak mengatakan apapun ke kamu. Namun sepertinya, isyarat darimu terlalu kuat untuk aku abaikan. Isyarat lucu cahya matamu yang bicara padaku, kalau kamu pun ternyata menginginkanku. Dari sejak itu.

Hari demi hari perlahan aku biarkan diri ini semakin mendekat padamu.

Saat kamu jadikan aku sapaan pagimu, dan mimpi malammu. Saat kamu selipkan cerita hidupmu di hari-hari sibukmu. Saat kamu jadikan aku bagian mimpimu nanti. Saat bayangan kita, bersama, yang terpampang jelas di pandangan mata kita berdua, di sekian juta detik di kemudian hari,  yang akan menghampiri langkah hidup kita. Saat itu akan terjadi, adalah bahagiaku, bahagiamu juga. Kelak.

Ahh…jadi ingat saat kita habiskan waktu menikmati Sushi di sebuah restoran Jepang. Pertamakalinya kita makan malam bareng. Tak ada habisnya kamu ceritakan tentangmu. Dengan segala ceria yang jadikan itu adalah kamu. Atau saat sore-sore kita duduk di sofa itu, kamu cerita semua mimpimu. Bayangan bahagianya kamu, yang lagi-lagi terlihat jelas di sinar matamu yang tak pernah berhenti membuatku gemas. Dan tak ada habisnya kamu membuatku tersenyum. Sofa yang jadi saksi ketawa-ketawa ngakak dan kedubragannya kita berdua. Sore yang ga mungkin aku lupakan.

Kamu sudah buatku mampu melepas seribu topeng. Dan giliran sekarang, sejuta gengsi diri yang aku libas. Menjawab segala tanya dan ajakanmu dengan satu per satu kata ‘ya’ yang keluar dari bibir ini, pun dari tingkahku.

Kamu tau ga sih, kalo kamu sudah membawaku berada di titik di mana aku berdiri sekarang? Titik tumpah ruah segala rasa yang tak mungkin lagi terdefinisikan. Bermula ketika kamu tanyakan izinku untuk memelukku, membiarkan ungkapan cinta semakin terungkap dalam kecupan dua bibir ini yang bertemu, yang kemudian berdansa dalam hitungan sekian menit. Hati ini milikmu sudah, Sayang.

Coba inget deh, tak ada satu pun permintaanmu yang luput dari usahaku agar mereka tersuguh di depanmu. Cuma biar aku bisa terus melihat senyummu dan centilnya mata lucumu, karena kamu bahagia. Biar kamu selalu bisa rasakan bahwa aku ada untukmu. Dan biar aku bisa rasakan dekapanmu yang menghadirkan sejuta rasa bahwa ‘kamu memang nyata’. Mencintaku, seperti katamu.

Sekarang, sekian lama sudah kamu dan aku jalani ini semua. Meniti hati dan berdansa dengan tawa, tangis dan rasa sakit yang silih berganti datang dan pergi.

Aku ga perlu fisikmu ada di depanku setiap hari, Sayang. Aku hanya perlu tahu kalau hatimu ada. Untukku. Seperti janjimu. Dan bukti yang kamu hadirkan hingga saat ini. Yang masih jadikanku yang penting di hidupmu.

Tapi, saat ini…aku rindu kamu! Banget!

selama aku mencari
selama aku menanti
bayang-bayangmu dibatas senja
matahari membakar rinduku
ku melayang terbang tinggi

bersama mega-mega
menembus dinding waktu
kuterbaring dan pejamkan mata
dalam hati kupangil namamu
semoga saja kau dengar dan merasakan

getaran dihatiku
yang lama haus akan belaianmu
seperti saat dulu
saat pertama kau dekap dan kau kecup bibir ini
dan kau bisikan kata-kata ku cinta padamu

peluhku berjatuhan
menikmati sentuhan
perasaan yang teramat dalam
telah kau bawa segala yang kupunya
segala yang kupunya ouoooo

getaran dihatiku
yang lama haus akan belaianmu
seperti saat dulu
saat pertama kau dekap dan kau kecup bibir ini
dan kau bisikan kata-kata aku cinta padamu ooho kepadamu

Original But Expensive? Use Your Brain Then…

February 5th, 2012

Hmm…tulisan kali ini adalah waktunya untuk pamer hasil berburu sepatu.

Berhubung saya sudah mulai sedikit insaf untuk urusan belanja, dengan kata lain belanja kalau sudah benar-benar perlu barang tersebut, maka hasil perburuan di bawah ini adalah hasil perburuan yang saya lakukan antara April 2011 sampai dengan Januari 2012. Dan itupun, setelah tujuh pasang koleksi sepatu saya sudah waktunya dipensiunkan.

Crocs – Women’s Melbourne…

crocsTo be honest, saya tidak terlalu suka dengan model-model sepatu merek keluaran Crocs. Tetapi mengingat sepatu-sepatu merek ini cukup nyaman di kaki saya (terutama untuk jalan jauh), maka saya pun punya beberapa sepatu merek Crocs. Dan favorit saya, Crocs yang satu ini; Tipe Melbourne. Bentuknya masih cantik di kaki; nyaman pasti, tidak mudah kotor, kalaupun kotor sepertinya mudah untuk dicuci. Harganya sekitar Rp.700.000an.

m)phosis…

2mphosisFlat shoes dan sandal andalan saat saya tidak perlu memakai sepatu tinggi, adalah merek yang satu ini. Dan dua benda ini sudah menemani saya jalan-jalan ke luar negeri.

Sandal keluaran merek ini adalah langganan jadi inceran, dari zaman sandalnya masih Rp.99.000, sampai sekarang yang rata-rata sudah di atas Rp.150.000. Termasuk sandal berbahan beludru ini, yang berharga Rp.159.000 (kalau tidak salah ingat :lol:).  Saya beli bulan Agustus 2011, setelah sandal m)phosis saya sebelumnya, yang baru saya beli di Februari 2011, direbut seekor monyet waktu saya mengunjungi Kintamani Monkey Forest bulan Mei 2011, dan monyet itu berhasil membuat saya jalan kembali ke mobil tanpa alas kaki *dilarang ketawa! *hihihi.

Sedangkan flat shoes-nya berbahan dasar satin, dilapisi dengan brokat, dan dilengkapi dengan ankle strap dari pita satin yang bisa dililitkan. Mirip dengan sepatu balerina jadinya. Tetapi karena saya malas ribet, jadi pita tersebut lebih sering tidak saya gunakan dan saya pasang kalau memang sedang ingin memakainya. Harga sepatu ini, Rp300.000an.

Nine West…

2ninewestNwalmund…

Tinggi dan tersiksa? Awalnya! Banget! Terima nasib akibat kedua kaki yang pergelangannya pernah cedera saat tenis. Tetapi setelah sepatu ini beberapa kali dipakai, lama-lama sudah tidak menyakitkan. Mungkin karena sudah terbiasa. Sepatu ini saya beli di Maret 2011. Kali ini tanpa rencana, hasil hasrat dua perempuan pergi bersama ke pusat perbelanjaan, hasilnya seperti ini.  Dengan tinggi hak seperti gedung pencakar langit itu, tentunya sepatu ini lebih sering tidur manis di kotaknya yang biasa saya simpan di atas rak. Saya pakai hanya sesekali. Harga sepatu ini di atas Rp. 1.200.000.

Chasey…

Inceran lama ini cyyynnn. Walaupun yaaa…kembali kaki ini sedikit tersiksa di awal, tetapi tetap dounks saya bela-belain untuk memakainya. Khan lama-lama nyaman juga di kaki. Kisaran harganya sama-lah dengan si Nine West sebelumnya, yaitu di atas Rp.1.200.000.

Clarks – Costume Party…

ClarksWaaahhh…ini sepatu juga sudah saya incer sejak lama. Saya tahu persis kualitas sepatu merek ini. Kulit asli, sangat nyaman di kaki, dan tahan lama. Tidak akan menyesal membelinya, karena harga jualnya sebanding dengan kualitasnya. Dan harga sepatu ini di kisaran Rp.1.600.000.

Kalau ditanya apakah semua sepatu itu merek asli? Yup…they are original! Keren? I like it! Kalau saya tidak suka, tidak mungkin saya beli. Mahal? Kalau dilihat dari harga-harga yang tertulis di atas, memang mahal. Tetapi, saya beri tahu ya…sepatu yang saya beli dengan harga sama persis dengan yang tertera di sana, hanya si sandal dan flat shoes dari m)phosis. Selebihnya? Saya beli dengan menggunakan otak belanja yang cerdas ala Ocha *siulsiulsambilngelapsepatu

Intinya, jangan malas berputar-putar pusat perbelanjaan untuk riset terlebih dahulu. Dan sabar! Sabar menunggu ada budget! Sabar menunggu ada diskon, paling penting!!

Dan…sekali lagi…barang asli, cantik, dan ga malu-maluin!!

Sampai jumpa di edisi riviu belanja lainnya!!

*ciyumciyumsepatumahal *dilemparbakiak :mrgreen:

ps: tips tambahan niy…untuk yang kakinya mudah lelah, atau sering melewati medan perjalanan tidak bersahabat untuk sepatu, atau pulang terpaksa menggunakan kendaraan umum (taksi sekalipun), tetapi tetap ingin memakai sepatu hak tinggi, jangan lupa bawa flat-shoes atau sandal cantik untuk ganti. Sayang kakimu. Dan yang pasti, sayang sepatunya laaahh…

—-

Baiklah, gue bocorin harga belanjaan-belanjaan gue di atas, paling murah Rp.159.000 dan yang paling mahal Rp.779.000. Nice deal huh?